Tujuan Penghitungan Fisik Barang Dagangan Adalah Untuk

Tujuan Penghitungan Fisik Barang Dagangan Adalah Untuk




MAKALAH AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH 1

PERSEDIAAN BARANG DAGANG

Disusun Oleh :







PRIHATIN

Dosen Pengampuh:





RANI MUNIKA,SE.Ak



Prodi/Semester : Akuntansi (Lokal Three A)


SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI (STIE) – BANGKINANG


TAHUN AKADEMIK 2015/2016

Jl. Dr. A. Rahman Shaleh No. 54 A Bangkinang

Website: stiebangkinang.ac.id


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………………….

………..
i

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………………….

………..
two

BAB I PENDAHULUAN

1.i.  Latar Belakang Masalah……………………………………………………………….

………..
1

1.2.  Rumusan Masalah……………………………………………………………………….

………..
1

1.iii.
Tujuan Penulisan……………………………………………………….


2

BAB II PEMBAHASAN

2.ane.  Pengertian Persediaan Barang Dagang………………………………..
three

2.ii.  Klasifikasi Persediaan Barang Dagang……………………………………….
….
five

2.3.
Konsep Persediaan Barang Dagang……………………………………
6

2.iv
Pencatatan dan Pelaporan Persediaan Barang Dagang………………..
eight

2.v
Contoh Kasus…………………………………………………………

thirteen

BAB III PENUTUP

iii.1.    Kesimpulan……………………………………………………………………………
…..
18

3.two.    Saran
……………………………………………………………………………………
…..
eighteen

DAFTAR PUSTAKA


BAB I


PENDAHULUAN


11.one




Latar Belakang

Pengendalian persediaan merupakan fungsi manajerial yang sangat penting, karena persediaan fisik banyak perusahaan melibatkan investasi rupiah terbesar dalam pos aktiva lancar. Bila perusahaan menanamkan terlalu banyak dananya dalam persediaan, menyebabkan biaya penyimpanan yang berlebihan, dan mungkin mempunyai “opportunity cost” yang lebih besar. Demikian pula, bila perusahaan tidak mempunyai persediaan yang mencukupi, dapat mengakibatkan biaya – biaya terjadinya kekurangan bahan.

Persediaan adalah segala sesuatu/sumber-sumber daya organisasi yang disimpan dalam antisipasinya terhadap pemenuhan permintaan  dari sekumpulan produk phisikal pada berbagai tahap proses transformasi dari bahan mentah ke barang dalam proses, dan kemudian barang jadi.

Persediaan merupakan salah satu aset yang paling mahal di banyak perusahaan, mencerminkan sebanyak xl% dari total modal yang diinvestasikan. Manajer operasi diseluruh dunia telah lama menyadari bahwa manajemen persediaan yang baik itu sangatlah penting. Di satu pihak, suatu perusahaan dapat mengurangi biaya dengan cara menurunkan tingkat persediaan di tangan. Di pihak lain, konsumen akan merasa tidak puas bila suatu produk stoknya habis. Oleh karena itu, perusahaan harus mencapai keseimbangan antara investasi persediaan dan tingkat pelayanan konsumen.

Semua organisasi mempunyai beberapa jenis sistem perencanaan dan pengendalian persediaan. Dalam hal produk-produk fisik, organisasi harus menentukan apakah akan membeli atau membuat sendiri produk mereka. Setelah hal ini ditetapkan, langkah berikutnya adalah meramalkan permintaan. Kemudian manajer operasi menetapkan persediaan yang diperlukan untuk melayani permintaan tersebut.


11.2 Rumusan Masalah

1. Pengertian Persediaan?

2. Klasifikasi Persediaan?

iii. KonsepPersediaan?

4. Pencatatan dan Pelaporan Persediaan?

v. Contoh Kasus?


xi.3




Tujuan
dan Manfaat Penulisan


Makalah ini dibuat sebagai salah satu tugas mata kuliah Akuntansi Keuangan Menenang 1. Tujuan yang diharapkan adalah agar mahasiswa mengetahui bagaimana mengelola persediaan dengan mengunakan metode – metode persediaan yang ada.

Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya berupa ilmu mengenai pengelolaan persediaan pada perusahaan. Semoga makalah ini dapat digunakan sebagai referensi bagi pihak yang ingin mempelajari hal yang berkaitan dengan persediaan.


BAB II


PEMBAHASAN


2.1 PENGERTIAN PERSEDIAAN

Persediaan adalah bahan atau barang yang disimpan yang akan digunakan untuk memenuhi tujuan tertentu, misalnya untuk proses produksi atau perakitan, untuk dijual kembali, dan untuk suku cadang dari suatu peralatan atau mesin. Persediaan dapat berupa bahan mentah, bahan pembantu, barang dalam proses, barang jadi, ataupun suku cadang. Persediaan pada perusahaan dagang berupa persediaan barang dagang.

Tanpa adanya persediaan barang dagangan, perusahaan akan menghadapi resiko dimana pada suatu waktu tidak dapat memenuhi keinginan dari para pelanggannya.


Pengertian Persediaan Menurut Ahli

  1. yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal;
  2. dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan; atau
  3. dalam bentuk bagan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa



Pengertian persediaan



dalam hal ini adalah sebagai suatu aktiva yang meliputi barang-barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode waktu tertentu atau persediaan barang-barang yang masih dalam pengerjaan atau proses produksi, ataupun persediaan bahan baku yang menunggu penggunaannya dalam suatu proses produksi.

Istilah persediaan (
Inventory
) adalah suatu istilah umum yang menunjukkan segala sesuatu atau sumber daya – sumber daya organisasi yang disimpan dalam antisipasinya terhadap pemenuhan permintaan. Permintaan akan sumber daya mungkin internal ataupun eksternal. Ini meliputi persediaan bahan mentah, barang dalam proses, barang jadi atau produk akhir, bahan pembantu atau pelengkap, dan komponen lain yang menjadi keluaran produk perusahaan.

Sedangkan menurut Herjanto (1999, hal: 219) Persediaan adalah bahan atau barang yang disimpan yang akan digunakan untuk memenuhi tujuan tertentu, misalnya untuk proses produksi atau perakitan, untuk dijual kembali, dan untuk suku cadang dari suatu peralatan atau mesin. Persediaan dapat berupa bahan mentah, bahan pembantu, barang dalam proses, barang jadi, ataupun suku cadang.

Pada prinsipnya persediaan mempermudah atau memperlancar kegiatan operasi perusahaan, yang harus dilakukan secara berturut-turut untuk memproduksi barang-barang, serta selanjutnya menyampaikannya kepada para pelanggan atau konsumen. Adapun alasan diperlukannya persediaan oleh suatu perusahaan menurut Freddy Rangkuti adalah:

Alasan diperlukannya Persediaan

  1. dibutuhkannya waktu untuk menyelesaikan operasi produksi dan untuk memindahkan produk dari suatu tingkat proses ke tingkat proses lainnya yang disebut persediaan dalam proses dan pemindahan
  2. alasan organisasi, untuk memungkinkan suatu unit of measurement membuat jadwal operasinya secara bebas tidak tergantung dari yang lainnya.

Manfaat adanya persediaan

  1. menghilangkan resiko keterlambatan datangnya barang atau bahan-bahan yang dibutuhkan perusahaan.
  2. menghilangkan resiko dari materi yang dipesan berkualitas atau tidak baik sehingga harus dikembalikan.
  3. mengantisipasi bahwa bahan-bahan yang dihasilkan secara musiman sehingga dapat digunakan bila bahan itu tidak ada dalam pasaran.
  4. mempertahankan aktivitas operasi perusahaan atau menjamin kelancaran arus produksi
  5. mencapai penggunaan mesin yang optimal
  6. memberikan pelayanan kepada pelanggan dengan sebaik-baiknya agar keinginan pelanggan pada suatu waktu dapat dipenuhi dengan memberikan jaminan tetap tersedianya barang jadi tersebut
  7. membuat pengadaan atau produksi tidak perlu sesuai dengan penggunaannya atau penjualannya.


