Sebuah Atom Akan Bermuatan Positif Jika Atom Tersebut

Sebuah Atom Akan Bermuatan Positif Jika Atom Tersebut


Cantlet helium

Helium atom ground state.

Ilustrasi atom helium yang memperlihatkan inti atom (merah muda) dan distribusi awan elektron (hitam). Inti atom (kanan atas) mempunyai wujud simetris bulat, walaupun untuk inti atom yang semakin berbelit-belit dia tidaklah selalu demikian.
Klasifikasi

Satuan terkecil unsur kimia

Sifat-sifat
Kisaran massa: 1,67 × 10−27
sampai dengan 4,52 × 10−25 kg
Muatan listrik: nol (netral) ataupun muatan ion
Kisaran diameter: 62 pm (He) sampai dengan 520 pm (Cs)
Komponen: Elektron dan inti atom yang terdiri dari proton dan neutron

Atom
yaitu suatu satuan landasan materi, yang terdiri atas inti atom serta awan elektron bermuatan negatif yang mengelilinginya. Inti atom terdiri atas proton yang bermuatan positif, dan neutron yang bermuatan netral (kecuali pada inti atom Hidrogen-1, yang tidak memiliki neutron). Elektron-elektron pada sebuah cantlet terikat pada inti cantlet oleh gaya elektromagnetik. Sekumpulan cantlet demikian pula mampu berikatan satu sama lainnya, dan membentuk sebuah molekul. Atom yang mengandung banyak proton dan elektron yang sama bersifat netral, sedangkan yang mengandung banyak proton dan elektron yang berlainan bersifat positif atau negatif dan dinamakan sebagai ion. Atom dikelompokkan berlandaskan banyak proton dan neutron yang terdapat pada inti cantlet tersebut. Banyak proton pada cantlet menentukan unsur kimia cantlet tersebut, dan banyak neutron menentukan isotop unsur tersebut.

Istilah cantlet berasal dari Bahasa Yunani (ἄτομος/átomos, α-τεμνω), yang berfaedah tidak mampu dipotong ataupun sesuatu yang tidak mampu dibagi-bagi lagi. Pemikiran cantlet sebagai komponen yang tak mampu dibagi-bagi lagi pertama kali diajukan oleh para filsuf Republic of india dan Yunani. Pada masa waktu seratus tahun ke-17 dan ke-eighteen, para kimiawan meletak dasar-dasar pemikiran ini dengan menunjukkan bahwa zat-zat tertentu tidak mampu dibagi-bagi semakin jauh lagi menggunakan metode-metode kimia. Selama kesudahan masa waktu seratus tahun ke-19 dan awal masa waktu seratus tahun ke-20, para fisikawan sukses menemukan struktur dan komponen-komponen subatom di dalam cantlet, membuktikan bahwa ‘atom’ tidaklah tak mampu dibagi-bagi lagi. Prinsip-prinsip mekanika kuantum yang dipergunakan para fisikawan kemudian sukses memodelkan atom.[i]

Dalam pengamatan sehari-hari, secara relatif atom diasumsikan sebuah objek yang sangat kecil yang memiliki massa yang secara proporsional kecil pula. Atom hanya mampu dipantau dengan menggunakan peralatan khusus seperti mikroskop gaya atom. Semakin dari 99,9% massa atom berpusat pada inti atom,[catatan 1]
dengan proton dan neutron yang bermassa nyaris sama. Setiap unsur paling tidak memiliki satu isotop dengan inti yang tidak stabil, yang mampu mengalami peluruhan radioaktif. Hal ini mampu mengakibatkan transmutasi, yang mengubah banyak proton dan neutron pada inti.[2]
Elektron yang terikat pada atom mengandung sejumlah aras energi, ataupun orbital, yang stabil dan mampu mengalami transisi di selang aras tersebut dengan menyerap ataupun memancarkan foton yang sesuai dengan perbedaan energi selang aras. Elektron pada atom menentukan sifat-sifat kimiawi sebuah unsur, dan memengaruhi sifat-sifat magnetis atom tersebut.

Daftar inti

  • i
    Sejarah
  • 2
    Komponen-komponen atom

    • 2.1
      Partikel subatom
    • two.2
      Inti atom
    • 2.3
      Awan elektron
  • three
    Sifat-sifat

    • three.i
      Sifat-sifat nuklir
    • 3.two
      Massa
    • iii.3
      Ukuran
    • three.4
      Peluruhan radioaktif
    • iii.5
      Momen magnetik
    • 3.6
      Aras-aras energi
    • 3.seven
      Valensi dan perilaku ikatan
    • 3.viii
      Keadaan
  • 4
    Identifikasi
  • 5
    Asal usul dan kondisi sekarang

    • 5.1
      Nukleosintesis
    • v.2
      Bumi
    • 5.three
      Wujud teoritis dan wujud langka
  • half-dozen
    Lihat pula
  • seven
    Catatan
  • 8
    Referensi

    • 8.1
      Referensi buku
  • ix
    Pranala luar

Sejarah

Pemikiran bahwa materi terdiri dari satuan-satuan terpisah yang tidak mampu dibagi lagi menjadi satuan yang semakin kecil telah tidak sewenang-wenang selama satu milenium. Namun, pemikiran tersebut masihlah bersifat niskala dan filosofis, daripada berlandaskan pengamatan empiris dan eksperimen. Secara filosofis, deskripsi sifat-sifat atom bervariasi tergantung pada norma budaya istiadat dan arus filosofi tersebut, dan seringkali pula mengandung unsur-unsur spiritual di dalamnya. Walaupun demikian, pemikiran landasan mengenai atom mampu diterima oleh para ilmuwan ribuan tahun kemudian, karena dia secara elegan mampu menjelaskan penemuan-penemuan baru pada anggota kimia.[three]

Rujukan paling awal mengenai pemikiran atom mampu ditilik kembali kepada ratus tahun India kuno pada tahun 800 sebelum masehi,[four]
yang dijelaskan dalam naskah filsafat Jainisme sebagai
anu
dan
paramanu.[4]
[v]
Arus mazhab Nyaya dan Vaisesika mengembangkan teori yang menjelaskan bagaimana atom-atom bergabung menjadi benda-benda yang semakin kompleks.[vi]
Satu masa waktu seratus tahun kemudian muncul rujukan mengenai cantlet di lingkungan kehidupan Barat oleh Leukippos, yang kemudian oleh muridnya Demokritos pandangan tersebut disistematiskan. Sekitar pada tahun 450 SM, Demokritos menciptakan istilah
átomos
(bahasa Yunani:
ἄτομος), yang berfaedah “tidak mampu dipotong” ataupun “tidak mampu dibagi-bagi lagi”. Teori Demokritos mengenai cantlet bukanlah usaha untuk menjabarkan suatu fenomena fisis secara rinci, melainkan suatu filosofi yang mencoba untuk memberikan jawaban atas perubahan-perubahan yang terjadi pada lingkungan kehidupan.[1]
Filosofi serupa juga terjadi di India, namun demikian ilmu ilmu modern memutuskan untuk menggunakan istilah “atom” yang dicetuskan oleh Demokritos.[3]

Kemajuan semakin jauh pada pemahaman mengenai atom dimulai dengan mengembangnya ilmu kimia. Pada tahun 1661, Robert Boyle mempublikasikan buku
The Sceptical Chymist
yang bertukar kelicikan bahwa materi-materi di lingkungan kehidupan ini terdiri dari berbagai kombinasi
“corpuscules”, yaitu cantlet-atom yang berlainan. Hal ini berlainan dengan pandangan klasik yang berpendapat bahwa materi terdiri dari unsur-unsur udara, tanah, api, dan cairan.[vii]
Pada tahun 1789, istilah
chemical element
(unsur) dirumuskan oleh seorang bangsawan dan peneliti Perancis, Antoine Lavoisier, sebagai bahan landasan yang tidak mampu dibagi-bagi semakin jauh lagi dengan menggunakan metode-metode kimia.[viii]

Berbagai atom dan molekul yang digambarkan pada buku John Dalton,
A New System of Chemic Philosophy
(1808).

Pada tahun 1803, John Dalton menggunakan pemikiran atom untuk menjelaskan mengapa unsur-unsur selalu bereaksi dalam perbandingan yang bulat dan tetap, serta mengapa gas-gas tertentu semakin larut dalam cairan dibandingkan dengan gas-gas lainnya. Dia mengajukan argumen bahwa setiap unsur mengandung cantlet-atom tunggal unik, dan cantlet-atom tersebut kemudian mampu bergabung untuk membentuk senyawa-senyawa kimia.[9]
[10]

Teori partikel ini kemudian dikonfirmasikan semakin jauh lagi pada tahun 1827, yaitu ketika botaniwan Robert Brown menggunakan mikroskop untuk mengamati debu-debu yang mengambang di atas cairan dan menemukan bahwa debu-debu tersebut memperagakan usaha secara acak. Fenomena ini kemudian dikenal sebagai “Gerak Brown”. Pada tahun 1877, J. Desaulx mengajukan argumen bahwa fenomena ini disebabkan oleh gerak termal molekul cairan, dan pada tahun 1905 Albert Einstein membuat analisis matematika terhadap gerak ini.[11]
[12]
[13]
Fisikawan Perancis Jean Perrin kemudian menggunakan hasil kerja Einstein untuk menentukan massa dan dimensi atom secara eksperimen, yang kemudian dengan pasti menjadi verifikasi atas teori atom Dalton.[14]

Berlandaskan hasil penelitiannya terhadap sinar katode, pada tahun 1897 J. J. Thomson menemukan elektron dan sifat-sifat subatomiknya. Hal ini meruntuhkan pemikiran atom sebagai satuan yang tidak mampu dibagi-bagi lagi.[15]
Thomson percaya bahwa elektron-elektron terdistribusi secara merata di seluruh atom, dan muatan-muatannya diseimbangkan oleh keberadaan lautan muatan positif (model puding prem).

Namun pada tahun 1909, para peneliti di bawah arahan Ernest Rutherford menembakkan ion helium ke lembaran tipis emas, dan menemukan bahwa beberapa kecil ion tersebut dipantulkan dengan sudut pantulan yang semakin tajam dari yang apa yang diprediksikan oleh teori Thomson. Rutherford kemudian mengajukan argumen bahwa muatan positif suatu atom dan kebanyakan massanya terkonsentrasi pada inti cantlet, dengan elektron yang mengitari inti atom seperti planet mengitari matahari. Muatan positif ion helium yang melewati inti padat ini haruslah dipantulkan dengan sudut pantulan yang semakin tajam. Pada tahun 1913, ketika bereksperimen dengan hasil ronde peluruhan radioaktif, Frederick Soddy menemukan bahwa terdapat semakin dari satu jenis atom pada setiap posisi tabel periodik.[16]
Istilah isotop kemudian diciptakan oleh Margaret Todd sebagai nama yang tepat untuk cantlet-atom yang berlainan namun yaitu satu unsur yang sama. J.J. Thomson kemudian menemukan teknik untuk memisahkan jenis-jenis atom tersebut melalui hasil kerjanya pada gas yang terionisasi.[17]

Sementara itu, pada tahun 1913 fisikawan Niels Bohr mengkaji ulang model atom Rutherford dan mengajukan argumen bahwa elektron-elektron terletak pada orbit-orbit yang terkuantisasi serta mampu meloncat dari satu orbit ke orbit lainnya, meskipun demikian tidak mampu dengan lepas sama sekali berputar spiral ke dalam maupun keluar dalam keadaan transisi.[18]
Suatu elektron haruslah menyerap ataupun memancarkan sejumlah energi tertentu untuk mampu memperagakan transisi selang orbit-orbit yang tetap ini. Apabila cahaya dari materi yang dipanaskan memancar melalui prisma, dia menghasilkan suatu spektrum multiwarna. Penampakan garis-garis spektrum tertentu ini sukses dijelaskan oleh teori transisi orbital ini.[19]

Ikatan kimia antar cantlet kemudian pada tahun 1916 dijelaskan oleh Gilbert Newton Lewis sebagai interaksi selang elektron-elektron atom tersebut.[xx]
Atas tidak sewenang-wenangnya keteraturan sifat-sifat kimiawi dalam tabel periode kimia,[21]
kimiawan Amerika Irving Langmuir tahun 1919 berpendapat bahwa hal ini mampu dijelaskan apabila elektron-elektron pada sebuah cantlet saling berkenaan atau bersama-sama menjadi satu golongan dalam bentuk-bentuk tertentu. Sekelompok elektron diperkirakan menduduki satu set kelopak elektron di sekitar inti atom.

Percobaan Stern-Gerlach pada tahun 1922 memberikan bukti semakin jauh mengenai sifat-sifat kuantum atom. Ketika seberkas atom perak ditembakkan melalui area magnet, berkas tersebut terpisah-pisah sesuai dengan arah momentum sudut cantlet (spin). Oleh karena arah spin yaitu acak, berkas ini diharapkan menyebar menjadi satu garis. Namun pada kenyataannya berkas ini terbagi menjadi dua anggota, tergantung dari apakah spin cantlet tersebut berpandangan ke atas ataupun ke bawah.[22]

Pada tahun 1926, dengan menggunakan pemikiran Louis de Broglie bahwa partikel berperilaku seperti gelombang, Erwin Schrödinger mengembangkan suatu model atom matematis yang menggambarkan elektron sebagai gelombang tiga dimensi daripada sebagai titik-titik partikel. Konsekuensi penggunaan wujud gelombang untuk menjelaskan elektron ini yaitu bahwa yaitu tidak mungkin untuk secara matematis menghitung posisi dan momentum partikel secara bersamaan. Hal ini kemudian dikenal sebagai prinsip ketidakpastian, yang dirumuskan oleh Werner Heisenberg pada 1926. Menurut pemikiran ini, untuk setiap pengukuran suatu posisi, seseorang hanya bisa mendapatkan kisaran nilai-nilai probabilitas momentum, demikian pula sebaliknya. Walaupun model ini sulit untuk divisualisasikan, dia mampu dengan patut menjelaskan sifat-sifat cantlet yang terpantau yang sebelumnya tidak mampu dijelaskan oleh teori mana pun. Oleh sebab itu, model cantlet yang menggambarkan elektron mengitari inti atom seperti planet mengitari matahari digugurkan dan dialihkan oleh model orbital cantlet di sekitar inti di mana elektron paling berkemungkinan berada.[23]
[24]

Diagram skema spetrometer massa sederhana.

Perkembangan pada spektrometri massa mengijinkan dilakukannya pengukuran massa atom secara tepat. Peralatan spektrometer ini menggunakan magnet untuk membelokkan trayektori berkas ion, dan banyaknya defleksi ditentukan dengan rasio massa atom terhadap muatannya. Kimiawan Francis William Aston menggunakan peralatan ini untuk menunjukkan bahwa isotop memiliki massa yang berlainan. Perbedaan massa antar isotop ini berupa bilangan bulat, dan dia dinamakan sebagai kaidah bilangan bulat.[25]
Penjelasan pada perbedaan massa isotop ini sukses dipecahkan setelah ditemukannya neutron, suatu partikel bermuatan netral dengan massa yang nyaris sama dengan proton, yaitu oleh James Chadwick pada tahun 1932. Isotop kemudian dijelaskan sebagai unsur dengan banyak proton yang sama, namun memiliki banyak neutron yang berlainan dalam inti atom.[26]

Pada tahun 1950-an, perkembangan pemercepat partikel dan detektor partikel mengijinkan para ilmuwan mempelajari dampak-dampak dari atom yang memperagakan usaha dengan energi yang tinggi.[27]
Neutron dan proton kemudian dikenal sebagai hadron, yaitu komposit partikel-partikel kecil yang dinamakan sebagai kuark. Model-model standar fisika nuklir kemudian dikembangkan untuk menjelaskan sifat-sifat inti atom dalam hal interaksi partikel subatom ini.[28]

Sekitar tahun 1985, Steven Chu dkk. di Bell Labs mengembangkan sebuah teknik untuk menurunkan temperatur atom menggunakan laser. Pada tahun yang sama, sekelompok ilmuwan yang diketuai oleh William D. Phillips sukses memerangkap cantlet natrium dalam perangkap magnet. Claude Cohen-Tannoudji kemudian menggabungkan kedua teknik tersebut untuk mendinginkan sejumlah kecil atom sampai beberapa mikrokelvin. Hal ini mengijinkan ilmuwan mempelajari cantlet dengan presisi yang sangat tinggi, yang pada kesudahannya membawa para ilmuwan menemukan kondensasi Bose-Einstein.[29]

Dalam sejarahnya, sebuah atom tunggal sangatlah kecil untuk dipergunakan dalam aplikasi ilmiah. Namun baru-baru ini, berbagai peranti yang menggunakan sebuah atom tunggal logam yang dihubungkan dengan ligan-ligan organik (transistor elektron tunggal) telah dihasilkan.[xxx]
Berbagai penelitian telah dilakukan untuk memerangkap dan memperlambat laju atom menggunakan pendinginan laser untuk mendapatkan pemahaman yang semakin patut mengenai sifat-sifat atom.[31]

Komponen-komponen cantlet

Partikel subatom

Walaupun awalnya kata
atom
berfaedah suatu partikel yang tidak mampu dipotong-potong lagi menjadi partikel yang semakin kecil, dalam terminologi ilmu ilmu modern, atom tersusun atas berbagai partikel subatom. Partikel-partikel penyusun atom ini yaitu elektron, proton, dan neutron. Namun hidrogen-1 tidak memiliki neutron. Demikian pula halnya pada ion hidrogen positif H+.

Dari kesemua partikel subatom ini, elektron yaitu yang paling ringan, dengan massa elektron sebesar 9,eleven × 10−31 kg dan memiliki muatan negatif. Ukuran elektron sangatlah kecil sedemikiannya tiada teknik pengukuran yang mampu dipergunakan untuk mengukur ukurannya.[32]
Proton memiliki muatan positif dan massa 1.836 kali semakin berat daripada elektron (1,6726 × 10−27 kg). Neutron tidak bermuatan listrik dan bermassa lepas sama sekali one.839 kali massa elektron[33]
atau (one,6929 × ten−27 kg).

Dalam model standar fisika, patut proton dan neutron terdiri dari partikel elementer yang dinamakan kuark. Kuark termasuk kedalam golongan partikel fermion dan yaitu salah satu dari dua bahan penyusun materi landasan (yang lainnya yaitu lepton). Terdapat enam jenis kuark dan tiap-tiap kuark tersebut memiliki muatan listri fraksional sebesar +two/3 ataupun −i/iii. Proton terdiri dari dua kuark naik dan satu kuark turun, manakala neutron terdiri dari satu kuark naik dan dua kuark turun. Perbedaan komposisi kuark ini memengaruhi perbedaan massa dan muatan selang dua partikel tersebut. Kuark terikat bersama oleh gaya nuklir kuat yang diperantarai oleh gluon. Gluon yaitu anggota dari boson tolok yang yaitu perantara gaya-gaya fisika.[34]
[35]

Inti atom

Energi pengikatan yang diperlukan oleh nukleon untuk lolos dari inti pada berbagai isotop.

Inti atom terdiri atas proton dan neutron yang terikat bersama pada pusat atom. Secara kolektif, proton dan neutron tersebut dinamakan sebagai nukleon (partikel penyusun inti). Diameter inti atom berkisar selang 10-15
sampai 10-14chiliad.[36]
Jari-jari inti diperkirakan sama dengan
egin{smallmatrix}1,07 sqrt[3]{A}end{smallmatrix}  fm, dengan
A
yaitu banyak nukleon.[37]
Hal ini sangatlah kecil dibandingkan dengan jari-jari atom. Nukleon-nukleon tersebut terikat bersama oleh gaya tarik-menarik potensial yang dinamakan gaya kuat residue. Pada jarak semakin kecil daripada 2,5 fm, gaya ini semakin kuat daripada gaya elektrostatik yang menyebabkan proton saling tolak menolak.[38]

Cantlet dari unsur kimia yang sama memiliki banyak proton yang sama, dinamakan nomor atom. Suatu unsur mampu memiliki banyak neutron yang bervariasi. Variasi ini dinamakan sebagai isotop. Banyak proton dan neutron suatu atom akan menentukan nuklida atom tersebut, sedangkan banyak neutron relatif terhadap banyak proton akan menentukan stabilitas inti cantlet, dengan isotop unsur tertentu akan menjalankan peluruhan radioaktif.[39]

Neutron dan proton yaitu dua jenis fermion yang berlainan. Asas pengecualian Pauli melarang tidak sewenang-wenangnya keberadaan fermion yang
identik
(seperti misalnya proton berganda) menduduki suatu keadaan fisik kuantum yang sama pada waktu yang sama. Oleh karena itu, setiap proton dalam inti atom harusnya menduduki keadaan kuantum yang berlainan dengan aras energinya masing-masing. Asas Pauli ini juga berjalan untuk neutron. Pelarangan ini tidak berjalan untuk proton dan neutron yang menduduki keadaan kuantum yang sama.[40]

Untuk cantlet dengan nomor atom yang rendah, inti cantlet yang memiliki banyak proton semakin banyak daripada neutron berpotensi jatuh ke keadaan energi yang semakin rendah melalui peluruhan radioaktif yang menyebabkan banyak proton dan neutron seimbang. Oleh karena itu, cantlet dengan banyak proton dan neutron yang berimbang semakin stabil dan cenderung tidak meluruh. Namun, dengan meningkatnya nomor atom, gaya tolak-menolak antar proton membuat inti atom memerlukan proporsi neutron yang semakin tinggi lagi untuk menjaga stabilitasnya. Pada inti yang paling berat, rasio neutron per proton yang diperlukan untuk menjaga stabilitasnya akan meningkat menjadi ane,5.[40]

Gambaran ronde fusi nuklir yang menghasilkan inti deuterium (terdiri dari satu proton dan satu neutron). Satu positron (e+) dipancarkan bersamaan dengan neutrino elektron.

