Respon Belanda Terhadap Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Respon Belanda Terhadap Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Quipperian


into


banget kan slogan “Melawan Lupa”?


Yups

, slogan itu bukan cuma kata-kata kiasan


lho,


melainkan memiliki arti begitu


deep

.

Percaya enggak sih untuk menghilangkan suatu bangsa pihak musuh enggak perlu melakukan serangan militer, tapi cukup menghilangkan masa lalunya, yakni sejarah bangsanya. Maka tak heran Bung Karno menyerukan “Jas Merah” atau “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah”.


Ngomongin


sejarah Indonesia, tak akan lengkap bila tak mengulik bagaimana setelah Proklamasi, negara-negara lain mengakui Republic of indonesia sebagai sebuah negara merdeka.

Respon negara-negara lain terhadap kemerdekaan Indonesia bermacam-macam. Namun, terdapat dua arus besar, pengakuan kemerdekaan dan menolak. Masa sih ada negara


nolak


kemerdekaan RI?


Penolakan Belanda

Belanda berkali-kali menolak kemerdekaan RI. Mereka bahkan melakukan aksi polisionil untuk merebut kembali wilayah Indonesia pada Agresi Militer I (1947) dan Agresi Militer Two (1948).

Berkali-kali


clash

, berkali-kali pula berlangsung perundingan, mulai Perjanjian Linggarjati (1946), Perjanjian Renville (1948), Perjanjian Roem-Royen (1949), hingga Konferensi Meja Bundar (1949).

Pihak Belanda berkali-kali melakukan aksi polisionil dengan alasan ingin menertibkan kondisi keamanan Hindia Belanda dari para pemberontak. Maka tak heran Belanda kembali datang untuk alih-alih “menertibkan”.

Belanda baru mengakui kedaulatan RI berkat resolusi Konferensi Menja Bundar pada 1949. Meski begitu, hasil kesepakatan KMB pun membagi wilayah Republic of indonesia ke bentuk federasi, Republik Republic of indonesia Serikat. RIS lantas dinyatakan berakhir pada tahun 1950.

Memang tak mudah bagi para pejuang Indonesia terutama para diplomat di masa-masa awal kemerdekaan meyakinkan negara-negara lain untuk mengakui Indonesia sebagai negara berdaulat.


Pengakuan Mesir

Haji Agus Salim, AR Baswedan, Nazir Pamoentjak, dan Rasjidi mengemban misi kunjungan balasan ke Mesir, setelah sebelumnya Konsul Jenderal Mesir di Bombay, Abdul Mun`im bertandang ke Yogyakarta pada xiii-sixteen Maret 1947.

Baca :   Garam Berikut Yang Mengalami Hidrolisis Sempurna Adalah

Kunjungan Mun`im tersebut, menurut AR Baswedan pada buku


Abdul Rahman Baswedan: Karya dan Pengabdiannya

, mewakili Mesir dan mengemban pesan Liga Arab berisi dukungan terhadap kemerdekaan Indonesia. Mun`im menyampaikan pesan tersebut kepada Presiden Soekarno pada 15 Maret 1947.

Setelah kunjungan Mun`im tersebut, keempat delegasi Indonesia lantas bertolak menuju Mesir. Kedatangan mereka bahkan mendapat atensi besar surat kabar Mesir.

Sehari setelah kedatangan mereka, menurut AR Baswedan, koran terbesar di Kairo “Al Ahrom” memuat foto delegasi RI. Kehadiran keempatnya mendapat sedikit ganjalan saat jadwal seharusnya melakukan penandatanganan kesepakatan persahabatan.

Ternyata, pihak Belanda melalui Duta Besar Belanda di Mesir sempat terlebih dahulu menemui PM Norakshi untuk menyampaikan keberatan mengenai sikap pemerintah Mesir terhadap Indonesia.

Duta Besar Belanda tersebut mengingatkan mengenai kerjasama ekonomi Belanda dan Mesir, juga mengancam akan menarik dukungannya terhadap Mesir bila tetap mendukung Indonesia.

PM Norakshi tak gentar dengan ancaman tersebut. Ia tetap menerima keempat delegasi RI dan tetap melangsungkan penandatanganan perjanjian persahabatan sekaligus pengakuan kemerdekaan RI.


Respon Bharat

Hubungan Indonesia dan India dari sisi kebudayaan memang telah terjalin lama. Namun, secara politik kontak pertama tokoh pergerakan kedua negara terjalin pada Kongres Internasional menentang Kolonialisme di Brussel 1926 dan 1927.

Kala itu, Hatta berjumpa Nehru. Hubungan tersebut terus berlanjut hingga masa revolusi. Bharat secara masif muncul sebagai sahabat terdepan Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Kedua negara, sama-sama berjuang menghadapi imperialisme Belanda dan Inggris. Dukungan kedua negara bisa terjalin baik karena keduanya memiliki pandangan politik serupa.

Setelah merdeka, Indonesia mengirim bantuan ke India berupa beras sebanyak 500.000 ton. Bantuan tersebut diberikan lantaran Republic of india mengalami krisis. Bharat membalas bantuan tersebut dengan mengadakan Konferensi New Delhi pada 20-25 Januari 1949.

Baca :   Dalam Lari Estafet Tongkat Biasanya Terbuat Dari

Agus Salim kembali hadir sebagai delegasi Indonesia. Konferensi tersebut dihadiri negara-negara sahabat, seperti Burma, Iran, Australia, Arab Saudi, Selandia Baru, Tiongkok, Yaman, Sri Lanka, dan lainnya.

Hasil pertemuan tersebut membuahkan risalah untuk diajukan kepada PBB, berisi three pokok rekomendasi, meliputi; 1) melakukan gencatan senjata, 2) Belanda membebaskan semua tawanan politik RI dan mengembalikan pemerintah RI ke Yogyakarta, dan iii) mengadakan perundingan di bawah UNCI.


Peran Australia

Sekiranya 4.000 buruh kapal melakukan aksi mogok. Mereka menolak bongkar muat kapal-kapal pengakut persenjataan untuk Belanda.

Dukungan kuat publik Australia, terutama Australian Waterside Workers Union, para pelaut Indonesia, China, India tersebut membuat kapal-kapal Belanda tak bisa melanjutkan pelayaran. Aksi tersebut tersohor dengan sebutan “The Black Armada”.

Aksi para buruh tersebut terus berlanjut hingga membuat elit di Commonwealth of australia terpengaruh terhadap perjuangan Indonesia untuk mempertahankan perjuangan.

Hasil dari dukungan tersebut berbuah hasil manis. Pihak Australia lantas memfasilitasi pemulangan sekitar 1.400 tawanan perang Belanda asal Republic of indonesia.

Pihak Australia juga mendorong Dewan Keamanan PBB mengakui kemerdekaan Indonesia. Dan terpenting, perjuangan Partai Buruh Australia secara berkesinambungan melakukan aksi-aksi mendukung kemerdekaan Republic of indonesia.


Peran PBB

Peran terbesar PBB dalam sejarah Indonesia terutama pasca-kemerdekaan lebih banyak mengurus penyelesaian masalah antara Belanda dan Indonesia.

Mula-mula ketika terjadi Agresi Militer I, PBB mengeluarkan rekomendasi untuk membuat Komisi Tiga Negara (KTN). Tiap negara berseteru memilih satu negara untuk menjadi wakil sementara satu negara menjadi pihak netral untuk menyelesaikan pertikaian.

Indonesia memilih Australia dengan Richard Kirby, sementara Belanda memilih Belgia dengan Paul van Zealand. Pihak ketiga atau netral dipilih Amerika Serikat dengan perwakilan Frank Graham. KTN berhasil mengantar kedua negara untuk berunding pada Perjanjian Renville.

Baca :   Bahan Bakar Biodiesel Yang Disosialisasikan Pada Zaman Penjajahan Jepang Adalah

Setelah itu, PBB berperan pada pembentukan badan perdamaian bernama United Nations Commission for Indonesia (UNCI). Tugas UNCI menggantikan KTN, untuk membantu memperlancar segala bentuk perundingan antara Indonesia dengan Belanda.

Di PBB, Indonesia mengutus LN Palar menjadi Wakil Tetap RI. Palar berperan besar memperjuangkan agar Republic of indonesia mendapat pengakuan internasional. Ia pun berhasil mengantar Republic of indonesia menjadi anggota PBB.

Nah, Quipperian, begitulah kiranya respon luar negeri terhadap kemerdekaan RI. Ada penolakan, ada pengakuan. Tapi yang jelas, perjuangan para pahlawan di masa lampau membuat kita bisa hadir di sini, menikmati keadaan


zaman now


dengan enak, dan bisa belajar bareng

Quipper Blog
. Ingat, jangan pernah lupakan sejarah, Quipperian!

Penulis: Rahmat Ali

Respon Belanda Terhadap Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Source: https://www.quipper.com/id/blog/mapel/sejarah/respon-internasional-terhadap-kemerdekaan-indonesia/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *