Sebutkan Bagian Bagian Upaveda Beserta Artinya

Sebutkan Bagian Bagian Upaveda Beserta Artinya

Akses instan ke jawaban di aplikasi kami

Dan jutaan jawaban atas pertanyaan lain tanpa iklan

Lebih pintar, unduh sekarang!

atau

Lihat beberapa iklan dan buka blokir jawabannya di situs

A. Pengertian Upaweda
Kata Weda berasal dari Bahasa Sansekerta yang artinya ilmu pengetahuan atau

pengetahuan suci. Veda sebagai kitab suci agama Hindu adalah sumber dari ajaran Agama

Hindu sebagai wahyu tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa). Di Dalam ajaran Agama

Hindutersebut, termuat tentang ajaran agama, kebudayaan dan filsafat. Veda bersifat Anadi

ananta, yakni tidak berawal dan tidak berakhir dan sebagai sabda Brahman. Sebagai sabda

Veda telah ada semenjak ada tuhan Yang maha Esa ada. Sakha adalah tradisi sekolah pada

jaman Veda yang pada awalnya berarti cabang dan kemudian berarti tempat mempelajari

Veda. Selanjutnya pengertian sakha ini berkembang menjadi sampradaya atau asrama, yaitu

tempat atau pusat mempelajari Veda
Upaweda merupakan Veda yang lebih kecil dan kelompok kedua setelah Vedangga.

Upa berarti dekat atau sekitar dan Veda berarti pengetahuan dan dapat pula berarti Veda.

Upaveda dapat diartikan sekitar hal-hal yang bersumber dari Veda. Dilihat dari materi isinya

yang dibahasi dalam beberapa kitab Upaveda, tampak kepada kita bahwa tujuan penulisan

Upaveda sama seperti Vedangga. Hanya saja dalam pengkhususan untuk bidang tertentu ini

yang dibahas adalah aspek pengetahuan atau hal-hal yang terdapat dalam Veda dan kemudian

difokuskan pada bidang tertentu saja.
B. Kedudukan Upaveda dalam Veda
Sebagai kitab suci agama Hindu, maka ajaran Veda diyakini dan dipedomani oleh

umat Hindu sebagai satu-satunya sumber bimbingan dan informasi yang diperlukan dalam

kehidupan sehari-hari ataupun untuk melakukan pekerjaanpekerrjaan tertentu. Veda

dinyatakan sebagai kitab suci karena sifat isinya dan yang menurunkannya pun adalah Tuhan

yang diyakini Maha Suci. Apapun yang diturunkan sebagai ajaran oleh Tuhan kepada umat

manusia kesemuanya itu merupakan ajaran suci. Lebih-lebih isinya dapat dijadikan pedoman

bimbingan tentang bagaimana hidup yang suci harus dijalankan. Sebagai kitab suci, Veda

adalah sumber ajaran agama Hindu sebab dari Vedalah mengalir ajaran yang merupakan

kebenaran agama Hindu. Ajaran Veda dikutip kembali dan memberikan vitalitas terhadap

kitab-kitab susastra Hindu pada masa berikutnya. Dari kitab Veda (Sruti) mengalirlah

ajarannya dan dikembangkan dalam kitab-kitab Smrti, Itihāsa, Pura
a, Tantra, Darśa
a dan



Tatwa-tatwa yang kita warisi di Indonesia. Veda mengandung ajaran yang memberikan

keselamatan di dunia ini dan di akhirat nanti. Ajaran Veda tidak terbatas hanya sebagai

tuntunan hidup individual saja, tetapi juga dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Veda menuntun hidup manusia sejak lahir hingga akhir menutup mata. Segala tuntunan hidup
ditunjukkan kepada kita oleh ajaran Veda.
Veda Śruti dan Veda Sm
ti adalah merupakan dua jenis kitab suci agama Hindu, yang


dijadikan sebagai pedoman dalam penyebaran dan pengamalan ajaran-ajarannya.

Upload your study docs or become a

Course Hero fellow member to access this document

Upload your study docs or become a

Course Hero fellow member to access this document

Finish of preview. Want to read all 18 pages?

Upload your written report docs or become a

Course Hero member to access this certificate



Tuesday, September 24, 2019

MUTIARAHINDU.COM
— Dapatkah insiden yang disebutkan dalam Purāna lebih tua dari insiden yang disebutkan dalam Itihāsa? Insiden di Purāna bisa lebih tua atau lebih baru atau kontemporer insiden disebutkan dalam Itihāsa. Misalnya beberapa Purāna menyebutkan tentang banjir selama periode Satyavrata Manu, yang mendahului kejadian Mahābhārata.

Beberapa Purāna menyebutkan tentang penobatan raja Nanda di Magadha, yang terjadi beberapa abad setelah insiden Mahābhārata. Penobatan Nanda juga merupakan bagian dari catatan sejarah dari zaman modern. Definisi Purāna tidak dengan  cara  apapun  menunjukkan  bahwa insiden yang disebutkan dalam Purāna sudah tua, hanya menunjukkan bahwa narator adalah mengacu pada insiden yang terjadi beberapa abad sebelum dia.

Itihāsa seperti Mahābhārata dan Rāmāyana mengandung  banyak  Purāna  tertanam  di dalamnya. Oleh karena itu, tidak semua insiden yang disebutkan dalam Itihāsa adalah insiden kontemporer. Kehidupan Pandawa sejak pendidikan militer mereka serta perang Kurukshetra adalah insiden kontemporer disebutkan oleh Vyasa di Mahābhārata. Tapi Mahābhārata juga berisi narasi Nala dan Damayanti serta Satyavan dan Savitri yang Purāna, ini ditambahkan oleh orang lain yang hidup beberapa abad setelah kehidupan Nala, Damayanti, Satyavan atau Savitri. Hal ini juga kemungkinan bahwa narasi tentang perendaman Dwaraka, perjalanan akhir dari Pandawa, kematian mereka dan Yudistira yang mitos masuk ke surga; diriwayatkan oleh seorang perawi yang hidup beberapa abad setelah Pandawa, (Sudirga dan Yoga Segara, 2014:60-61).

Image: warungbusiki

Jika kita melihat Rāmāyana, Walmiki penulis adalah seorang kontemporer Rama. Dia adalah orang penulis bijak yang memberi perlindungan bagi istri Rama Sita dan anak-anaknya (Lava dan Kusa) setelah dibuang dan dikirim keluar dari Ayodhya. Narasi tentang insiden pembuangan Rama ke hutan, kehidupannya hutan, pertempuran dengan Rahwana, penobatannya sebagai raja Ayodhya, pembuangan Sita dalam persatuan hutan dan Rama dengan anak kembarnya semua ditulis oleh Walmiki sebagai sejarah kontemporer.Namun kelahiran Rama serta kematian yang diriwayatkan oleh beberapa Walmiki lain dalam silsilah Valmiki asli sebagai Purāna (atau sebagai pra-sejarah).

Kata Purāna berarti tua atau kuno. Kata ini dimaksudkan sebagai nama jenis buku yang berisikan cerita dan keterangan mengenai tradisi-tradisi yang berlaku pada zaman dahulu kala. Berdasarkan bentuk dan sifat isinya, Purāna adalah sebuah Itihāsa karena di dalamnya memuat catatan-catatan tentang berbagai kejadian yang bersifat sejarah. Tetapi melihat kedudukanya, Purāna adalah merupakan jenis kitab Upaveda yang berdiri sendiri, sejajar pula dengan Itihāsa. Ini tampak ketika membaca keterangan yang menjelaskan bahwa untuk mengetahui isi Veda dengan baik, kita harus pula mengenal Itihāsa, Purāna, dan Ākhyāna. Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Purāna adalah kitab yang memuat berbagai macam tradisi atau kebiasaan dan keterangan-keterangan lainnya, baik itu tradisi, tradisi lokal, tradisi keluarga, dan lainnya. Oleh karena di dalamnya banyak memuat penjelasan mengenai kebiasaan para Rsi atau Nabi, alam pikiran atau ajaran serta kebiasaan yang dijalankan, maka Purāna adalah semacam kitab sunnahnya dalam agama Hindu atau sebagai dasar untuk memahami Śila dan Ācāra.

Sebagai kitab yang memiliki sifat Itihāsa, Purāna memuat banyak cerita mengenai silsilah raja-raja, sejarah perkembangan kerajaan Hindu dan berbagai dinastis pada masa itu. Hanya diharapkan untuk lebih selektif dalam penggunaanya dalam penelitian sejarah karena kurang akuratnya information yang diberikan. Data hanya bersifat deskriptif dan bukan didasarkan pada tahun kejadian dengan menyebutkan peristiwa kejadian, secara pasti. Karena itu untuk penelitian sejarah sebagai information positif kurang dapat diterima, (Sudirga dan Yoga Segara, 2014:61).

Ini tidak berarti harus kita abaikan sama sekali. Tidak. Di dalamnya banyak data-data yang kadang kala sangat membantu kita dalam mempelajari dan merekonstruksi latar belakang serta proses pertumbuhan sejarah Hindu secara tepat pula.


ii. Pokok-pokok isi Purāna

Pada garis besarnya, hampir semua Purāna memuat ceritera-ceritera yang secara tradisional dapat kita kelompokan ke dalam lima hal, yaitu:

  1. Tentang Kosmogoni atau mengenai penciptaan alam semesta.
  2. Tentang hari kiamat atau Pralaya.
  3. Tentang Silsilah raja-raja atau dinasti raja-raja Hindu yang terkenal.
  4. Tentang masa Manu atau Manwantara.
  5. Tentang sejerah perkembangan dinasti Surya atau Suryawangsa dan Chandrawangsa.

Kelima hal itu dirumuskan dalam kitab Wisnu Purāna III.half dozen.24, mengantarkan sebagai berikut:

“Sargaśca pratisargaśca wamśo manwantarāni ca, sarwesweteṣu kathyante waṃśān ucaritam ca yat”.

Dari ungkapan itu, jelas Viṣṇu Purāna mencoba memberi batasan tentang isi Purāna pada umumnya dan dapat disimpulkan sebagaimana dikemukakan di atas. Sarga dan pratisarga yaitu masa penciptaan dan pralaya atau masa kiamatnya dunia. Tentang wamsa yaitu tentang suku bangsa atau silsilah raja-raja yang penting dalam pengamatan sejarah. Tentang mawantara, yaitu jangka masa Manu, dari satu masa Manu ke masa Manu berikutnya, merupakan masa yang dikenal dengan Manwantara atau dari satu siklis Manu ke Siklus Manu berikutnya. Adapun bait kedua, yaitu mencakup segala cerita yang relevan pada dinasti itu dan yang terakhir mulai dari riwayat timbulnya Surya wangsa dan Chandra wangsa.

Di samping kitab Viṣṇu Purāna, banyak lagi kitab-kitab Purāna lainya yang isinya tidak hanya terbatas kepada kelima hal itu saja, melainkan memberi keterangan berbagai hal termasuk berbagai macam upacara Yajña dengan penggunaan mantranya, ilmu penyakit, pahala melakukan Tirthayatra, berbagai macam jenis upacara keagamaan, peraturan tentang cara memilih dan membangun tempat ibadah, peraturan tentang cara melakukan peresmian Candi, sejarah para dewa-dewa, berbagai macam jenis batu-batuan mulia, dan banyak lagi hal-hal yang sifatnya memberi keterangan kepada kita tentang sifat hidup di dunia ini.

Dari berbagai keterangan ini akhirnya dapat kita simpulkan bahwa kitab Purāna banyak sekali memberikan keterangan yang bersifat mendidik, baik mengenai ajaran Ketuhanan (Theologi) maupun cara-cara pengamalannya. Hanya sayangnya, sifat paedadogi yang diberikan sangat disederhanakan dan pada umumnya satu kitab akan bersifat fanatik pada cara penerangan dan pendiriannya, sering tanpa disadari telah menimbulkan dampak yang memberi citra yang kurang menguntungkan seperti teori Theisme melahirkan konsep Pantheisme hanya karena sekedar untuk memberi contoh-contoh yang kurang mendalam, (Sudirga dan Yoga Segara, 2014:62).

Dengan adanya keterangan yang bersifat heterogen, secara tidak langsung telah menimbulkan kesan adanya sifat Politheisme dan bermadzab-madzab. Secara ilmiah, pada dasarnya kitab Purāna bertujuan untuk memberi keterangan secara metodelogi yang amat penting dalam memberi keterangan tentang ajaran Ketuhanaan itu sendiri. Apabila kita tidak membaca seluruh Purāna dan tidak membatasi diri kita maka kita akan secara tidak sadar terbawa pada satu pandangan yang keliru. Bukan demikian maksud adanya kitab Purāna itu.

Menurut catatan yang dapat dikumpulkan, pada mulanya kita memiliki kurang lebih 18 kitab Purāna, yaitu masing-masing namanya adalah:

  1. Brahmānda Purāna.
  2. Brahmawaiwarta Purāna.
  3. Mārkandeya Purāna.
  4. Bhawisya Purāna.
  5. Wāmana Purāna.
  6. Brahama Purāna atau adhi Purāna.
  7. Wisnu Purāna.
  8. Nārada Purāna.
  9. Bhāgawata Purāna.
  10. Garuda Purāna.
  11. Padma Purāna.
  12. Warāha Purāna.
  13. Matsya Purāna.
  14. Karma Purāna.
  15. Lingga Purāna.
  16. Siwa Purāna.
  17. Skanda Purāna.
  18. Agni Purāna.

Selanjutnya yang perlu kita ketahui bahwa di Bali kita menemukan pula sejenis Purāna yang dinamakan dengan nama kitab Purāna pula, yaitu Rāja Purāna. Kitab Purāna ini dapat kita tambahkan ke dalam delapan belas Purāna yang ada. Kitab Rāja Purāna berisikan banyak catatan mengenai silsilah raja-raja yang pernah memerintah di Bali dan hubunganya dengan Jawa.


3. Pembagian jenis Purāna

Kitab Purāna secara menyeluruh dapat kita kelompokan ke dalam tiga kelompok. Pengelompokan kitab Purāna ini didasarkan pada isinya. Sebagai mana kita ketahui kitab Purāna menonjolkan sifat ke sekteanya. Untuk tujuan penonjolan madzab-madzab itu, tiap madzab pada umumnya memperlihatkan kekhususannya dibidang theologi dan sangat fanatik dalam mempertahankan pendiriannya.

Sebagai akibat sifat kefanatikan itu maka apabila kita perhatikan keseluruh Purāna sebagai sumber ajaran theologi, tampak kepada kita seakan-akan adanya polytheisme karena setidak-tidaknya akan terlihat adanya tiga wujud sifat kekuasaan, yang umum kita kenal dengan Tri Murti atau tiga Wujud. Ketiga wujud itu, yaitu Brahma, Wisnu, dan Siwa, (Sudirga dan Yoga Segara, 2014:63).

Berdasarkan ketiga sifat hakikat itu yang kemudian merupakan perwujudan dari masing-masing madzab dalam agama Hindu, akhirnya Purāna seluruhnya dikelompokan ke dalam tiga macam kelompok, yaitu:

Kelompok Purāna ini mengutamakañ Wisnu sebagai Dewatanya. Kelompok kitab ini diwakili oleh enam buah buku Puranā, yaitu, Viṣṇu Purāna, Nārada Purāna, Bhāgawata Purāna, Garuda Purāna, Padma Purāna, dan Warāha Purāna. Sebagaimana telah dikemukakan, Dewa Wisnu adalah salah satu bentuk sifat Tuhan Y.One thousand.E. Sebagai Wisnu di dalam keenam kitab Purāna Wisnu menempati kedudukan yang tertinggi dan kadang kala ia juga diceritakan dalam berbagai wujud inkarnasinya (Awataranya). Kitab Wisnu Purāna adalah merupakan kitab Purāna yang dijadikan dasar untuk Purāna- Purāna lainya dalam kelompok Satwika. Yang kedua adalah kitab Bhāgawatam. Kitab Purāna ini dijadikan dasar terutama bagi kelompok gerakan Harekresna karena di dalam kitab ini diceritakan dengan panjang lebar riwayat Sri Kresna secara lengkap.

2. Kelompok Rajasika (Rajasa) Purāna

Dalam kelompok Rājasika ini, Dewa Brahma merupakan Dewatanya yang paling utama. Termasuk dalam kelompok ini terdiri atas enam buah kitab Purāna juga, yaitu: Brahmānda Purāna, Brahmawaiwasta Purāna, Mārkandeya Purāna, Bhawisya Purāna, Wamana Purāna, dan Brahma Purāna. Dari nama-nama itulah kita dapat menyimpulkan bahwa tokoh Dewatanya adalah Brahma. Brahma adalah salah satu dari Tri Murti dan merupakan salah satu dari bentuk sifat Ketuhanan Y.M.E, apabila kita kembalikan kepada Veda sebagai dasar Purāna. Adanya nama-nama seperti Mārkandeya di dalam tradisi yang dikenal di Bali, dan adanya kitab Brahmanda Purāna yang sering disebut-sebut terdapat di Bali, kesemuanya itu hanya dapat membuktikan bahwa di Bali pada zaman dahulu pernah berkembang madzab Brahmanisme di samping madzab Waisnawa atau Bhāgawata. Dalam berbagai jenis Purāna, terdapat keterangan bahwa kitab Brahmawaiswata Purāna keseluruhanya terbagi atas empat buah buku. Masing-masing dengan namanya sendiri-sendiri, seperti misalnya Brahma dan Markandeya Purāna dan Kresnakhanda. Kitab Markandeya isinya bersifat umum dan mirip seperti Raja Purāna. Adapun kitab Wamana Purāna, walaupun isinya memuat aspek Rajasa, tetapi kalau kita perhatikan isinya justru menceritakan riwayat Wisnu awatara yang turun menjelma sebagai Wamana (orang cebol). Adapun Kitab Brahma Purāna, kitab ini lebih terkenal dengan nama lain, yaitu, Adi Purāna dan diduga kitab asal mulanya ditulis oleh Vyāsa.

3. Kelompok Tamasika (Tamasa) Purāna

Kelompok yang ketiga ini terdiri atas enam buah kitab Purāna juga, yaitu Matsya Purāna, Kūrma Purāna, Lingga Purāna, Siwa Purāna, Skanda Purāna dan Agni Purāna. Menurut isinya, kitab Purāna ini banyak memuat penjelasan Dewa Siwa dengan segala Awataranya, di samping di sana sini terdapat pula Dewa Wisnu, seperti dalam Kurma Purāna. Matsya Purāna membahas tentang berbagai macam upacara/ ritual keagamaan, tentang firasat, dan banyak pula cerita mengenai sejarah dan sisilah para Resi dan Dewa-dewa, (Sudirga dan Yoga Segara, 2014:64).

Di dalam kitab ini terdapat pula keterangan berbagai jenis bangunan suci, cara membuatnya dan sedikit tentang wastu sastra. Isinya cukup luas. Kitab Kurma Purāna terdiri atas empat samhita. Salah satu samhita yang penting, antara lain Brahmi samhita yang menceritakan inkarnasi Dewa Śiwa. Adapun kitab lingga Purāna menceritakan banyak mengenai inkarnasi Dewa Śiwa yang terdiri atas 28 macam inkarnasi. Di samping itu terdapat pula keterangan mengenai berbagai macam ritual yang perlu diperhatikan. Adapun yang terbesar dari kelompok Tamasa ini adalah Siwa Purāna yang memiliki kurang lebih 12.000 stanza tetapi masih lebih kecil jika dibandingkan dengan Bhagawata Purāna, kitab ini tercatat memiliki kurang lebih 18.000 stanza.

Agni Purāna yang merupakan Purāna terbesar digolongan Tamasa Purāna, dikenal pula dengan nama Mahā Purāna. Nama ini menunjuk akan kebesaran dan keluasan isi Agni Purāna disamping Matsya Purāna. Berdasarkan catatan yang ada, Agni Purāna dibagi atas tiga pokok, yaitu:

  1. Yang pertama, sesuai dengan materinya disebut Sawarahasya-kanda.
  2. Yang kedua merupakan Waisnawa Purāna dan sebagai pelengkap pada Waisnawa Pancarata, membahas mengenai Vedanta dan Gita.
  3. Yang ketiga didalamnya membahas aspek Saigwasma dan memuat beberapa pokok ajaran mengenai ritual menurut tantrayana.

Berdasarkan asil penelitian diketahui bahwa Agni Purāna merupakan hasil karya Bhagawan Wasiṣṭha. Berdasarkan penjelasan dari Agni Purāna, dikemukakkan bahwa banyak cabang ilmu yang kemudian dikembangkan dinyatakan berasal dari Agni Purāna dan pernyataan ini mungkin sifatnya dibesar-besarkan saja. Berdasarkan kitab Agni Purāna inilah kita mendapatkan keterangan bahwa ilmu pengetahuan itu dibedakan atas dua macam, yaitu:

  1. Para widya, yaitu pengetahuan yang menyangkut masalah ketuhanan Y.M.E. dan dinyatakan sebagai pengetahuan tertinggi.
  2. Apara widya, yaitu pengetahuan yang menyangkut masalah duniawi.

Dari perumusan isi itu, jelas Agni Purāna memuat keterangan yang amat luas dan bermanfaat untuk diketahui. Yang paling penting kemanfaatan Agni Purāna adalah karena justru kitab ini memuat keterangan yang amat bermanfaat mengenai iconografi arca. Dengan mempelajari kitab-kitab Purāna itu diharapkan tingkat kebaktian dan keimanan seseorang akan dapat lebih mantap dan berkembang.

Di samping ke delapan belas Purāna pokok itu, kita banyak mencatat adanya jenis-jenis kitab Purāna yang lebih kecil dan suplemeter sifatnya. Kelompok itu kita kenal dengan nama Upa Purāna. Umunya jenis kitab Upa Purāna ini banyak ditulis oleh Bhagawan Wyāsa isinya sangat singkat dan pendek. Di samping itu materi isinya yang terbatas menyebabkan bentuknya lebih kecil. Dengan adanya beberapa penemuan tentang awig-awig yang berlaku di Besakih baik dalam bentuk Praśasti maupun dalam bentuk catatan-catatan di dalam ortal, kesemua itupun dapat kita kategorikan sebagai Upa Purāna. Untuk melihat pentingnya arti Purāna dalam pelaksanaan ajaran agama itulah kita tidak dapat mengabaikan betapapun kecilnya catatan-catatan yang ada yang terdapat diberbagai candi atau tempat peribadatan, (Sudirga dan Yoga Segara, 2014:65).

Sebagaimana telah dikemukakan, bahwa Purāna banyak memberi informasi yang bermanfaat kepada kita terutama dalam bidang pelaksanaan ajaran keagamaan atau Ācāra. Dengan tujuan untuk melengkapi keterangan yang diperlukan untuk memahami Veda, kitab Purāna itu sedikit banyaknya sangat bermanfaat. Kecuali untuk membuktikan sejarah secara materiil baru dapat kita gunakan apabila didukung oleh penemuan archaeologi lainya.

Adapun nama-nama yang tercatat sebagai Upa Purāna, Sanat kumara, Narasimhs, Brhannaradiya, Siswarahasiya, Durwasa, Kapila Wamana, Bhargawa, Waruna, Kalika, Samba, Nandi, Surya, Parasasra, Waiṣṭha, Dewi-Bhagawata, Ganesa dan Hamsa. Inilah beberapa jenis Upa Purāna yang penting sebagai tambahan kepada Purāna sebelum melengkapi tempat-tempat ibadah seperti candi dll. Dapat dilakukan terutama yang menyangkut pembuatan arca untuk tujuan ilmu Tantra.

Agni Purāna menyebutkan berbagai penulis hukum Hindu, seperti Manu, Viṣṇu, Yajñawalkya, Wasiṣṭha, Harita, Atri, Yama, Angira, Daksa, Samwarta, Satatapa, Parasasra, Apastambha, Usanasa, Wyāsa, Katyayana, Brhaspati Gautama, Sankha dan Likhita, (Sudirga dan Yoga Segara, 2014:66).

Sudirga, Ida Bagus dan Yoga Segara, I Nyoman. 2014. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti                 Untuk SMA/SMK Kelas 10 (cetakan ke-one). Djakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan,

Sebutkan Bagian Bagian Upaveda Beserta Artinya

Source: https://apamaksud.com/apa-yang-dimaksud-dengan-upaveda-dan-sebutkan-bagian-bagiannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.