Banyak proton dan neutron pada inti atom mampu diubah, walaupun hal ini memerlukan energi yang sangat tinggi oleh karena gaya atraksinya yang kuat. Fusi nuklir terjadi ketika banyak partikel atom bergabung membentuk inti yang semakin berat. Sebagai contoh, pada inti Matahari, proton memerlukan energi sekitar iii–ten keV untuk mengatasi gaya tolak-menolak antar sesamanya dan bergabung menjadi satu inti.[41]
Fisi nuklir yaitu kebalikan dari ronde fusi. Pada fisi nuklir, inti dipecah menjadi dua inti yang semakin kecil. Hal ini kebanyakan terjadi melalui peluruhan radioaktif. Inti atom juga mampu diubah melalui penembakan partikel subatom berenergi tinggi. Apabila hal ini mengubah banyak proton dalam inti, atom tersebut akan berubah unsurnya.[42]
[43]

Bila massa inti setelah terjadinya reaksi fusi semakin kecil daripada banyak massa partikel awal penyusunnya, karenanya perbedaan ini disebabkan oleh pelepasan pancaran energi (misalnya sinar gamma), sebagaimana yang ditemukan pada rumus kesetaraan massa-energi Einstein,
East =mc
2, dengan
m
yaitu massa yang hilang dan
c
yaitu kecepatan cahaya. Defisit ini yaitu anggota dari energi pengikatan inti yang baru.[44]

Fusi dua inti yang menghasilkan inti yang semakin agung dengan nomor cantlet semakin rendah daripada besi dan nikel (jumlah total nukleon sama dengan 60) kebanyakan bersifat eksotermik, yang berfaedah bahwa ronde ini melepaskan energi.[45]
Yaitu ronde pelepasan energi inilah yang membuat fusi nuklir pada bintang mampu dipertahankan. Untuk inti yang semakin berat, energi pengikatan per nukleon dalam inti mulai menurun. Ini berfaedah bahwa ronde fusi akan bersifat endotermik.[40]

Awan elektron

Sumur potensial yang menunjukkan energi minimum
Five(ten) yang diperlukan untuk mencapai tiap-tiap posisi
x. Suatu partikel dengan energi
E
dibatasi pada kisaran posisi selang
x
one
dan
ten
two.

Elektron dalam suatu atom ditarik oleh proton dalam inti atom melalui gaya elektromagnetik. Gaya ini mengikat elektron dalam sumur potensi elektrostatik di sekitar inti. Hal ini berfaedah bahwa energi luar diperlukan supaya elektron mampu lolos dari atom. Semakin tidak jauh suatu elektron dalam inti, semakin agung gaya atraksinya, sehingga elektron yang berada tidak jauh dengan pusat sumur potensi memerlukan energi yang semakin agung untuk lolos.

Elektron, sama seperti partikel lainnya, memiliki sifat seperti partikel maupun seperti gelombang (dualisme gelombang-partikel). Awan elektron yaitu suatu kawasan dalam sumur potensi di mana tiap-tiap elektron menghasilkan sejenis gelombang diam (yaitu gelombang yang tidak memperagakan usaha relatif terhadap inti) tiga dimensi. Perilaku ini ditentukan oleh orbital atom, yakni suatu fungsi matematika yang menghitung probabilitas suatu elektron akan muncul pada suatu lokasi tertentu ketika posisinya diukur.[46]
Hanya akan tidak sewenang-wenang satu himpunan orbital tertentu yang berada disekitar inti, karena pola-pola gelombang lainnya akan dengan cepat meluruh menjadi wujud yang semakin stabil.[47]

Fungsi gelombang dari lima orbital atom pertama. Tiga orbital 2p memperlihatkan satu biidang simpul.

Tiap-tiap orbital atom berkoresponden terhadap aras energi elektron tertentu. Elektron mampu berubah keadaannya ke aras energi yang semakin tinggi dengan menyerap sebuah foton. Selain mampu naik menuju aras energi yang semakin tinggi, suatu elektron mampu pula turun ke keadaan energi yang semakin rendah dengan memancarkan energi yang tidak sewenang-wenang lebihnya sebagai foton.[47]

Energi yang diperlukan untuk melepaskan ataupun menambah satu elektron (energi pengikatan elektron) yaitu semakin kecil daripada energi pengikatan nukleon. Sebagai contohnya, hanya diperlukan xiii,vi eV untuk melepaskan elektron dari cantlet hidrogen.[48]
Bandingkan dengan energi sebesar 2,iii MeV yang diperlukan untuk memecah inti deuterium.[49]
Atom bermuatan listrik netral oleh karena banyak proton dan elektronnya yang sama. Atom yang kekurangan ataupun keunggulan elektron dinamakan sebagai ion. Elektron yang terletak paling luar dari inti mampu ditransfer ataupun dibagi ke atom terdekat lainnya. Dengan kegiatan inilah, atom mampu saling berikatan membentuk molekul.[50]

Sifat-sifat

Sifat-sifat nuklir

Berlandaskan ciri utama, dua cantlet dengan banyak
proton
yang identik dalam intinya termasuk ke dalam unsur kimia yang sama. Atom dengan banyak proton sama namun dengan banyak
neutron
berlainan yaitu dua isotop berlainan dari satu unsur yang sama. Sebagai contohnya, semua hidrogen memiliki satu proton, namun terdapat satu isotop hidrogen yang tidak memiliki neutron (hidrogen-one), satu isotop yang memiliki satu neutron (deuterium), dua neutron (tritium), dll. Hidrogen-1 yaitu wujud isotop hidrogen yang paling umum. Kadang-kadang dia dinamakan sebagai protium.[51]
Semua isotop unsur yang bernomor atom semakin agung daripada 82 bersifat radioaktif.[52]
[53]

Dari sekitar 339 nuklida yang terbentuk secara alami di Bumi, 269 di selangnya belum pernah terpantau meluruh.[54]
Pada unsur kimia, 80 dari unsur yang dikenal memiliki satu atau semakin isotop stabil. Unsur 43, 63, dan semua unsur semakin tinggi dari 83 tidak memiliki isotop stabil. Dua puluh tujuh unsur hanya memiliki satu isotop stabil, manakala banyak isotop stabil yang paling banyak terpantau pada unsur timah dengan x jenis isotop stabil.[55]

Massa

Karena mayoritas massa atom berasal dari proton dan neutron, banyak keseluruhan partikel ini dalam cantlet dinamakan sebagai nomor massa. Massa atom pada keadaan diam sering diekspresikan menggunakan satuan massa atom (u) yang juga dinamakan dalton (Da). Satuan ini dirumuskan sebagai seperduabelas massa atom karbon-12 netral, yang sekitar sebesar 1,66 × ten−27 kg.[56]
Hidrogen-1 yang yaitu isotop teringan hidrogen memiliki bobot atom 1,007825 u.[57]
Cantlet memiliki massa yang sekitar sama dengan nomor massanya dikalikan satuan massa atom.[58]
Cantlet stabil yang paling berat yaitu timbal-208,[52]
dengan massa sebesar 207,9766521 u.[59]

Para kimiawan kebanyakan menggunakan satuan mol untuk menyatakan banyak atom. Satu mol dirumuskan sebagai banyak cantlet yang terdapat pada 12 gram persis karbon-12. Banyak ini yaitu sekitar vi,022 × 1023, yang dikenal pula dengan nama tetapan Avogadro. Dengan demikian suatu unsur dengan massa atom 1 u akan memiliki satu mol cantlet yang bermassa 0,001 kg. Sebagai contohnya, Karbon memiliki massa atom 12 u, sehingga satu mol karbon cantlet memiliki massa 0,012 kg.[56]

Ukuran

Atom tidak memiliki batas luar yang jelas, sehingga dimensi cantlet kebanyakan dideskripsikan sebagai jarak selang dua inti cantlet ketika dua atom bergabung bersama dalam ikatan kimia. Jari-jari ini bervariasi tergantung pada jenis cantlet, jenis ikatan yang terlibat, banyak atom di sekitarnya, dan spin atom.[lx]
Pada tabel periodik unsur-unsur, jari-jari cantlet akan cenderung meningkat seiring dengan meningkatnya periode (atas ke bawah). Sebaliknya jari-jari atom akan cenderung meningkat seiring dengan menurunnya nomor golongan (kanan ke kiri).[61]
Oleh karena itu, atom yang terkecil yaitu helium dengan jari-jari 32 pm, manakala yang terbesar yaitu sesium dengan jari-jari 225 pm.[62]
Dimensi ini ribuan kali semakin kecil daripada gelombang cahaya (400–700 nm), sehingga atom tidak mampu diawasi menggunakan mikroskop optik biasa. Namun, atom mampu dipantau menggunakan mikroskop gaya cantlet.

Ukuran atom sangatlah kecil, sedemikian kecilnya luas satu helai rambut mampu menampung sekitar one juta atom karbon.[63]
Satu tetes cairan pula mengandung sekitar 2 × 1021
atom oksigen.[64]
Intan satu karat dengan massa ii × ten-4 kg mengandung sekitar 1022
atom karbon.[catatan 2]
Bila sebuah apel diperbesar sampai seukuran agungnya Bumi, karenanya atom dalam apel tersebut akan terlihat sebesar ukuran apel awal tersebut.[65]

Peluruhan radioaktif

Diagram ini menunjukkan waktu paruh (T½) beberapa isotop dengan banyak proton Z dan banyak proton Northward (dalam satuan detik).

Setiap unsur memiliki satu atau semakin isotop berinti tak stabil yang akan mengalami peluruhan radioaktif, menyebabkan inti melepaskan partikel ataupun radiasi elektromagnetik. Radioaktivitas mampu terjadi ketika jari-jari inti sangat agung dibandingkan dengan jari-jari gaya kuat (hanya memperagakan pekerjaan pada jarak sekitar i fm).[66]

Bentuk-bentuk peluruhan radioaktif yang paling umum adalah:[67]
[68]

  • Peluruhan alfa, terjadi ketika suatu inti memancarkan partikel alfa (inti helium yang terdiri dari dua proton dan dua neutron). Hasil peluruhan ini yaitu unsur baru dengan nomor atom yang semakin kecil.
  • Peluruhan beta, diatur oleh gaya lemah, dan dihasilkan oleh transformasi neutron menjadi proton, ataupun proton menjadi neutron. Transformasi neutron menjadi proton akan didampingi oleh emisi satu elektron dan satu antineutrino, manakala transformasi proton menjadi neutron didampingi oleh emisi satu positron dan satu neutrino. Emisi elektron ataupun emisi positron dinamakan sebagai partikel beta. Peluruhan beta mampu meningkatkan maupun menurunkan nomor atom inti sebesar satu.
  • Peluruhan gama, dihasilkan oleh perubahan pada aras energi inti ke keadaan yang semakin rendah, menyebabkan emisi radiasi elektromagnetik. Hal ini mampu terjadi setelah emisi partikel alfa ataupun beta dari peluruhan radioaktif.

Jenis-jenis peluruhan radioaktif lainnya yang semakin jarang meliputi pelepasan neutron dan proton dari inti, emisi semakin dari satu partikel beta, ataupun peluruhan yang mengakibatkan produksi elektron berkecepatan tinggi yang bukan sinar beta, dan produksi foton berenergi tinggi yang bukan sinar gama

Tiap-tiap isotop radioaktif memiliki karakteristik periode waktu peluruhan (waktu paruh) yang yaitu lamanya waktu yang diperlukan oleh setengah banyak sampel untuk meluruh habis. Ronde peluruhan bersifat eksponensial, sehingga setelah dua waktu paruh, hanya akan tersisa 25% isotop.[66]

Momen magnetik

Setiap partikel elementer memiliki sifat mekanika kuantum intrinsik yang dikenal dengan nama spin. Spin beranalogi dengan momentum sudut suatu objek yang berputar pada pusat massanya, walaupun secara kaku partikel tidaklah berperilaku seperti ini. Spin diukur dalam satuan tetapan Planck tereduksi (ħ), dengan elektron, proton, dan neutron semuanya memiliki spin ½ ħ, atau “spin-½”. Dalam atom, elektron yang memperagakan usaha di sekitar inti atom selain memiliki spin juga memiliki momentum sudut orbital, manakala inti atom memiliki momentum sudut pula oleh karena spin nuklirnya sendiri.[69]

Area magnet yang dihasilkan oleh suatu cantlet (disebut momen magnetik) ditentukan oleh kombinasi berbagai jenis momentum sudut ini. Namun, kontribusi yang terbesar tetap berasal dari spin. Oleh karena elektron mematuhi asas pengecualian Pauli, yakni tiada dua elektron yang mampu ditemukan pada keadaan kuantum yang sama, pasangan elektron yang terikat satu sama lainnya memiliki spin yang berlawanan, dengan satu berspin naik, dan yang satunya lagi berspin turun. Kedua spin yang berlawanan ini akan saling menetralkan, sehingga momen dipol magnetik totalnya menjadi nol pada beberapa atom berjumlah elektron genap.[70]

Pada atom berelektron mengherankan seperti besi, tidak sewenang-wenangnya keberadaan elektron yang tak berpasangan menyebabkan atom tersebut bersifat feromagnetik. Orbital-orbital cantlet di sekeliling atom tersebut saling bertumpang tindih dan penurunan keadaan energi dicapai ketika spin elektron yang tak berpasangan tersusun saling berjajar. Ronde ini dinamakan sebagai interaksi pertukaran. Ketika momen magnetik atom feromagnetik tersusun berjajaran, bahan yang tersusun oleh cantlet ini mampu menghasilkan area makroskopis yang mampu dideteksi. Bahan-bahan yang bersifat paramagnetik memiliki atom dengan momen magnetik yang tersusun acak, sehingga tiada area magnet yang dihasilkan. Namun, momen magnetik tiap-tiap atom individu tersebut akan tersusun berjajar ketika diberikan area magnet.[70]
[71]

Inti atom juga mampu memiliki spin. Kebanyakan spin inti tersusun secara acak oleh karena kesetimbangan termal. Namun, untuk unsur-unsur tertentu (seperti xenon-129), yaitu mungkin untuk memolarisasi keadaan spin nuklir secara signifikan sehingga spin-spin tersebut tersusun berjajar dengan arah yang sama. Kondisi ini dinamakan sebagai hiperpolarisasi. Fenomena ini memiliki aplikasi yang penting dalam pencitraan resonansi magnetik.[72]
[73]

Aras-aras energi

Ketika suatu elektron terikat pada sebuah cantlet, dia memiliki energi potensial yang berbanding terbalik terhadap jarak elektron terhadap inti. Hal ini diukur oleh agungnya energi yang diperlukan untuk melepaskan elektron dari atom dan kebanyakan diekspresikan dengan satuan elektronvolt (eV). Dalam model mekanika kuantum, elektron-elektron yang terikat hanya mampu menduduki satu ready keadaan yang berpusat pada inti, dan tiap-tiap keadaan berkorespondensi terhadap aras energi tertentu. Keadaan energi terendah suatu elektron yang terikat dinamakan sebagai keadaan landasan, manakala keadaan energi yang semakin tinggi dinamakan sebagai keadaan tereksitasi.[74]

Supaya suatu elektron mampu meloncat dari satu keadaan ke keadaan lainnya, dia haruslah menyerap ataupun memancarkan foton pada energi yang sesuai dengan perbedaan energi potensial antar dua aras tersebut. Energi foton yang dipancarkan yaitu sebanding dengan frekuensinya.[75]
Tiap-tiap unsur memiliki spektrum karakteristiknya masing-masing. Hal ini bergantung pada muatan inti, subkelopak yang terisi dengan elektron, interaksi elektromagnetik antar elektron, dan faktor-faktor lainnya.[76]

Contoh garis absorpsi spektrum.

Ketika suatu spektrum energi yang berkelanjutan dipancarkan melalui suatu gas ataupun plasma, beberapa foton diserap oleh atom, menyebabkan elektron berpindah aras energi. Elektron yang tereksitasi akan secara spontan memancarkan energi ini sebagai foton dan jatuh kembali ke aras energi yang semakin rendah. Oleh karena itu, atom berperilaku seperti bahan penyaring yang akan membentuk sederetan pita absorpsi. Pengukuran spektroskopi terhadap kekuatan dan luas pita spektrum mengijinkan penentuan komposisi dan sifat-sifat fisika suatu zat.[77]

Pemantauan cermat pada garis-garis spektrum menunjukkan bahwa beberapa memperlihatkan tidak sewenang-wenangnya pemisahan halus. Hal ini terjadi karena kopling spin-orbit yang yaitu interaksi selang spin dengan gerak elektron terluar.[78]
Ketika suatu atom berada dalam area magnet eksternal, garis-garis spektrum terpisah menjadi tiga atau semakin komponen. Hal ini dinamakan sebagai efek Zeeman. Efek Zeeman disebabkan oleh interaksi expanse magnet dengan momen magnetik atom dan elektronnya. Beberapa cantlet mampu memiliki banyak konfigurasi elektron dengan aras energi yang sama, sehingga akan tampak sebagai satu garis spektrum. Interaksi expanse magnet dengan atom akan menggeser konfigurasi-konfigurasi elektron menuju aras energi yang sedikit berlainan, menyebabkan garis spektrum berganda.[79]
Keberadaan area listrik eksternal mampu menyebabkan pemisahan dan pergeseran garis spektrum dengan mengubah aras energi elektron. Fenomena ini dinamakan sebagai efek Stark.[80]

Valensi dan perilaku ikatan

Kelopak atau kulit elektron terluar suatu atom dalam keadaan yang tak terkombinasi dinamakan sebagai kelopak valensi dan elektron dalam kelopak tersebut dinamakan elektron valensi. Banyak elektron valensi menentukan perilaku ikatan atom tersebut dengan atom lainnya. Atom cenderung bereaksi dengan satu sama lainnya melalui pengisian (ataupun pengosongan) elektron valensi terluar cantlet.[81]
Ikatan kimia mampu diawasi sebagai transfer elektron dari satu atom ke atom lainnya, seperti yang terpantau pada natrium klorida dan garam-garam ionik lainnya. Namun, banyak pula unsur yang menunjukkan perilaku valensi berganda, atau kecenderungan membagi elektron dengan banyak yang berlainan pada senyawa yang berlainan. Sehingga, ikatan kimia selang unsur-unsur ini cenderung berupa pembagian elektron daripada transfer elektron. Contohnya meliputi unsur karbon dalam senyawa organik.[82]

Unsur-unsur kimia sering ditampilkan dalam tabel periodik yang menampilkan sifat-sifat kimia suatu unsur yang berpola. Unsur-unsur dengan banyak elektron valensi yang sama dikelompokkan secara vertikel (disebut golongan). Unsur-unsur pada anggota terkanan tabel memiliki kelopak terluarnya terisi penuh, menyebabkan unsur-unsur tersebut cenderung bersifat inert (gas agung).[83]
[84]

Keadaan

Sejumlah atom ditemukan dalam keadaan materi yang berbeda-beda tergantung pada kondisi fisik benda, yakni suhu dan tekanan. Dengan mengubah kondisi tersebut, materi mampu berubah-ubah menjadi wujud padat, cair, gas, dan plasma.[85]
Dalam tiap-tiap keadaan tersebut pula materi mampu memiliki berbagai fase. Sebagai contohnya pada karbon padat, dia mampu berupa grafit maupun intan.[86]

Pada suhu mendekati nol mutlak, atom mampu membentuk kondensat Bose-Einstein, di mana efek-efek mekanika kuantum yang kebanyakan hanya terpantau pada skala atom terpantau secara makroskopis.[87]
[88]
Kumpulan atom-atom yang dilewat-dinginkan ini berperilaku seperti satu atom super.[89]

Identifikasi

Mikroskop penerowongan payaran (scanning tunneling microscope) yaitu suatu mikroskop yang dipergunakan untuk melihat permukaan suatu benda pada tingkat atom. Alat ini menggunakan fenomena penerowongan kuantum yang mengijinkan partikel-partikel menembus sawar yang kebanyakan tidak mampu dilewati.

Sebuah atom mampu diionisasi dengan melepaskan satu elektronnya. Muatan yang tidak sewenang-wenang menyebabkan trayektori atom melengkung ketika dia melalui sebuah expanse magnet. Jari-jari trayektori ion tersebut ditentukan oleh massa atom. Spektrometer massa menggunakan prinsip ini untuk menghitung rasio massa terhadap muatan ion. Apabila sampel tersebut mengandung sejumlah isotop, spektrometer massa mampu menentukan proporsi tiap-tiap isotop dengan mengukur intensitas berkas ion yang berlainan. Teknik untuk menguapkan atom meliputi spektroskopi emisi atomik plasma gandeng induktif (inductively coupled plasma diminutive emission spectroscopy) dan spektrometri massa plasma gandeng induktif (inductively coupled plasma mass spectrometry), keduanya menggunakan plasma untuk menguapkan sampel analisis.[ninety]

Metode lainnya yang semakin selektif yaitu spektroskopi pelepasan energi elektron (electron energy loss spectroscopy), yang mengukur pelepasan energi berkas elektron dalam suatu mikroskop elektron transmisi ketika dia berinteraksi dengan sampel. Tomografi kuar atom memiliki resolusi sub-nanometer dalam iii-D dan mampu secara kimiawi mengidentifikasi atom-atom individu menggunakan spektrometri massa waktu lintas.[91]

Spektrum keadaan tereksitasi mampu dipergunakan untuk menganalisa komposisi atom bintang yang jauh. Panjang gelombang cahaya tertentu yang dipancarkan oleh bintang mampu dipisahkan dan dicocokkan dengan transisi terkuantisasi atom gas lepas sama sekali. Warna bintang kemudian mampu direplikasi menggunakan lampu lucutan gas yang mengandung unsur yang sama.[92]
Helium pada Matahari ditemukan dengan menggunakan kegiatan ini 23 tahun sebelum dia ditemukan di Bumi.[93]

Asal usul dan kondisi sekarang

Atom menduduki sekitar 4% densitas energi full yang tidak sewenang-wenang dalam lingkungan kehidupan semesta terpantau, dengan densitas rata-rata sekitar 0,25 atom/one thousandthree.[94]
Dalam galaksi Bima Sakti, atom memiliki konsentrasi yang semakin tinggi, dengan densitas materi dalam medium antarbintang berkisar selang 105
sampai dengan 10ix
atom/m3.[95]
Matahari sendiri dipercayai berada dalam Gelembung Lokal, yaitu suatu kawasan yang mengandung banyak gas ion, sehingga densitas di sekelilingnya yaitu sekitar teniii
atom/miii.[96]
Bintang membentuk awan-awan padat dalam medium antarbintang, dan ronde evolusioner bintang akan menyebabkan peningkatan kandungan unsur yang semakin berat daripada hidrogen dan helium dalam medium antarbintang. Sampai dengan 95% atom Bima Sakti terkonsentrasi dalam bintang-bintang, dan massa total atom ini membentuk sekitar x% massa galaksi.[97]
Massa sisanya yaitu materi gelap yang tidak dikenal dengan jelas.[98]

Nukleosintesis

Proton dan elektron yang stabil muncul satu detik setelah peristiwa Dentuman Agung. Dalam masa waktu tiga menit sesudahnya, nukleosintesis Dentuman Agung kebanyakan menghasilkan helium, litium, dan deuterium, dan mungkin juga beberapa berilium dan boron.[99]
[100]
[101]
Cantlet pertama (dengan elektron yang terikat dengannya) secara teoritis tercipta 380.000 tahun sesudah Dentuman Besar, yaitu ketika lingkungan kehidupan semesta yang mengembang cukup dingin untuk mengijinkan elektron-elektron terikat pada inti cantlet.[102]
Sejak kala itulah, inti atom mulai bergabung dalam bintang-bintang melalui ronde fusi nuklir dan menghasilkan unsur-unsur yang semakin berat sampai dengan besi.[103]

Isotop seperti litium-vi dihasilkan di ruang angkasa melalui spalasi sinar kosmis.[104]
Hal ini terjadi ketika sebuah proton berenergi tinggi menumbuk inti cantlet, menyebabkan sejumlah agung nukleon berhamburan. Unsur yang semakin berat daripada besi dihasilkan di supernova melalui ronde r dan di bintang-bintang AGB melalui ronde s. Kedua-duanya melibatkan penangkapan neutron oleh inti atom.[105]
Unsur-unsur seperti timbal kebanyakan dibentuk melalui peluruhan radioaktif unsur-unsur lain yang semakin berat.[106]

Bumi

Kebanyakan atom yang menyusun Bumi dan termasuk pula seluruh makhluk hidupnya pernah berada dalam wujud yang sekarang di nebula yang runtuh dari awan molekul dan membentuk Atur Surya. Sisanya yaitu dampak dari peluruhan radioaktif dan proporsinya mampu dipergunakan untuk menentukan usia Bumi melalui penanggalan radiometrik.[107]
[108]
Kebanyakan helium dalam kerak Bumi yaitu produk peluruhan alfa.[109]

Terdapat sekelumit atom di Bumi yang pada awal pembentukannya tidak tidak sewenang-wenang dan juga bukan yaitu dampak dari peluruhan radioaktif. Karbon-fourteen secara berkesinambungan dihasilkan oleh sinar kosmik di atmosfer.[110]
Beberapa cantlet di Bumi secara hasil pekerjaan dihasilkan oleh reaktor ataupun senjata nuklir.[111]
[112]
Dari semua Unsur-unsur transuranium yang bernomor atom semakin agung daripada 92, hanya plutonium dan neptunium sajalah yang terdapat di Bumi secara alami.[113]
[114]
Unsur-unsur transuranium memiliki waktu paruh radioaktif yang semakin pendek daripada umur Bumi[115], sehingga unsur-unsur ini telah lama meluruh. Pengecualian terdapat pada plutonium-244 yang kemungkinan tersimpan dalam debu kosmik.[107]
Kandungan alami plutonium dan neptunium dihasilkan dari penangkapan neutron dalam bijih uranium.[116]

Bumi mengandung sekitar 1,33 × 1050
atom.[117]
Pada atmosfer planet, terdapat sejumlah kecil atom gas agung seperti argon dan neon. Sisa 99% atom pada atmosfer bumi terikat dalam wujud molekul, misalnya karbon dioksida, oksigen diatomik, dan nitrogen diatomik. Pada permukaan Bumi, atom-atom saling berikatan membentuk berbagai jenis senyawa, meliputi cairan, garam, silikat, dan oksida. Atom juga mampu bergabung membentuk bahan-bahan yang tidak terdiri dari molekul, contohnya kristal dan logam padat ataupun cair.[118]
[119]

Wujud teoritis dan wujud langka

Manakala isotop dengan nomor cantlet yang semakin tinggi daripada timbal (62) bersifat radioaktif, terdapat suatu “pulau stabilitas” yang diajukan untuk beberapa unsur dengan nomor atom di atas 103. Unsur-unsur super berat ini kemungkinan memiliki inti yang secara relatif stabil terhadap peluruhan radioaktif.[120]
Atom super berat yang stabil ini kemungkinan agung yaitu unbiheksium, dengan 126 proton 184 neutron.[121]

Tiap-tiap partikel materi memiliki partikel antimaterinya masing-masing dengan muatan listrik yang berlawanan. Sehingga, positron yaitu antielektron yang bermuatan positif, dan antiproton yaitu proton yang bermuatan negatif, Ketika materi dan antimateri berjumpa, keduanya akan saling memusnahkan. Terdapat ketidakseimbangan selang banyak partikel materi dan antimateri. Ketidakseimbangan ini masih belum dipahami secara menyeluruh, walaupun terdapat teori bariogenesis yang memberikan penjelasan yang memungkinkan. Antimateri tidak pernah ditemukan secara alami.[122]
[123]
Namun, pada tahun 1996, antihidrogen sukses disintesis di laboratorium CERN di Jenewa.[124]
[125]

Terdapat pula atom-atom langka lainnya yang dihasilkan dengan menggantikan satu proton, neutron, ataupun elektron dengan partikel lain yang bermuatan sama. Sebagai contoh, elektron mampu dialihkan dengan muon yang semakin berat, membentuk cantlet muon. Jenis atom ini mampu dipergunakan untuk menguji prediksi fisika.[126]
[127]
[128]

Lihat pula

  • Massa atom relatif
  • Molekul
  • Unsur
  • Elektron
  • Proton
  • Neutron
  • Inti atom

Catatan

  1. ^
    Kebanyakan isotop memiliki banyak nukleon semakin banyak dari banyak elektron. Dalam kasus hydrogen-1, yang memiliki satu elektron and satu nukleon, protonnya
    egin{smallmatrix}frac{1836}{1837} approx 0,9995end{smallmatrix}, atau 99,95% dari total massa cantlet.
  2. ^
    Satu karat sama dengan 200 miligram. Berlandaskan ciri utama, karbon-12 memiliki 0,012 kg per mol. Tetapan Avogadro sekitar 6 × 1023 atom per mol.

Referensi

  1. ^
    a
    b

    Haubold, Hans; Mathai, A. M. (1998). “Microcosmos: From Leucippus to Yukawa”.
    Structure of the Universe. Common Sense Science. http://www.columbia.edu/~ah297/unesa/universe/universe-chapter3.html
    . Diakses pada 2008-01-17.

  2. ^

    Staff (2007-08-01). “Radioactive Decays”. Stanford Linear Accelerator Centre, Stanford University. http://www2.slac.stanford.edu/vvc/theory/nuclearstability.html
    . Diakses pada 2007-01-02.

  3. ^
    a
    b
    Ponomarev (1993:14-15).
  4. ^
    a
    b

    (Inggris)
    A. Pablo Iannone.
    Dictionary of World Philosophy. p. 62. ISBN 0-415-17995-5. Retrieved 2010-06-09.




  5. ^

    (Inggris)
    Hajime Nakamura (1992).
    A comparative history of ideas. Shri Jainendra Printing. p. 145. ISBN 81-208-1004-ten. Retrieved 2010-06-09.




  6. ^

    (Inggris)
    Ben-Ami Scharfstein (1998).
    A comparative history of globe philosophy: from the Upanishads to Kant. State University of New York Press. p. 189. ISBN 0-7914-3683-7. Retrieved 2010-06-09.




  7. ^
    Siegfried (2002:42–55).
  8. ^

    “Lavoisier’s Elements of Chemistry”.
    Elements and Atoms. Le Moyne College, Department of Chemistry. http://web.lemoyne.edu/~GIUNTA/EA/LAVPREFann.HTML
    . Diakses pada 2007-12-xviii.

  9. ^
    Wurtz (1881:1–2).
  10. ^
    Dalton (1808).
  11. ^

    Einstein, Albert (May 1905). “Über die von der molekularkinetischen Theorie der Wärme geforderte Bewegung von in ruhenden Flüssigkeiten suspendierten Teilchen” (PDF).
    Annalen der Physik
    (in German)
    322
    (8): 549–560. doi:ten.1002/andp.19053220806. Retrieved 2007-02-04.




  12. ^
    Mazo (2002:one–7).
  13. ^

    Lee, Y. K.; Hoon, Kelvin (1995). “Brownian Motion”. Imperial College, London. http://www.doc.ic.ac.uk/~nd/surprise_95/periodical/vol4/ykl/written report.html
    . Diakses pada 2007-12-eighteen.

  14. ^

    Patterson, Gary (2007). “Jean Perrin and the triumph of the atomic doctrine”.
    Endeavour
    31
    (2): 50–53. doi:x.1016/j.try.2007.05.003. Retrieved 2008-11-07.




  15. ^

    The Nobel Foundation (1906). “J.J. Thomson”. Nobelprize.org. http://nobelprize.org/nobel_prizes/physics/laureates/1906/thomson-bio.html
    . Diakses pada 2007-12-twenty.

  16. ^

    “Frederick Soddy, The Nobel Prize in Chemistry 1921”. Nobel Foundation. http://nobelprize.org/nobel_prizes/chemical science/laureates/1921/soddy-bio.html
    . Diakses pada 2008-01-eighteen.

  17. ^

    Thomson, Joseph John (1913). “Rays of positive electricity”.
    Proceedings of the Majestic Society
    A 89: 1–xx. Retrieved 2007-01-18.




  18. ^

    Stern, David P. (May xvi, 2005). “The Atomic Nucleus and Bohr’southward Early Model of the Atom”. NASA Goddard Space Flying Center. http://www-spof.gsfc.nasa.gov/stargaze/Q5.htm
    . Diakses pada 2007-12-20.

  19. ^

    Bohr, Niels (Dec eleven, 1922). “Niels Bohr, The Nobel Prize in Physics 1922, Nobel Lecture”. The Nobel Foundation. http://nobelprize.org/nobel_prizes/physics/laureates/1922/bohr-lecture.html
    . Diakses pada 2008-02-16.

  20. ^

    Lewis, Gilbert North. (April 1916). “The Atom and the Molecule”.
    Journal of the American Chemic Society
    38
    (4): 762–786. doi:10.1021/ja02261a002.




  21. ^

    Scerri, Eric R. (2007).
    The Periodic Table. Oxford Academy Press US. pp. 205–226. ISBN 0195305736.




  22. ^

    Scully, Marlan O.; Lamb Jr., Willis Due east.; Barut, Asim (June 1987). “On the theory of the Stern-Gerlach apparatus”.
    Foundations of Physics
    17
    (6): 575–583. doi:10.1007/BF01882788.




  23. ^

    Brown, Kevin (2007). “The Hydrogen Cantlet”. MathPages. http://www.mathpages.com/home/kmath538/kmath538.htm
    . Diakses pada 2007-12-21.

  24. ^

    Harrison, David M. (March 2000). “The Development of Breakthrough Mechanics”. University of Toronto. http://world wide web.upscale.utoronto.ca/GeneralInterest/Harrison/DevelQM/DevelQM.html
    . Diakses pada 2007-12-21.

  25. ^

    Aston, Francis Due west. (1920). “The constitution of atmospheric neon”.
    Philosophical Magazine
    39
    (half-dozen): 449–55.




  26. ^

    Chadwick, James (December 12, 1935). “Nobel Lecture: The Neutron and Its Properties”. Nobel Foundation. http://nobelprize.org/nobel_prizes/physics/laureates/1935/chadwick-lecture.html
    . Diakses pada 2007-12-21.

  27. ^

    Kullander, Sven (Baronial 28, 2001). “Accelerators and Nobel Laureates”. The Nobel Foundation. http://nobelprize.org/nobel_prizes/physics/articles/kullander/
    . Diakses pada 2008-01-31.

  28. ^

    Staff (October 17, 1990). “The Nobel Prize in Physics 1990”. The Nobel Foundation. http://nobelprize.org/nobel_prizes/physics/laureates/1990/press.html
    . Diakses pada 2008-01-31.

  29. ^

    Staff (Oct 15, 1997). “The Nobel Prize in Physics 1997”. Nobel Foundation. http://nobelprize.org/nobel_prizes/physics/laureates/1997/
    . Diakses pada 2008-02-10.

  30. ^

    Park, Jiwoong
    et al
    (2002). “Coulomb blockade and the Kondo effect in single-cantlet transistors”.
    Nature
    417
    (6890): 722–25. doi:10.1038/nature00791. Retrieved 2008-01-03.




  31. ^

    Domokos, P.; Janszky, J.; Adam, P. (1994). “Unmarried-cantlet interference method for generating Fock states”.
    Concrete Review a
    50: 3340–44. doi:10.1103/PhysRevA.50.3340. Retrieved 2008-01-03.




  32. ^
    Demtröder (2002:39–42).
  33. ^
    Woan (2000:8).
  34. ^

    Particle Data Grouping (2002). “The Particle Adventure”. Lawrence Berkeley Laboratory. http://www.particleadventure.org/
    . Diakses pada 2007-01-03.

  35. ^

    Schombert, James (Apr xviii, 2006). “Elementary Particles”. Academy of Oregon. http://abyss.uoregon.edu/~js/ast123/lectures/lec07.html
    . Diakses pada 2007-01-03.

  36. ^

    (Inggris)

    Bones Knowledge of Radiation and Radioisotopes (Scientific Ground, Safe Treatment of Radioisotopes and Radiation Protection). Japan Radioisotope Clan. 2005. ISBN iv-89073-170-ix C2040.




  37. ^
    Jevremovic (2005:63).
  38. ^
    Pfeffer (2000:330–336).
  39. ^

    Wenner, Jennifer M. (October 10, 2007). “How Does Radioactive Decay Work?”. Carleton College. http://serc.carleton.edu/quantskills/methods/quantlit/RadDecay.html
    . Diakses pada 2008-01-09.

  40. ^
    a
    b
    c

    Raymond, David (April 7, 2006). “Nuclear Bounden Energies”. New Mexico Tech. http://physics.nmt.edu/~raymond/classes/ph13xbook/node216.html
    . Diakses pada 2007-01-03.

  41. ^

    Mihos, Chris (July 23, 2002). “Overcoming the Coulomb Barrier”. Case Western Reserve Academy. http://burro.cwru.edu/Academics/Astr221/StarPhys/coulomb.html
    . Diakses pada 2008-02-13.

  42. ^

    Staff (March thirty, 2007). “ABC’s of Nuclear Science”. Lawrence Berkeley National Laboratory. http://www.lbl.gov/abc/Basic.html
    . Diakses pada 2007-01-03.

  43. ^

    Makhijani, Arjun; Saleska, Scott (March 2, 2001). “Nuts of Nuclear Physics and Fission”. Establish for Energy and Environmental Inquiry. http://world wide web.ieer.org/reports/n-basics.html
    . Diakses pada 2007-01-03.

  44. ^
    Shultis
    et al.
    (2002:72–half-dozen).
  45. ^

    Fewell, Grand. P. (1995). “The atomic nuclide with the highest hateful binding free energy”.
    American Journal of Physics
    63
    (7): 653–58. doi:10.1119/1.17828. Retrieved 2007-02-01.




  46. ^

    Mulliken, Robert S. (1967). “Spectroscopy, Molecular Orbitals, and Chemical Bonding”.
    Science
    157
    (3784): 13–24. doi:10.1126/science.157.3784.xiii. PMID 5338306.




  47. ^
    a
    b

    Brucat, Philip J. (2008). “The Quantum Cantlet”. Academy of Florida. http://www.chem.ufl.edu/~itl/2045/lectures/lec_10.html
    . Diakses pada 2007-01-04.

  48. ^

    Herter, Terry (2006). “Lecture 8: The Hydrogen Cantlet”. Cornell Academy. http://astrosun2.astro.cornell.edu/academics/courses/astro101/herter/lectures/lec08.htm
    . Diakses pada 2008-02-fourteen.

  49. ^

    Bong, R. Eastward.; Elliott, L. G. (1950). “Gamma-Rays from the Reaction Hane(n,γ)D2
    and the Binding Energy of the Deuteron”.
    Physical Review
    79
    (2): 282–285. doi:x.1103/PhysRev.79.282.




  50. ^
    Smirnov (2003:249–72).
  51. ^

    Matis, Howard Southward. (August 9, 2000). “The Isotopes of Hydrogen”.
    Guide to the Nuclear Wall Chart. Lawrence Berkeley National Lab. http://world wide web.lbl.gov/abc/wallchart/chapters/02/3.html
    . Diakses pada 2007-12-21.

  52. ^
    a
    b
    Sills (2003:131–134).
  53. ^

    Dumé, Belle (April 23, 2003). “Bismuth breaks half-life record for alpha decay”. Physics Earth. Retrieved 2007-12-21.



  54. ^

    Lindsay, Don (July 30, 2000). “Radioactives Missing From The Earth”. Don Lindsay Archive. http://world wide web.don-lindsay-archive.org/creation/isotope_list.html
    . Diakses pada 2007-05-23.

  55. ^
    CRC Handbook (2002).
  56. ^
    a
    b
    Mills
    et al.
    (1993).
  57. ^

    Chieh, Chung (January 22, 2001). “Nuclide Stability”. Academy of Waterloo. http://www.science.uwaterloo.ca/~cchieh/cact/nuctek/nuclideunstable.html
    . Diakses pada 2007-01-04.

  58. ^

    “Diminutive Weights and Isotopic Compositions for All Elements”. National Institute of Standards and Technology. http://physics.nist.gov/cgi-bin/Compositions/stand_alone.pl?ele=&ascii=html&isotype=some
    . Diakses pada 2007-01-04.

  59. ^

    Audi, Thou.; Wapstra, A. H.; Thibault C. (2003). “The Ame2003 atomic mass evaluation (Ii)”.
    Nuclear Physics A
    729: 337–676. doi:10.1016/j.nuclphysa.2003.xi.003. Retrieved 2008-02-07.




  60. ^

    Shannon, R. D. (1976). “Revised constructive ionic radii and systematic studies of interatomic distances in halides and chalcogenides”.
    Acta Crystallographica, Section a
    32: 751. doi:10.1107/S0567739476001551. Retrieved 2007-01-03.




  61. ^

    Dong, Judy (1998). “Diameter of an Atom”. The Physics Factbook. http://hypertextbook.com/facts/MichaelPhillip.shtml
    . Diakses pada 2007-11-19.

  62. ^
    Zumdahl (2002).
  63. ^

    Staff (2007). “Small Miracles: Harnessing nanotechnology”. Oregon Country Academy. http://oregonstate.edu/terra/2007winter/features/nanotech.php
    . Diakses pada 2007-01-07.
    —describes the width of a human hair equally xv nm and 10 carbon atoms as spanning 1 nm.
  64. ^
    Padilla
    et al.
    (2002:32)—”In that location are two,000,000,000,000,000,000,000 (that’s 2 sextillion) atoms of oxygen in one drop of water—and twice as many atoms of hydrogen.”
  65. ^
    Feynman (1995).
  66. ^
    a
    b

    “Radioactivity”. Splung.com. http://www.splung.com/content/sid/5/page/radioactivity
    . Diakses pada 2007-12-19.