2.2 KLASIFIKASI PERSEDIAAN



Klasifikasi
persediaan pada perusahaan manufaktur berupa:


a. Bahan baku

Barang persediaan milik perusahaan yang akan diolah lagi melalui proses produksi, sehingga akan menjadi barang setengah jadi atau barang jadi sesuai dengan kegiatan perusahaan. Besarnya persediaan bahan baku dipengaruhi oleh perkiraan produksi, sifat musiman produksi, dapat diandalkannya pihak Pemasok serta tingkat efisiensi penjadualan pembelian dan kegiatan produksi.


b. Barang dalam proses

Adalah barang yang masih memerlukan proses produksi untuk menjadi barang jadi, sehingga persediaan barang dalam proses sangat dipengaruhi oleh lamanya produksi, yaitu waktu yang dibutuhkan sejak saat bahan baku masuk keproses produksi sampai dengan saat penyelesaian barang jadi. Perputaran persediaan bisa ditingkatkan dengan jalan memperpendek lamanya produksi. Dalam rangka memperpendek waktu produksi salah satu cara adalah dengan menyempurnakan tekhnik-tekhnik rekayasa, sehingga dengan demikian proses pengolahan bisa dipercepat. Cara lain adalah dengan membeli bahan-bahan dan bukan membuatnya sendiri.


c. Barang jadi

Adalah barang hasil proses produksi dalam bentuk final sehingga dapat segera dijual, pada persediaan ini besar kecilnya persediaan barang jadi sebenarnya merupakan masalah koordinasi produksi dan penjualan. Manajer keuangan dapat merangsang peningkatan penjualan dengan cara mengubah persyaratan kredit atau dengan memberikan kredit untuk resiko yang kecil (marginal risk). Tetapi tidak peduli apakah barang-barang tercatat sebagai persediaan atau sebagai piutang dagang, manajer keuangan harus tetap membiayainya. Sebenarnya perusahaan lebih suka menjualnya (dan tercatat sebagai piutang dagang), karena dengan demikian untuk menuju realisasi kas tinggal satu langkah saja. Dan laba potensial dapat menutup tambahan resiko penagihan piutang.

2.3.


KONSEP PERSEDIAAN




a.



Historical cost

Dalam metode historical cost ini persediaan diukur berdasarkan pada pembayaran yang dilakukan dimasa lalu atau harus dilakukan dimasa yang akan datang untuk memperoleh barang atau jasa. Oleh karena itu kalau pembayarannya dilakukan dimasa yang akan datang harga persediaan harus didiskontokan untuk mendapatkan present cost. Menurut konsep ini biaya produksi terdiri dari Biaya langsung: material, tenaga langsung dan BOP, sedangkan avail atau tenaga kerja idle dapat diperhitungkan sebagai COGS, tergantung kebijakan manajemen.

Keuntungan konsep ini:

  1. Inventory bahan baku dan barang dagangan mencerminkan harga yang sebenarnya.
  2. Dalam kondisi harga tidak pasti konsep ini merupakan alternative yang layak daripada net realizable values sebagai alat prediksi.
  3. Nilai persediaan tidak dipengaruhi oleh bias kebijakan manajemen.
  4. Penilaian dengan price memungkinkan pertanggung jawaban mengenai kas dan sumber lain untuk memperoleh persediaan (cross show).

Kelemahan konsep ini:

  1. Untuk persediaan barang yang cepat usang dan nilai tambah atas barang tidak dapat disesuaikan harganya.
  2. Bila terdapat harga yang berbeda susah untuk diperbandingkan.
  3. Banyaknya unsur joint cost dan metode alokasi sehingga menyulitkan penilaian persediaan.
  4. Matching antara revenue dengan cost masa lalu kurang tepat.


b. Current Replacement Cost

Konsep ini adalah untuk mengurangi kelemahan dari konsep historical cost, banyak penulis dan komite prinsip akuntansi menyarankan menggunakan konsep CRC untuk mengukur persediaan. Dengan pertimbangan:

  1. CRC memungkinkan untuk matching antara current input value dengan electric current revenue atas hasil electric current functioning.
  2. CRC memungkinkan identifikasi dari property gains dan loss.
  3. CRC merupakan electric current value dari persediaan.
  4. CRC memungkinkan pelaporan current operation turn a profit dapat digunakan sebagai prediksi arus kas dikemudian hari.


c. Net Realizable Values Dikurangi Normal Markup

Dalam konsep ini persediaan dinilai dengan konsep realizable values dikurangi dengan gross profit margin yang normal, sehingga nilai persediaan merupakan nilai perolehannya menurut konsep realizable.


d.      Standard price


Current standard mencerminkan biaya produksi dibawah kondisi harga dan teknologi yang sekarang dan formula ditetapkan setelah melalui perhitungan standard efisiensi yang diinginkan sehingga menyerupai replacement cost. Menurut AICPA bulletin no. 43 : “Standard cost dapat diterima apabila di-accommodate secara berkala agar mencerminkan kondisi sekarang sehingga pada tanggal neraca standard price secara layak merupakan approximate costs berdasarkan salah satu cara penilaian yang diakui.


·




Biaya-Biaya Yang Harus Dimasukan Dalam Persediaan

Salah satu masalah paling penting dalam menangani persediaan berhubungan dengan berapa jumlah persediaan yang harus yang dicatat dalam akun. Pembelian (akuisisi) persediaan, seperti aktiva lain, umumnya di perhitungkan atas dasar biaya.



a.





Biaya produk

Product cost adalah biaya yang” melekat” pada persediaan dan di catat dalam akun persediaan. Biaya-biaya ini berhubungan langsung dengan transfer barang kelokasi bisnis pembeli dan pengubahan barang tersebut ke kondisi yang siap di jual. Beban seperti itu mencakup ongkos pengangkutan barang yang di beli, biaya pembelian langsun lainnya, dan biaya tenaga kerja serta produksi lain nya yang dikeluarkan dalam memproses barang ketika dijual



b.





Biaya periode


Beban penjualan (selling expenses) dan, dalam kondisi yang biasa, beban umum serta adminstrasi tidak dianggap berhubungan langsung dengan akuisisi atau produk si brang dan, karenanya, tidak dianggap sebagai bagian dari persediaan. Biaya semacam itu disebut dengan biaya periode secara konseptual, beban ini merupakan biaya dari produk eperti halnya harga beli awal dan ongkos pengangkutan.


Biaya bunga


yang berhubungan dengan penyiapanpersediaan agar siap dijual biasanya di bebankan pada saat dikeluarkan. Arguman penting untuk pendekatan ini adalah bahwa biaya bunga merupakan biaya pembiayaan.



c.





Biaya manufaktur

Barang dalam proses dan brang jadi meliputi bahan, tenaga kerja langsung, da biaya overhead manufaktur. Biaya overhead manufaktur meliputi bahan tidak langsung,tenaga kerja tidak langsung da pos-pos seperti penyusutan , pajak,asuransi, pemanas, dan listrik yang dibutuhkan dalam proses manufaktur.


two.4




PENCATATAN PERSEDIAAN DAN PELAPORAN



A.





Pencatatan Persediaan



1.




Sistem Periodik (concrete)
,

Yaitu pada setiap akhir periode dilakukan perhitungan secara phisik untuk menentukan jumlah persediaan akhir. Perhitungan tersebut meliputi pengukuran dan penimbangan barangbarang yang ada pada akhir suatu periode untuk kemudian dikalikan dengan suatu tingkat harga/biaya. Perusahaan yang menerapkan sistem periodik umumnya memiliki karakteristik persediaan yang beraneka ragam namun nilainya relatif kecil. Sebagai ilustrasi adalah kios majalah di sebuah pusat perkantoran dan pertokoan yang menjual berbagai jenis majalah, koran, alat tulis, aksesoris handphone, dan gantungan kunci. Jenis persediaan beraneka ragam namun nilainya relatif kecil sehingga tidaklah efisien jika harus mencatat setiap transaksi yang nilainya kecil namun frekuensi transaksi tinggi. Meskipun demikian sebenarnya pada saat ini alasan tersebut dapat diabaikan dengan adanya teknologi komputer yang memudahkan pencatatan transaksi dengan frekuensi tinggi, misalnya seperti di toko retail.

Jurnal sistem periodik:


a.



Pada saat pembelian

Pembelian
xxx



Hutang dagang
xxx


b.



Pada saat penjualan

Piutang dagang

thirty



Penjualan
xxx


2.



Sistem Permanen (Perpetual)


,

Yaitu melakukan pembukuan atas persediaan secara terus menerus yaitu dengan membukukan setiap transaksi persediaan baik pembelian maupun penjualan. Sistem perpetual ini seringkali digunakan dalam hal persediaan memiliki nilai yang tinggi untuk mengetahui posisi persediaan pada suatu waktu sehingga perusahaan dapat mengatur pemesanan kembali persediaan pada saat mencapai jumlah tertentu. Misalnya persediaan alat rumah tangga elektronik (mesin cuci, kulkas, microwave). Perbedaan penggunaan kedua metode adalah pada akun yang digunakan untuk mencatat pembelian persediaan. Pada organisation pencatatan periodik pembelian persediaan dicatat dengan mendebit akun pembelian sehingga pada kahir periode akan dilakukan penyesuaian untuk mencatat harga pokok barang yang dijual dan melaporkan nilai persediaan pada akhir periode.

Jurnal sistem perpetual:


a.



Pada saat pembelian barang dagang

Persediaan barang dagang
xxx



Hutang dagang
xxx


b.



Pada saat penjualan






Piutang dagang
xxx

Penjualan
xxx






HPP
xxx

Persediaan barang dagang
xxx


Metode penilaian persediaan dengan sistem pencatatan perceptual system


i.



Metode FIFO

Metode ini beranggapan barang yang ada paling awal dianggap dijual paling awal juga. Perbedaanya adalah dalam metode perpetual perhitungan harga pokok dilakukan pada saat terjadi penjualan.

Ad : 1. Asumsi : Barang yang dijual pertama dipakai harga pokok pembelian pertama.


two.



Metode
LIFO

Pada metode ini barang yang terakhir dibeli dianggap dijual lebih dahulu. Harga pokok dihitung pada saat terjadi penjualan.

Ad : 2. Asumsi : Barang yang dijual pertama dipakai harga pokok yang terakhir pembelian.


iii.



Metode Rata-rata

yaitu pengeluaran barang ditentukan secara rawak atau acak sehingga penentuan harga pokok untuk metode ini dicari nilai rata-ratanya.

Ad : 3. Asumsi : harga jual dipakai harga rata-rata dari persediaan awal + pembelian.

Metode penilaian persediaan dengan system periodic


i.



FIFO : nilai persediaan akhir dipakai harga pembelian yang terakhir


2.



LIFO : nilai persediaan akhir dipakai harga pembelia pertama


3.



Rata-Rata Sederhana


4.



Rata-Rata Tertimbang

Rumus persediaan akhir : unit persediaan awal + pembelian – penjaualan

Perbedaan Paling Fundamental Antara Sistim Periodik dan Perpetual.
Perbedaan paling mencolok antara sistim periodik dengan sistim perpetual ada pada 2 hal:


1.



Penentuan Nilai Saldo Akhir Persediaan di Neraca



a.





Sistim Periodik


– Jika perusahaan menerapkan sistim periodik, nilai saldo akhir persediaan di Neraca ditentukan dengan cara melakukan penghitungan fisik persediaan yang lumrah dikenal dengan istilah “stok opname” —sederhananya; di akhir periode, fisik barang bersediaan (bahan baku, bahan penolong, barang dalam proses dan barang jadi) dihitung jumlahnya. Jumlah fisik barang lalu dikalikan dengan Harga Pokok Penjualan (HPP) satuan barang.

b. Sistim Perpetual

– Jika yang diterapkan adalah sistim perpetual, perusahan tidak perlu melakukan penghitungan fisik untuk menentukan nilai saldo akhir persediaan., karena setiap transaksi terkait dengan persediaan—baik kenaikan maupun penurunan—telah dicatat melalui penjurnalan. Meskipun demikian, penghitungan fisik tetap dilakukan untuk kemudian dibandigkan dengan saldo akhir yang ditunjukan oleh buku persediaan.

ii. Penentuan Persediaan Digunakan (atau Terjual) dalam Harga Pokok Penjualan
:

a. Sistim Periodik

– Jika perusahaan menggunakan sistim periodik, maka nilai persediaan yang digunakan (dan terjual)—untuk dibebankan sebagai “Harga Pokok Penjualan”, dihitung dengan cara menjumlahkan saldo awal persediaan dengan full pembeliaan (atau persediaan masuk) lalu dikurangi dengan saldo akhir persediaan yang diperoleh melalui penghitungan fisik. Misalnya: Data persediaan JAK Mart (perusahaan dagang) untuk tahun 2012 adalah sbb:

  • Saldo awal = Rp 20,000,000
  • Pembelian Bersih Jan s/d Des 2012 = Rp 150,000,000
  • Saldo akhir 31 Desember 2012 (diketahui setelah penghitungan fisik) = Rp 22,000,000


Harga Pokok Penjualan


= twenty,000,000 + 150,000,000 – 22,000,000 = 148,000,000.

b. Sistim Perpetual

– Dengan sistim perpetual, perusahaan tidak perlu lagi membuat perhitungan seperti pada sistim periodik karena penggunaan persediaan langsung diakui setiap kali ada penjualan dengan mendebit akun “Harga Pokok Penjualan” dan mengkredit “Persediaan” di sisi lainnya, seperti jurnal di bawah ini:

[Debit]. Harga Pokok Penjualan = xxx

[Kredit].
Persediaan = xxx

Dengan sistim perpetual setiap transaksi yang mengakibatkan kenaikan atau penurunan book persediaan selalu dicatat dengan memasukan jurnal begitu transaksi terjadi.

Apakah Sebaiknya Menggunakan Sisitim Persediaan Periodik atau Perpetual?

Jawaban atas pertanyaan ini sangat tergantung pada situasi dan kondisi opersional perusahaan anda sehari-hari. Dari aspek pelaporan keuangan, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Menggunakan sistim perpetual pun, juga di akhir periode anda masih harus melakukan stock opname (inventory physical count) untuk memverifikasi keakuratan information persediaan yang diperoleh dari sistim perpetual. Dan, jika terjadi perbedaan antara hasil penghitungan fisik dengan saldo akhir buku, anda masih harus membuat rekonsiliasi dan inventory adjustment. Tetapi dari aspek pengawasan persediaan, sistim perpetual jelas lebih baik dibandingkan sistim periodik. Tetapi perlu di sadari bahwa: menerapkan sistim perpetual artinya anda harus siap melakukan pencatatan setiap kali ada transaksi sehubungan dengan persediaan. Untuk perusahaan-perusahaan berskala besar, jelaslah bahwa sistim perpetual selalu lebih baik—lagi pula tenaga untuk melakukan input information setiap saat selalu ada. Tetapi untuk perusahaan berskala sedang dan kecil, menerapkan sistim perpetual bisa menjadi tantangan tersediri.



B.








Laporan persediaan barang dagang

Laporan persediaan barang dagang adalah laporan yang menyajikan sisa atau saldo persediaan akhir barang dagang dari kartu persediaan untuk masing- masing barang pada suatu periode tertentu. Laporan persediaan barang dagang dibuat secara periodik untuk memberikan informasi yang berkaitan dengan kuantitas maupun kualitas persediaan barang dagang. Laporan persediaan barang dagang dapat dibuat dengan menginformasikan saldo persediaan pada awal periode, mutasi selama periode, dan saldo pada akhir periode. Selain itu dapat juga dibuat dengan hanya menginformasikan saldo setiap jenis persediaan pada akhir periode.

Fungsi laporan persediaan barang:
Melakukan pengecekan barang pada bagian gudang
Mengetahui informasi jumlah dan kondisi barang akhir periode tertentu
Mempermudah pemimpin dalam mengambil keputusan berkaitan dengan penjualan barang
Mempermudah pengawasan barang di gudang.

Laporan Persediaan Barang Dagang dengan sistem pencatatan perpetual Dalam sistem pencatatan perpetual, mutasi tiap jenis barang tampak dalam kartu persediaan, sehingga laporan persediaan barang dapat dibuat berdasarkan data kartu persediaan. Laporan Persediaan Barang Dagang dengan sistem pencatatan periodik Apabila perusahan menggunakaan sistem pencatatan dengn sistem periodik, maka laporan persediaan barang dagang dibuat setelah dilakukan pemeriksaan dan penghitungan fisik barang yang tersedia di gudang.


ii.5




CONTOH KASUS

Berikut ini adalah ilustrasi jurnal untuk sistem perpetual dan sistem periodic, namun belum mencakup seluruh transaksi berkaitan dengan persediaan.

Transaksi

Sistem Periodek

Sistem Perpetual

1.

Membeli barang dagangan secara kredit Rp 10.000

Pembelian



Hutang

x.000

10.000

Persediaan Brg Dag



Hutang

x.000

10.000

2.

Retur pembelian Rp 500

Hutang



Retur
Pembelian

500

500

Hutang



Persediaan Brg Dag

500

500

3.

Terdapat barang yang dijual. Harga jual Rp four.000 dan harga pokok barang Rp 1.500

Piutang/Kas



Penjualan

4.000

4.000

Piutang/Kas

Penjualan

HPP

Persediaan Brg Dag

4.000

ane.500

four.000

i.500

4.

Pada akhir tahun

Mutlak harus dilakukan inventarisasi fisik karena tanpa inventarisasi fisik barang, tidak dapat diketahui persediaan yang ada

Tanpa inventarisasi sudah dapat diketahui persediaan, namun inventarisasi perlu dilakukan

Misalkan menurut perhitungan fisik pada akhir tahun saldo persediaan Rp 200 dan pada awal tahun Rp 150.

Ikhtisar L/R

Persediaan B.D.

Persediaan B.D

Ikhtisar Fifty/R

150

200

150

200

Jika hasil inventarisasi fisik tidak sama dengan saldo rekening persediaan, perusahaan perlu membuat jurnal, jika sama tidak perlu membuat jurnal.


·




Metode penilaian persediaan dengan sistem pencatatan perceptual system



1.




Metode FIFO

Contoh :

1 juni
Persediaan awal

25 unit
Rp 240

five Juni
Pembelian

100 Unit Rp 250

10 Juni Penjualan
75
Unit

15 Juni
Pembelian

150 Unit
Rp 260

twenty Juni
Penjualan

175
Unit

25 Juni Pembelian

125 Unit Rp 275

30 Juni Penjualan

100 Unit of measurement


Tanggal

Pembelian


Penjualan


Saldo


Unit


H/U


Jumlah


Unit of measurement


H/U


Jumlah


Unit of measurement


H/U


Jumlah


1/6














25


240


6000


5/6


100


250


25000








100


250


25000


x/6








25


240


6000














50


250


12500


50


250


12500


15/6


150


260


39000








50


250


12500














150


260


39000


xx/vi








150


250


12500














125


250


37500


25


250


6250


25/vi














25


260


6500














125


275


34375


30/6








25


260


6500














75


275


20625


fifty


275


13750



2.





Metode
LIFO




Contoh :

1 juni
Persediaan awal

25 unit
Rp 240

5 Juni
Pembelian

100 Unit of measurement Rp 250

10 Juni Penjualan
75
Unit of measurement

15 Juni
Pembelian
150 Unit
Rp 260

20 Juni
Penjualan

175
Unit

25 Juni Pembelian

125 Unit of measurement Rp 275

30 Juni Penjualan

100 Unit


Tanggal

Pembelian


Penjualan


Saldo


Unit


H/U


Jumlah


Unit


H/U


Jumlah


Unit


H/U


Jumlah


i/half-dozen














25


240


6000


v/six


100


250


25000








100


250


25000














25


240


6000


10/6








75


250


18750


25


250


6250














25


240


6000














25


250


6250


15/6


150


260


39000








150


260


39000


20/6








150


260


39000














25


250


6250




















25


240


6000














25


240


6000


25/6


125


275


34375








125


275


34375


thirty/6








100


275


27500


25


240


6000














25


275


6875














fifty


12875



3.





Metode Rata-rata

harga jual dipakai harga rata-rata dari persediaan awal + pembelian

Contoh :

ane juni
Persediaan awal

25 unit
Rp 240

5 Juni
Pembelian

100 Unit Rp 250

ten Juni Penjualan
75
Unit

xv Juni
Pembelian


150 Unit
Rp 260

twenty Juni
Penjualan

175
Unit

25 Juni Pembelian

125 Unit of measurement Rp 275

xxx Juni Penjualan

100 Unit


Tanggal

Pembelian


Penjualan


Saldo


Unit


H/U


Jumlah


Unit


H/U


Jumlah


Unit


H/U


Jumlah


i/6














25


240


6000


100


250


25000








100


250


25000














125


248


31000


10/6








75


248


18600


50


248


12400


15/6


150


260


39000








150


260


39000














200


257


51400


twenty/6








175


257


44975


25


257


6425


25/6


125


275


34375








125


275


34375














150


272


40800


30/6








100


275


27500


50


272


13600


·




Metode penilaian persediaan dengan arrangement periodic

Rumus persediaan akhir : unit persediaan awal + pembelian – penjaualan

Contoh :

1 juni
Persediaan awal

25 unit of measurement
Rp 240

5 Juni
Pembelian

100 Unit Rp 250

x Juni Penjualan
75
Unit

15 Juni
Pembelian


150 Unit
Rp 260

twenty Juni
Penjualan

175
Unit

25 Juni Pembelian

125 Unit Rp 275

30 Juni Penjualan

100 Unit of measurement

Unit persediaan akhir : 400-350: 50


1.



FIFO : 50
x 275 : 13750


2.



LIFO : 25 10 240 : 6000



: 25 x 250 : 6250

+



: fifty


: 12500


3.



Metode rata-rata sederhana

Rumus : penjualan unit persediaan awal + pembelian / frekuensi pembelian dan pembelian awal





: 240 + 250 + 260 + 275 / iv : 256,25

Nilai akhir : 50 ten 256,25 : 12812,5


4.



Metode rata-rata tertimbang

Rumus : Penjumlahan dari unit x harga dari persediaan awal dengan pembelian / unit persediaan awal dan pembelian



: (25 ten 240) + (100 ten 250) + (150 x 260) + (125 x 275) / 25 + 100 + 150 + 125



:260,93

Nilai persediaan akhir : 50 x 260,93 : thirteen,047


BAB III


PENUTUP



3.ane





KESIMPULAN

Pengertian persediaan

dalam hal ini adalah sebagai suatu aktiva yang meliputi barang-barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode waktu tertentu atau persediaan barang-barang yang masih dalam pengerjaan atau proses produksi, ataupun persediaan bahan baku yang menunggu penggunaannya dalam suatu proses produksi.

Metode Pencatatan persediaan barang dagangan ada dua yaitu metode fisik dan metode perfektual. Kedua Metode tersebut memiliki perbedaan diantaranya dalam hal penentuan perhitungan persediaan barang dagangan, dimana saat menggunakan metode fisik perhitungan persediaan barang dagangan dilakukan setiap ahir periode sedangkan saat menggunakan metode perfektual perhitungan persediaan barang dagang dilakukan saat terjadi perubahan persediaan barang dagangan. Perubahan persediaan barang dagang tersebut dapat terjadi karena adanya pembelian, penjualan dan sebagainya.




3.two





SARAN

Apabila dalam penulisan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan dan kesalahan kami mohon maaf, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi perbaikan makalah

selanjutnya,


Semoga Makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.


DAFTAR PUSTAKA


Referensi Buku:

Hery.2011.Akuntansi.Yogyakarta: PT Gava Media.

Niswonger.werren.reeve.fess.1999.
Prinsip-Prinsip Akuntansi.
Dki jakarta: Erlangga.


Sumber Internet:

Tujuan Penghitungan Fisik Barang Dagangan Adalah Untuk

Source: https://agribisnisaisyahprihatin.blogspot.com/2017/03/makalah-persediaan-barang-dagang.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *