Seseorang Yang Beriman Tanpa Amal Saleh Maka Keimanannya Akan

Seseorang Yang Beriman Tanpa Amal Saleh Maka Keimanannya Akan

M. Shalahuddin, S.S.I, M.Pd, Ketua MUI Cikarang Barat/Kepala SDIT Nurul Fajri

G. Shalahuddin, S.S.I, Thou.Pd, Ketua MUI Cikarang Barat/Kepala SDIT Nurul Fajri

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Sungguh, orang-orang yang beriman dan beramal shalih adalah sebaik-baik makhluk Allah (Al Bayyinah : vii).

Dalam Al Qur’an ada dua kata yang selalu beriringan, yaitu iman dan amal shaleh. Hal ini tentunya mengisyaratkan pesan penting untuk kita semua. Amal shaleh seseorang tidak akan tercatat sebagai amalan jika tidak didasari oleh keimanan yang ada di dalam hati. Begitupun keimanan seseorang akan dipertanyakan atau malah diragukan jika tidak berbuah amal shaleh. Iman dan amal shalih adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, ibarat seperti 2 (dua) sisi mata uang, kalau tidak ada salah satunya maka tidak akan berarti keberadaannya, begitu juga dengan iman dan amal shalih apabila tidak ada salah satunya maka tidak akan berarti apa-apa.

Iman memegang peranan penting dalam kehidupan yang menunjukan arah dan membantu memberikan makna terhadap berbagai peristiwa yang dihadapi, iman adalah rujukan mutlak yang memberikan kepada kita kepastian, tanpa iman manusia akan terombang-ambing dalam gelombang kehidupan, ia akan menjadi orang yang oportunis dan pragmatis dalam menghadapi persoalan kehidupan, ini karena tidak mempunyai pegangan yang menunjukkan arah dan jalan.

Sedangkan amal shalih adalah perwujudan dan aktualisasi dari keimanan seseorang dengan berbuat baik (amal shalih), baik yang berhubungan dengan Allah (hablum min Allah) berupa ibadah-ibadah mahdhah maupun yang berhubungan dengan manusia (hablum min Annas) berupa ibadah-ibadah ghairu mahdhah (sosial).

Sebagai agama yang sempurna, Islam sangat memperhatikan bukan hanya hal-hal yang berhubungan dengan Allah SWT secara vertikal, tetapi juga yang berhubungan dengan sesama manusia secara horizontal. Hal ini terlihat dari doktrin iman dan amal shaleh. Kedua konsep ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, iman tanpa amal itu hampa sedangkan amal tanpa iman itu percuma. Iman adalah fondasi sedangkan amal adalah implementasi. Seorang manusia sempurna adalah manusia yang teguh imannya dan banyak amal shalehnya.

Seorang mukmin yang cerdas akan berusaha memaksimalkan jatah umurnya dipenuhi dengan amal shaleh yang pahalanya terus mengalir tanpa henti. Semoga kita semua menjadi makhluk terbaik di sisi Allah SWT. Amiiin.
Wallahu A’lam Bis Shawab. (*)

Jakarta, Muslim Obsession
– Sebagai orang muslim mengaku beriman saja tidak cukup. Orang yang beriman harus diwujudkan dengan amal saleh. Sebab, Iman tanpa amal itu hampa, sedangkan amal tanpa iman itu percuma. Iman dan amal saleh keduanya merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Dalam buku berjudul Kesepaduan Iman dan Amal Saleh, Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka menegaskan bahwa pertanda kosongnya jiwa serta binasa nya hati yaitu, ketika seorang Muslim sekadar mengaku beriman, tapi enggan mengerjakan amal saleh secara berkelanjutan.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali keimanan hanya dijadikan topang untuk meraih keuntungan tertentu, seperti halnya dalam politik. Namun, untuk mengerjakan amal saleh mereka lalai. Bahkan hampir tidak pernah.

Jika iman dan amal saleh adalah satu kesatuan, maka apabila salah satunya hilang, kesungguhan menjalankan Islam menjadi tidak sempurna. Iman tanpa amal itu hampa, sedangkan amal tanpa iman itu percuma.

Hal ini terlihat dari sabda Nabi SAW: Allah tidak menerima iman tanpa amal perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuatan tanpa iman. (HR ath-Thabrani).

Dalam karyanya ini, Buya Hamka menjelaskan tentang bagaimana seharusnya menempatkan porsi iman dan amal saleh secara tepat sesuai tuntunan syariat.

Menurut Buya Hamka pada zaman mod ini, sebagian masyarakat mungkin masih banyak yang beranggapan bahwa shalat tidak harus berupa ritual ibadah.

Perempuan tidak harus menutup aurat, yang penting adalah menjaga hati, dan lain sebagainya. Anggapan semacam itu sangat bertolak belakang dengan ajaran agama Islam. Karena, Rasulullah sangat tekun melaksanakan ibadah dan amal saleh.

Saat mengerjakan shalat, kaki Rasulullah bahkan sampai bengkak. Uangnya pun tak pernah tersimpan lama di rumahnya karena langsung disedekahkan. Allah menjadikan manusia sebagai makhluk teristimewa.

Allah menciptakan manusia sebagai khalifah di bumi sehingga malaikat dan iblis pun disuruh sujud padanya. Sementara, manusianya sendiri justru banyak yang mengabaikan perintah-Nya.

Melihat fenomena semacam itu, Buya Hamka pun tergugah untuk menyusun tulisan-tulisannya berkenaan dengan keimanan yang lekat dengan amal saleh. Jika mengaku Islam, menurut Hamka, umat sudah selayaknya mengerjakan ibadah dan amal saleh lainnya.

Namun, sebaliknya amal saleh tanpa iman juga tidak dibenarkan dalam agama. Banyak orang yang kelihatan berbuat baik, padahal ia tak beriman. Ia banyak beramal, tapi hal yang dilakukannya tidak berlandaskan iman.

Padahal, Allah telah menegaskan dalam Alquran bahwasanya amal seseorang menjadi sia-sia jika mempersekutukan Allah dengan yang lain (Surah al-An’am ayat 88). Karena itu, umat membutuhkan iman agar amal saleh nya diterima oleh Allah.

Menurut Buya Hamka, iman yang baik akan menimbulkan amal yang baik. Sedangkan, amal yang baik tidak akan ada kalau imannya tidak ada. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi SAW: Allah tidak menerima iman tanpa amal perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuatan tanpa iman. (HR ath- Thab rani).

Hamka juga mengatakan, suatu amal yang timbul bukan dari iman pada hakikatnya adalah menipu diri sendiri. Mengerjakan kebaikan tidak dari hati adalah dusta. Jika manusia menegakkan kebaikan tidak dari iman, akan telantar di tengah jalan. Lantaran tidak ada semangat suci yang men dorongnya. (Albar)

“Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal sholeh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang ang baik amalannya (Surat Alkahfi ayat thirty).

 ***

Ayat tersebut menjelaskan balasan atas orang-orang yang beriman berupa surga. Ayat sebelumnya memaparkan atas balasan bagi orang yang mengingkari atas kebenaran Alqur’an. Saya  berpikir mengapa pada ayat tersebut kalimat yang digunakan adalah orang yang beriman? Padahal, dalam kehidupan kita mengenalnya orang Islam.

Menurut saya, dalam tauhid dikenalkan dengan istilah Islam, iman, dan ihsan. Islam seseorang harus dibuktikan dengan keimanannya terhadap Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, dan qodho, serta qodarnya. Orang Islam tak sekedar mengucapkan syahadat melalui lisan. Tetapi harus diyakini dan dikerjakan atas yang dikatakan tersebut. Meyakini dan melakukan itulah yang disebut iman.

Jadi, bisa dikatakan keyakinan dan perbuatan dari orang Islam, itulah iman. Terlebih keyakinan dan perbuatan tersebut dibenarkan melalui hati. Itulah, keimanan yang sesungguhnya. Lalu, beramal shaleh adalah dampak atas keimanan seseorang. Tidak mudah melakukan amal sholeh, tanpa didasari rasa keimanan. Dasar paling utama untuk melakukan kebajikan adalah iman.

Misal, ada batu di jalan yang mengganggu lalu lalang kendaraan, jika ada orang yang ingin berbuat amal shaleh, maka cukup sederhana yaitu menyingkirkan batu tersebut di jalan. Ia berkeyakinan melalui perbuatan tersebut, mampu memberikan nilai-nilai kecintaan terhadap Allah dan membuktikan akan perintah Rasul berupa saling tolong-menolong. Ia yakin amalan sekecil apa pun Allah akan mencatat di buku kebaikannya kelak di akhirat. Pekerjaan sepele, namun memberikan dampak yang luar biasa. Terlebih ia meyakininya hingga ke akhirat. Itulah contoh sederhana atas iman dan amal shaleh.

Dengan demikian, ternyata logis, ada nilai keyakinan dan ada nilai aplikasi. Yakin dan perbuatan harus dikerjakan dalam satu kesatuan. Tidak dapat dipisahkan satu per satu. Tetapi, harus dilakukan satu paket. Waallahu’alam.

Semarang, 17 September 2017


Page 2

“Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal sholeh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang ang baik amalannya (Surat Alkahfi ayat xxx).

 ***

Ayat tersebut menjelaskan balasan atas orang-orang yang beriman berupa surga. Ayat sebelumnya memaparkan atas balasan bagi orang yang mengingkari atas kebenaran Alqur’an. Saya  berpikir mengapa pada ayat tersebut kalimat yang digunakan adalah orang yang beriman? Padahal, dalam kehidupan kita mengenalnya orang Islam.

Menurut saya, dalam tauhid dikenalkan dengan istilah Islam, iman, dan ihsan. Islam seseorang harus dibuktikan dengan keimanannya terhadap Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, dan qodho, serta qodarnya. Orang Islam tak sekedar mengucapkan syahadat melalui lisan. Tetapi harus diyakini dan dikerjakan atas yang dikatakan tersebut. Meyakini dan melakukan itulah yang disebut iman.

Jadi, bisa dikatakan keyakinan dan perbuatan dari orang Islam, itulah iman. Terlebih keyakinan dan perbuatan tersebut dibenarkan melalui hati. Itulah, keimanan yang sesungguhnya. Lalu, beramal shaleh adalah dampak atas keimanan seseorang. Tidak mudah melakukan amal sholeh, tanpa didasari rasa keimanan. Dasar paling utama untuk melakukan kebajikan adalah iman.

Misal, ada batu di jalan yang mengganggu lalu lalang kendaraan, jika ada orang yang ingin berbuat amal shaleh, maka cukup sederhana yaitu menyingkirkan batu tersebut di jalan. Ia berkeyakinan melalui perbuatan tersebut, mampu memberikan nilai-nilai kecintaan terhadap Allah dan membuktikan akan perintah Rasul berupa saling tolong-menolong. Ia yakin amalan sekecil apa pun Allah akan mencatat di buku kebaikannya kelak di akhirat. Pekerjaan sepele, namun memberikan dampak yang luar biasa. Terlebih ia meyakininya hingga ke akhirat. Itulah contoh sederhana atas iman dan amal shaleh.

Dengan demikian, ternyata logis, ada nilai keyakinan dan ada nilai aplikasi. Yakin dan perbuatan harus dikerjakan dalam satu kesatuan. Tidak dapat dipisahkan satu per satu. Tetapi, harus dilakukan satu paket. Waallahu’alam.

Semarang, 17 September 2017

Lihat Humaniora Selengkapnya


Page 3

“Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal sholeh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang ang baik amalannya (Surat Alkahfi ayat 30).

 ***

Ayat tersebut menjelaskan balasan atas orang-orang yang beriman berupa surga. Ayat sebelumnya memaparkan atas balasan bagi orang yang mengingkari atas kebenaran Alqur’an. Saya  berpikir mengapa pada ayat tersebut kalimat yang digunakan adalah orang yang beriman? Padahal, dalam kehidupan kita mengenalnya orang Islam.

Menurut saya, dalam tauhid dikenalkan dengan istilah Islam, iman, dan ihsan. Islam seseorang harus dibuktikan dengan keimanannya terhadap Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, dan qodho, serta qodarnya. Orang Islam tak sekedar mengucapkan syahadat melalui lisan. Tetapi harus diyakini dan dikerjakan atas yang dikatakan tersebut. Meyakini dan melakukan itulah yang disebut iman.

Jadi, bisa dikatakan keyakinan dan perbuatan dari orang Islam, itulah iman. Terlebih keyakinan dan perbuatan tersebut dibenarkan melalui hati. Itulah, keimanan yang sesungguhnya. Lalu, beramal shaleh adalah dampak atas keimanan seseorang. Tidak mudah melakukan amal sholeh, tanpa didasari rasa keimanan. Dasar paling utama untuk melakukan kebajikan adalah iman.

Misal, ada batu di jalan yang mengganggu lalu lalang kendaraan, jika ada orang yang ingin berbuat amal shaleh, maka cukup sederhana yaitu menyingkirkan batu tersebut di jalan. Ia berkeyakinan melalui perbuatan tersebut, mampu memberikan nilai-nilai kecintaan terhadap Allah dan membuktikan akan perintah Rasul berupa saling tolong-menolong. Ia yakin amalan sekecil apa pun Allah akan mencatat di buku kebaikannya kelak di akhirat. Pekerjaan sepele, namun memberikan dampak yang luar biasa. Terlebih ia meyakininya hingga ke akhirat. Itulah contoh sederhana atas iman dan amal shaleh.

Dengan demikian, ternyata logis, ada nilai keyakinan dan ada nilai aplikasi. Yakin dan perbuatan harus dikerjakan dalam satu kesatuan. Tidak dapat dipisahkan satu per satu. Tetapi, harus dilakukan satu paket. Waallahu’alam.

Semarang, 17 September 2017

Lihat Humaniora Selengkapnya


Folio 4

“Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal sholeh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang ang baik amalannya (Surat Alkahfi ayat 30).

 ***

Ayat tersebut menjelaskan balasan atas orang-orang yang beriman berupa surga. Ayat sebelumnya memaparkan atas balasan bagi orang yang mengingkari atas kebenaran Alqur’an. Saya  berpikir mengapa pada ayat tersebut kalimat yang digunakan adalah orang yang beriman? Padahal, dalam kehidupan kita mengenalnya orang Islam.

Menurut saya, dalam tauhid dikenalkan dengan istilah Islam, iman, dan ihsan. Islam seseorang harus dibuktikan dengan keimanannya terhadap Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, dan qodho, serta qodarnya. Orang Islam tak sekedar mengucapkan syahadat melalui lisan. Tetapi harus diyakini dan dikerjakan atas yang dikatakan tersebut. Meyakini dan melakukan itulah yang disebut iman.

Jadi, bisa dikatakan keyakinan dan perbuatan dari orang Islam, itulah iman. Terlebih keyakinan dan perbuatan tersebut dibenarkan melalui hati. Itulah, keimanan yang sesungguhnya. Lalu, beramal shaleh adalah dampak atas keimanan seseorang. Tidak mudah melakukan amal sholeh, tanpa didasari rasa keimanan. Dasar paling utama untuk melakukan kebajikan adalah iman.

Misal, ada batu di jalan yang mengganggu lalu lalang kendaraan, jika ada orang yang ingin berbuat amal shaleh, maka cukup sederhana yaitu menyingkirkan batu tersebut di jalan. Ia berkeyakinan melalui perbuatan tersebut, mampu memberikan nilai-nilai kecintaan terhadap Allah dan membuktikan akan perintah Rasul berupa saling tolong-menolong. Ia yakin amalan sekecil apa pun Allah akan mencatat di buku kebaikannya kelak di akhirat. Pekerjaan sepele, namun memberikan dampak yang luar biasa. Terlebih ia meyakininya hingga ke akhirat. Itulah contoh sederhana atas iman dan amal shaleh.

Dengan demikian, ternyata logis, ada nilai keyakinan dan ada nilai aplikasi. Yakin dan perbuatan harus dikerjakan dalam satu kesatuan. Tidak dapat dipisahkan satu per satu. Tetapi, harus dilakukan satu paket. Waallahu’alam.

Semarang, 17 September 2017

Lihat Humaniora Selengkapnya

Seseorang Yang Beriman Tanpa Amal Saleh Maka Keimanannya Akan

Source: https://mempelajari.com/berbuat-amal-saleh-tanpa-didasari-keimanan-akan-menjadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.