  67. ^
    L’Annunziata (2003:3–56).
  68. ^

    Firestone, Richard B. (May 22, 2000). “Radioactive Disuse Modes”. Berkeley Laboratory. http://isotopes.lbl.gov/instruction/decmode.html
    . Diakses pada 2007-01-07.

  69. ^

    Hornak, J. P. (2006). “Chapter 3: Spin Physics”.
    The Basics of NMR. Rochester Institute of Engineering science. http://www.cis.rit.edu/htbooks/nmr/chap-3/chap-3.htm
    . Diakses pada 2007-01-07.

  70. ^
    a
    b

    Schroeder, Paul A. (February 25, 2000). “Magnetic Properties”. University of Georgia. http://www.gly.uga.edu/schroeder/geol3010/magnetics.html
    . Diakses pada 2007-01-07.

  71. ^

    Goebel, Greg (September 1, 2007). “[iv.3] Magnetic Backdrop of the Atom”.
    Simple Quantum Physics. In The Public Domain website. http://www.vectorsite.internet/tpqm_04.html
    . Diakses pada 2007-01-07.

  72. ^

    Yarris, Lynn (Spring 1997). “Talking Pictures”.
    Berkeley Lab Research Review
    . Retrieved 2008-01-09.




  73. ^
    Liang and Haacke (1999:412–26).
  74. ^

    Zeghbroeck, Bart J. Van (1998). “Free energy levels”. Shippensburg University. http://physics.ship.edu/~mrc/pfs/308/semicon_book/eband2.htm
    . Diakses pada 2007-12-23.

  75. ^
    Fowles (1989:227–233).
  76. ^

    Martin, W. C.; Wiese, West. L. (May 2007). “Atomic Spectroscopy: A Compendium of Basic Ideas, Notation, Information, and Formulas”. National Found of Standards and Applied science. http://physics.nist.gov/Pubs/AtSpec/
    . Diakses pada 2007-01-08.

  77. ^

    “Diminutive Emission Spectra — Origin of Spectral Lines”. Avogadro Web Site. http://www.avogadro.co.united kingdom/light/bohr/spectra.htm
    . Diakses pada 2006-08-10.

  78. ^

    Fitzpatrick, Richard (Feb 16, 2007). “Fine structure”. Academy of Texas at Austin. http://farside.ph.utexas.edu/teaching/qm/lectures/node55.html
    . Diakses pada 2008-02-fourteen.

  79. ^

    Weiss, Michael (2001). “The Zeeman Effect”. University of California-Riverside. http://math.ucr.edu/home/baez/spin/node8.html
    . Diakses pada 2008-02-06.

  80. ^
    Beyer (2003:232–236).
  81. ^

    Reusch, William (July sixteen, 2007). “Virtual Textbook of Organic Chemical science”. Michigan Land University. http://www.cem.msu.edu/~reusch/VirtualText/intro1.htm
    . Diakses pada 2008-01-11.

  82. ^

    “Covalent bonding – Single bonds”. chemguide. 2000. http://www.chemguide.co.uk/atoms/bonding/covalent.html.
  83. ^

    Husted, Robert et al. (December 11, 2003). “Periodic Tabular array of the Elements”. Los Alamos National Laboratory. http://periodic.lanl.gov/default.htm
    . Diakses pada 2008-01-eleven.

  84. ^

    Baum, Rudy (2003). “It’southward Elemental: The Periodic Tabular array”. Chemical & Engineering News. http://pubs.acs.org/cen/80th/elements.html
    . Diakses pada 2008-01-xi.

  85. ^
    Goodstein (2002:436–438).
  86. ^

    Brazhkin, Vadim V. (2006). “Metastable phases, phase transformations, and phase diagrams in physics and chemical science”.
    Physics-Uspekhi
    49: 719–24. doi:10.1070/PU2006v049n07ABEH006013.




  87. ^
    Myers (2003:85).
  88. ^

    Staff (October nine, 2001). “Bose-Einstein Condensate: A New Form of Thing”. National Constitute of Standards and Technology. Retrieved 2008-01-xvi.



  89. ^

    Colton, Imogen; Fyffe, Jeanette (February three, 1999). “Super Atoms from Bose-Einstein Condensation”. The University of Melbourne. http://www.ph.unimelb.edu.au/~ywong/poster/articles/bec.html
    . Diakses pada 2008-02-06.

  90. ^

    Jakubowski, N.; Moens, Fifty.; Vanhaecke, F (1998). “Sector field mass spectrometers in ICP-MS”.
    Spectrochimica Acta Part B: Diminutive Spectroscopy
    53
    (13): 1739–63. doi:ten.1016/S0584-8547(98)00222-five.




  91. ^

    Müller, Erwin Due west.; Panitz, John A.; McLane, S. Brooks (1968). “The Cantlet-Probe Field Ion Microscope”.
    Review of Scientific Instruments
    39
    (1): 83–86. doi:x.1063/1.1683116. ISSN 0034-6748.




  92. ^

    Lochner, Jim; Gibb, Meredith; Newman, Phil (April 30, 2007). “What Practise Spectra Tell U.s.?”. NASA/Goddard Infinite Flight Center. http://imagine.gsfc.nasa.gov/docs/science/how_l1/spectral_what.html
    . Diakses pada 2008-01-03.

  93. ^

    Winter, Mark (2007). “Helium”. WebElements. http://www.webelements.com/webelements/elements/text/He/hist.html
    . Diakses pada 2008-01-03.

  94. ^

    Hinshaw, Gary (February 10, 2006). “What is the Universe Made Of?”. NASA/WMAP. http://map.gsfc.nasa.gov/m_uni/uni_101matter.html
    . Diakses pada 2008-01-07.

  95. ^
    Choppin
    et al.
    (2001).
  96. ^

    Davidsen, Arthur F. (1993). “Far-Ultraviolet Astronomy on the Astro-1 Space Shuttle Mission”.
    Science
    259
    (5093): 327–34. doi:10.1126/science.259.5093.327. PMID 17832344. Retrieved 2008-01-07.




  97. ^
    Lequeux (2005:4).
  98. ^

    Smith, Nigel (January 6, 2000). “The search for dark thing”. Physics World. http://physicsworld.com/cws/article/print/809
    . Diakses pada 2008-02-14.

  99. ^

    Croswell, Ken (1991). “Boron, bumps and the Big Bang: Was matter spread evenly when the Universe began? Perhaps not; the clues lie in the creation of the lighter elements such as boron and beryllium”.
    New Scientist
    (1794): 42. Retrieved 2008-01-14.




  100. ^

    Copi, Craig J.; Schramm, David N.; Turner, Michael S. (1995). “Big-Bang Nucleosynthesis and the Baryon Density of the Universe” (PDF).
    Science
    267: 192–99. doi:ten.1126/science.7809624. PMID 7809624. Retrieved 2008-01-13.




  101. ^

    Hinshaw, Gary (December 15, 2005). “Tests of the Big Blindside: The Light Elements”. NASA/WMAP. http://map.gsfc.nasa.gov/m_uni/uni_101bbtest2.html
    . Diakses pada 2008-01-13.

  102. ^

    Abbott, Brian (May 30, 2007). “Microwave (WMAP) All-Sky Survey”. Hayden Planetarium. http://www.haydenplanetarium.org/universe/duguide/exgg_wmap.php
    . Diakses pada 2008-01-xiii.

  103. ^

    F. Hoyle (1946). “The synthesis of the elements from hydrogen”.
    Monthly Notices of the Royal Astronomical Lodge
    106: 343–83. Retrieved 2008-01-xiii.




  104. ^

    Knauth, D. C.; Federman, S. R.; Lambert, David Fifty.; Crane, P. (2000). “Newly synthesized lithium in the interstellar medium”.
    Nature
    405: 656–58. doi:ten.1038/35015028.




  105. ^

    Mashnik, Stepan K. (Baronial 2000). “On Solar System and Cosmic Rays Nucleosynthesis and Spallation Processes”. Cornell University. http://arxiv.org/abs/astro-ph/0008382
    . Diakses pada 2008-01-14.

  106. ^

    Kansas Geological Survey (May iv, 2005). “Historic period of the World”. University of Kansas. http://world wide web.kgs.ku.edu/Extension/geotopics/earth_age.html
    . Diakses pada 2008-01-14.

  107. ^
    a
    b
    Manuel (2001:407–430,511–519).
  108. ^

    Dalrymple, Thou. Brent (2001). “The historic period of the Earth in the twentieth century: a problem (mostly) solved”.
    Geological Society, London, Special Publications
    190: 205–21. doi:10.1144/GSL.SP.2001.190.01.14. Retrieved 2008-01-14.




  109. ^

    Anderson, Don L.; Foulger, G. R.; Meibom, Anders (September ii, 2006). “Helium: Central models”. MantlePlumes.org. http://world wide web.mantleplumes.org/HeliumFundamentals.html
    . Diakses pada 2007-01-14.

  110. ^

    Pennicott, Katie (May 10, 2001). “Carbon clock could show the incorrect time”. PhysicsWeb. Retrieved 2008-01-14.



  111. ^

    Yarris, Lynn (July 27, 2001). “New Superheavy Elements 118 and 116 Discovered at Berkeley Lab”. Berkeley Lab. Retrieved 2008-01-14.



  112. ^

    Diamond, H.
    et al.
    (1960). “Heavy Isotope Abundances in Mike Thermonuclear Device” (subscription required).
    Physical Review
    119: 2000–04. doi:x.1103/PhysRev.119.2000. Retrieved 2008-01-14.




  113. ^

    Poston Sr., John W. (March 23, 1998). “Practise transuranic elements such as plutonium ever occur naturally?”. Scientific American. http://www.sciam.com/chemistry/article/id/do-transuranic-elements-s/topicID/4/catID/3
    . Diakses pada 2008-01-15.

  114. ^

    Keller, C. (1973). “Natural occurrence of lanthanides, actinides, and superheavy elements”.
    Chemiker Zeitung
    97
    (10): 522–xxx. Retrieved 2008-01-xv.




  115. ^
    Marco (2001:17).
  116. ^

    “Oklo Fossil Reactors”. Curtin Academy of Engineering science. http://www.oklo.curtin.edu.au/alphabetize.cfm
    . Diakses pada 2008-01-fifteen.

  117. ^

    Weisenberger, Drew. “How many atoms are at that place in the world?”. Jefferson Lab. http://education.jlab.org/qa/mathatom_05.html
    . Diakses pada 2008-01-xvi.

  118. ^

    Pidwirny, Michael. “Fundamentals of Physical Geography”. University of British Columbia Okanagan. http://www.physicalgeography.net/fundamentals/contents.html
    . Diakses pada 2008-01-16.

  119. ^

    Anderson, Don 50. (2002). “The inner inner core of Earth”.
    Proceedings of the National Academy of Sciences
    99
    (22): 13966–68. doi:10.1073/pnas.232565899. PMID 12391308. Retrieved 2008-01-16.




  120. ^

    Anonymous (Oct 2, 2001). “2nd postcard from the island of stability”.
    CERN Courier
    . Retrieved 2008-01-14.




  121. ^

    Jacoby, Mitch (2006). “Equally-yet-unsynthesized superheavy atom should grade a stable diatomic molecule with fluorine”.
    Chemical & Technology News
    84
    (ten): 19. Retrieved 2008-01-14.




  122. ^

    Koppes, Steve (March 1, 1999). “Fermilab Physicists Find New Thing-Antimatter Asymmetry”. University of Chicago. Retrieved 2008-01-fourteen.



  123. ^

    Cromie, William J. (August 16, 2001). “A lifetime of trillionths of a 2nd: Scientists explore antimatter”. Harvard Academy Gazette. Retrieved 2008-01-14.



  124. ^

    Hijmans, Tom W. (2002). “Particle physics: Cold antihydrogen”.
    Nature
    419: 439–40. doi:10.1038/419439a.




  125. ^

    Staff (October 30, 2002). “Researchers ‘look inside’ antimatter”. BBC News. Retrieved 2008-01-14.



  126. ^

    Barrett, Roger; Jackson, Daphne; Mweene, Habatwa (1990). “The Strange World of the Exotic Atom”.
    New Scientist
    (1728): 77–115. Retrieved 2008-01-04.




  127. ^

    Indelicato, Paul (2004). “Exotic Atoms”.
    Physica Scripta
    T112: twenty–26. doi:10.1238/Physica.Topical.112a00020.




  128. ^

    Ripin, Barrett H. (July 1998). “Recent Experiments on Exotic Atoms”. American Concrete Guild. http://www.aps.org/publications/apsnews/199807/experiment.cfm.html
    . Diakses pada 2008-02-fifteen.

Referensi buku

  • L’Annunziata, Michael F. (2003).
    Handbook of Radioactivity Analysis. Bookish Press. ISBN 0124366031. OCLC 162129551.



  • Beyer, H. F.; Shevelko, Five. P. (2003).
    Introduction to the Physics of Highly Charged Ions. CRC Press. ISBN 0750304812. OCLC 47150433.



  • Choppin, Gregory R.; Liljenzin, Jan-Olov; Rydberg, Jan (2001).
    Radiochemistry and Nuclear Chemistry. Elsevier. ISBN 0750674636. OCLC 162592180.



  • Dalton, J. (1808).
    A New Arrangement of Chemic Philosophy, Part 1. London and Manchester: S. Russell.



  • Demtröder, Wolfgang (2002).
    Atoms, Molecules and Photons: An Introduction to Diminutive- Molecular- and Breakthrough Physics
    (1st ed.). Springer. ISBN 3540206310. OCLC 181435713.



  • Feynman, Richard (1995).
    Six Like shooting fish in a barrel Pieces. The Penguin Group. ISBN 978-0-140-27666-4. OCLC 40499574.



  • Fowles, Grant R. (1989).
    Introduction to Modern Optics. Courier Dover Publications. ISBN 0486659577. OCLC 18834711.



  • Gangopadhyaya, Mrinalkanti (1981).
    Indian Atomism: History and Sources. Atlantic Highlands, New Jersey: Humanities Printing. ISBN 0-391-02177-X. OCLC 10916778.



  • Goodstein, David L. (2002).
    States of Affair. Courier Dover Publications. ISBN 0-486-49506-X.



  • Harrison, Edward Robert (2003).
    Masks of the Universe: Irresolute Ideas on the Nature of the Cosmos. Cambridge University Press. ISBN 0521773512. OCLC 50441595.



  • Iannone, A. Pablo (2001).
    Dictionary of World Philosophy. Routledge. ISBN 0415179955. OCLC 44541769.



  • Jevremovic, Tatjana (2005).
    Nuclear Principles in Technology. Springer. ISBN 0387232842. OCLC 228384008.



  • Lequeux, James (2005).
    The Interstellar Medium. Springer. ISBN 3540213260. OCLC 133157789.



  • Levere, Trevor, H. (2001).
    Transforming Thing – A History of Chemical science for Abracadabra to the Buckyball. The Johns Hopkins University Press. ISBN 0-8018-6610-3.



  • Liang, Z.-P.; Haacke, E. G. (1999). In Webster, J. K.
    Encyclopedia of Electrical and Electronics Engineering: Magnetic Resonance Imaging
    (PDF). vol. 2. John Wiley & Sons. pp. 412–26. ISBN 0471139467. Retrieved 2008-01-09.



  • MacGregor, Malcolm H. (1992).
    The Enigmatic Electron. Oxford University Press. ISBN 0195218337. OCLC 223372888.



  • Manuel, Oliver (2001).
    Origin of Elements in the Solar System: Implications of Post-1957 Observations. Springer. ISBN 0306465620. OCLC 228374906.



  • Mazo, Robert M. (2002).
    Brownian Motion: Fluctuations, Dynamics, and Applications. Oxford University Press. ISBN 0198515677. OCLC 48753074.



  • Mills, Ian; Cvitaš, Tomislav; Homann, Klaus; Kallay, Nikola; Kuchitsu, Kozo (1993).
    Quantities, Units and Symbols in Physical Chemical science
    (second ed.). Oxford: International Union of Pure and Applied Chemical science, Commission on Physiochemical Symbols Terminology and Units, Blackwell Scientific Publications. ISBN 0-632-03583-8. OCLC 27011505.



  • Moran, Bruce T. (2005).
    Distilling Knowledge: Abracadabra, Chemistry, and the Scientific Revolution. Harvard University Press. ISBN 0674014952.



  • Myers, Richard (2003).
    The Basics of Chemistry. Greenwood Press. ISBN 0313316643. OCLC 50164580.



  • Padilla, Michael J.; Miaoulis, Ioannis; Cyr, Martha (2002).
    Prentice Hall Science Explorer: Chemical Building Blocks. Upper Saddle River, New Jersey United states of america: Prentice-Hall, Inc. ISBN 0-thirteen-054091-9. OCLC 47925884.



  • Pauling, Linus (1960).
    The Nature of the Chemical Bail. Cornell Academy Press. ISBN 0801403332. OCLC 17518275.



  • Pfeffer, Jeremy I.; Nir, Shlomo (2000).
    Modernistic Physics: An Introductory Text. Imperial College Press. ISBN 1860942504. OCLC 45900880.



  • Ponomarev, Leonid Ivanovich (1993).
    The Breakthrough Dice. CRC Press. ISBN 0750302518. OCLC 26853108.



  • Scerri, Eric R. (2007).
    The Periodic Tabular array. Oxford University Press. ISBN 0195305736.



  • Shultis, J. Kenneth; Faw, Richard E. (2002).
    Fundamentals of Nuclear Scientific discipline and Applied science. CRC Printing. ISBN 0824708342. OCLC 123346507.



  • Siegfried, Robert (2002).
    From Elements to Atoms: A History of Chemic Composition. DIANE. ISBN 0871699249. OCLC 186607849.



  • Sills, Alan D. (2003).
    Earth Science the Piece of cake Way. Barron’s Educational Series. ISBN 0764121464. OCLC 51543743.



  • Smirnov, Boris M. (2003).
    Physics of Atoms and Ions. Springer. ISBN 0-387-95550-10.



  • Teresi, Dick (2003).
    Lost Discoveries: The Aboriginal Roots of Mod Scientific discipline. Simon & Schuster. pp. 213–214. ISBN 074324379X.



  • Various (2002). In Lide, David R.
    Handbook of Chemistry & Physics
    (88th ed.). CRC. ISBN 0849304865. OCLC 179976746. Retrieved 2008-05-23.



  • Woan, Graham (2000).
    The Cambridge Handbook of Physics. Cambridge Academy Press. ISBN 0521575079. OCLC 224032426.



  • Wurtz, Charles Adolphe (1881).
    The Atomic Theory. New York: D. Appleton and company.



  • Zaider, Marco; Rossi, Harald H. (2001).
    Radiation Science for Physicians and Public Wellness Workers. Springer. ISBN 0306464039. OCLC 44110319.



  • Zumdahl, Steven S. (2002).
    Introductory Chemistry: A Foundation
    (5th ed.). Houghton Mifflin. ISBN 0-618-34342-three. OCLC 173081482. Retrieved 2008-02-05.



Pranala luar

  • Francis, Eden (2002). “Atomic Size”. Clackamas Community College. http://dl.clackamas.cc.or.united states/ch104-07/atomic_size.htm
    . Diakses pada 2007-01-09.
  • Freudenrich, Craig C… “How Atoms Work”. How Stuff Works. http://www.howstuffworks.com/atom.htm
    . Diakses pada 2007-01-09.
  • “Cantlet:The Cantlet”.
    Free High Schoolhouse Science Texts: Physics. Wikibooks. http://en.wikibooks.org/wiki/FHSST_Physics_Atom:The_Atom
    . Diakses pada 2007-01-09.
  • Anonymous (2007). “The atom”. Scientific discipline help+. http://www.scienceaid.co.uk/chemistry/nuts/theatom.html
    . Diakses pada 2007-01-09.
  • Bearding (2006-01-03). “Atoms and Atomic Structure”. BBC. http://www.bbc.co.britain/deoxyribonucleic acid/h2g2/A6672963
    . Diakses pada 2007-01-11.
  • Various (2006-01-03). “Physics 2000, Tabular array of Contents”. Academy of Colorado. http://www.colorado.edu/physics/2000/index.pl?Type=TOC
    . Diakses pada 2008-01-11.
  • Various (2006-02-03). “What does an atom await like?”. University of Karlsruhe. http://world wide web.hydrogenlab.de/elektronium/HTML/einleitung_hauptseite_uk.html
    . Diakses pada 2008-05-12.

Ini yaitu artikel pilihan. Klik di sini untuk informasi semakin lanjut.



Sumber :

wiki.edunitas.com, id.wikipedia.org, perpustakaan.web.id, p2k.andrafarm.com, dsb.

Sebuah Atom Akan Bermuatan Positif Jika Atom Tersebut

Source: http://p2k.unimus.ac.id/ind/2-3043-2937/Atomik_27475_unimus_atomik-unimus.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *