Nama Induk Organisasi Sepak Bola Indonesia

Nama Induk Organisasi Sepak Bola Indonesia

Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia
AFC
Logo PSSI.png
Didirikan 19 April 1930; 92 tahun lalu
 (1930-04-19)
Kantor pusat Jakarta Pusat, Djakarta, Indonesia
Bergabung dengan FIFA 1952
Bergabung dengan AFC 1954
Bergabung dengan AFF 31 Januari 1984[1]
Presiden Komjen. Politician. (Purn.) Dr. Drs. H. Mochamad Iriawan,S.H.,K.M.,M.H.[2]
Wakil ketua
  • Iwan Budianto
  • Cucu Sumantri[three]
Website pssi.org

Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia
(bahasa Inggris:


Football Association of Indonesia

) atau disingkat
PSSI, adalah organisasi yang bertanggung jawab mengelola sepak bola asosiasi di Indonesia. PSSI berdiri pada tanggal 19 Apr 1930 dengan nama awal
Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia. Ketua umum pertamanya adalah Ir. Soeratin Sosrosoegondo.

Dalam perjalanan keorganisasiannya, PSSI bergabung dengan badan sepak bola dunia, FIFA, pada tahun 1952,[four]
kemudian dengan badan sepak bola Asia, AFC, pada tahun 1954.[5]
PSSI menggelar beragam kompetisi dan turnamen, seperti Liga Indonesia atau Liga one (Indonesia), lalu ada Liga 2 (Republic of indonesia), Liga 3 (Republic of indonesia), Liga i Putri (Indonesia), Piala Indonesia, Elite Pro University, Piala Soeratin, Piala Presiden, Piala bola pantai, Piala Pertiwi, dan epiala indonesia

Kursi kepemimpinan PSSI diisi oleh Mochammad Iriawan yang menang mutlak pada Kongres Luar Biasa PSSI tahun 2019 dengan memperoleh suara 82 di Hotel Shangri-La Djakarta. Mochammad Iriawan yang memiliki nama panggilan Iwan Bule akan menjabat sebagai Ketua Umum PSSI hingga 2023.[6]

Kepengurusan

Berikut ini adalah kepengurusan PSSI periode 2019-2023:[vii]

Nama Jabatan
Mochammad Iriawan Ketua
Cucu Soemantri Wakil Ketua
Iwan Budianto Wakil Ketua
Yunus Nusi Sekretaris Jenderal
Marrike Ira Puspita Wakil Sekretaris Jenderal
A.S Sukawijaya Anggota Komite Eksekutif
Dirk Soplanit
Endri Erawan
Haruna Soemitro
Pieter Tanuri
Hasnuryadi Sulaiman
Juni Rahman
Ahmad Riyadh
Hasani Abdul Gani
Vivin Cahyani

Daftar Ketua Umum

Pada 2017, masa jabatan Ketua Umum PSSI adalah 4 tahun. Berikut adalah daftar Ketua Umum PSSI:[eight]

No Nama Awal jabatan Akhir jabatan Periode
1
Soeratin Sosrosoegondo
1930
1940
1
2
two
Artono Martosoewignyo
1941
1949
3
4
3
Maladi
1950
1959
5
half dozen
4
Abdul Wahab Djojohadikoesoemo
1960
1964
7
5
Maulwi Saelan
1964
1967
8
6
Kosasih Poerwanegara
1967
1974
9
10
7
Bardosono
1975
1977
eleven
viii
Ali Sadikin
1977
1981
12
13
ix
Sjarnoebi Said
1982
1983
10
Kardono
1983
1991
xiv
15
11
Azwar Anas
1991
1999
sixteen
17
12
Agum Gumelar
1999
2003
eighteen
xiii
Nurdin Halid
2003
ane Apr 2011
19
20
xiv
Djohar Arifin Husin
9 Juli 2011
xviii Apr 2015
21
xv
La Nyalla Mattalitti
eighteen April 2015
iii Agustus 2016
22
Plt.
Hinca Panjaitan
3 Agustus 2016
x November 2016
sixteen
Edy Rahmayadi
ten Nov 2016

20 Januari 2019
Plt.
Joko Driyono
20 Januari 2019
two Mei 2019
Plt.
Iwan Budianto
two Mei 2019
2 Nov 2019
17
Mochamad Iriawan
two November 2019

Petahana
23

Sejarah

Perkumpulan Sepak bola di Indonesia

Di 1920, pertandingan
voetbal
atau sepak bola digelar untuk meramaikan pasar malam. Pertandingan dilaksanakan sore hari. Selain sepak bola, bangsa Eropa termasuk Belanda juga memperkenalkan olahraga lain, seperti kasti, bola tangan, renang, tenis, dan hoki. Hanya, semua jenis olahraga itu hanya terbatas untuk kalangan Eropa, Belanda, dan Indo. Sepak bola tidak memerlukan tempat khusus dan pribumi boleh memainkannya.

Lapangan Singa (Lapangan Banteng) menjadi saksi di mana orang Belanda menggelar pertandingan panca lomba (vijfkam) dan
tienkam
(dasa lomba). Khusus untuk sepak bola, serdadu di tangsi-tangsi militer paling sering bertanding. Mereka kemudian membentuk bond sepak bola atau perkumpulan sepak bola. Dari bond-bond itulah kemudian terbentuk satu klub. Tak hanya serdadu militer, tetapi juga warga Belanda, Eropa, dan Indonesia membuat bail-bail serupa.

Dari bond-bond itu kemudian terbentuklah Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB) yang pada tahun 1927 berubah menjadi Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU). Sampai tahun 1929, NIVU mengadakan pertandingan termasuk dalam rangka memeriahkan pasar malam dan tak ketinggalan sebagai ajang judi. Bond Prc menggunakan nama antara lain Tiong un Tong, Donar, dan UMS. Adapun bond pribumi mungkin mengambil nama wilayahnya, seperti Cahaya Kwitang, Sinar Kernolong, atau Si Sawo Mateng.

Pada 1928 dibentuk Voetbalbond Republic of indonesia Jacatra (VIJ) sebagai akibat dari diskriminasi yang dilakukan NIVB. Sebelumnya bahkan sudah dibentuk Persatuan Sepak Bola Djakarta (Persidja) pada 1925. Pada 19 Apr 1930, Persidja ikut membentuk Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) di gedung Soceiteit Hande Projo, Yogyakarta. Pada saat itu Persidja menggunakan lapangan di Jalan Biak, Roxy, Jakpus.

Pada tahun 1930-an, di Indonesia berdiri tiga organisasi sepak bola berdasarkan suku bangsa, yaitu Nederlandsch Indische Voetbal Bail (NIVB) yang berganti nama menjadi Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU) pada tahun 1936 yang merupakan milik bangsa Belanda, Hwa Nan Voetbal Bond (HNVB) milik bangsa Tionghoa, dan Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI) milik orang Indonesia. Pamor bintang lapangan Bail NIVB, Grand Rehatta dan de Wolf, mulai menemui senja berganti bintang lapangan bail Red china dan pribumi, seperti Maladi, Sumadi, dan Ernst Mangindaan. Pada 1933, VIJ keluar sebagai juara pada kejuaraan PSSI ke-3.

Pada 1938 Indonesia lolos ke Piala Dunia. Pengiriman kesebelasan Indonesia (Hindia Belanda) sempat mengalami hambatan. NIVU (Nederlandsche Indische Voetbal Unie) atau organisasi sepak bola Belanda di Djakarta bersitegang dengan PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) yang telah berdiri pada bulan Apr 1930. PSSI yang diketuai Soeratin Sosrosoegondo, insinyur lulusan Jerman yang tinggal di Eropa, ingin pemain PSSI yang dikirimkan. Namun, akhirnya kesebelasan dikirimkan tanpa mengikutsertakan pemain PSSI dan menggunakan bendera NIVU yang diakui FIFA.

Pada masa Jepang, semua bail sepak bola dipaksa masuk
Tai Iku Koi
bentukan pemerintahan militer Jepang. Pada masa ini, Taiso, sejenis senam, menggantikan olahraga permainan. Baru setelah kemerdekaan, olahraga permainan kembali semarak.

Tahun 1948, pesta olahraga bernama PON (Pekan Olahraga Nasional) diadakan pertama kali di Solo. Di kala itu saja, sudah 12 cabang olahraga yang dipertandingkan.

Hingga 1950 masih terdapat pemain indo di beberapa klub Jakarta. Sebut saja Vander Vin di klub UMS; Van den Berg, Hercules, Niezen, dan Pesch dari klub BBSA. Pemain indo mulai luntur pada tahun 1960-an.[nine]

PSSI

PSSI dibentuk pada tanggal 19 April 1930 di Yogyakarta dengan nama
Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia. Sebagai organisasi olahraga yang lahir pada masa penjajahan Belanda, kelahiran PSSI ada kaitannya dengan upaya politik untuk menentang penjajahan. Apabila mau meneliti dan menganalisis lebih lanjut saat-saat sebelum, selama, dan sesudah kelahirannya hingga 5 tahun pasca proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, PSSI mungkin lahir dibidani oleh muatan politis, baik secara langsung maupun tidak, untuk menentang penjajahan dengan strategi menyemai benih-benih nasionalisme di dada pemuda-pemuda Indonesia yang ikut bergabung.

PSSI didirikan oleh seorang insinyur sipil bernama Soeratin Sosrosoegondo. Ia menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Teknik Tinggi di Heckelenburg, Jerman, pada tahun 1927 dan kembali ke tanah air pada tahun 1928. Ketika kembali, Soeratin bekerja pada sebuah perusahaan bangunan Belanda,
Sizten en Lausada, yang berkantor pusat di Yogyakarta. Di sana dia merupakan satu-satunya orang Indonesia yang duduk sejajar dengan komisaris perusahaan konstruksi itu. Akan tetapi, “didorong oleh semangat nasionalisme yang tinggi”, dia kemudian memutuskan untuk mundur dari perusahaan tersebut.

Setelah berhenti dari
Sizten en Lausada, Soeratin lebih banyak aktif di bidang pergerakan. Sebagai seorang yang gemar bermain sepak bola, dia menyadari kepentingan pelaksanaan butir-butir keputusan yang telah disepakati bersama dalam pertemuan para pemuda Republic of indonesia pada tanggal 28 Oktober 1928 (Sumpah Pemuda). Soeratin melihat sepak bola sebagai wadah terbaik untuk menyemai nasionalisme di kalangan pemuda sebagai sarana untuk menentang Belanda.

Untuk mewujudkan cita-citanya itu, Soeratin mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh sepak bola di Solo, Yogyakarta, dan Bandung. Pertemuan dilakukan dengan kontak pribadi secara diam-diam untuk menghindari sergapan Polisi Belanda (PID). Kemudian, ketika mengadakan pertemuan di hotel
Binnenhof
di Jalan Kramat 17, Dki jakarta, Soeri, ketua VIJ (Voetbalbond Indonesische Jakarta), dan juga pengurus lainnya, dimatangkanlah gagasan perlunya dibentuk sebuah organisasi sepak bola nasional. Selanjutnya, pematangan gagasan tersebut dilakukan kembali di Bandung, Yogyakarta, dan Solo yang dilakukan dengan beberapa tokoh pergerakan nasional, seperti Daslam Hadiwasito, Amir Notopratomo, A. Hamid, dan Soekarno (bukan Hurl Karno). Sementara itu, untuk kota-kota lainnya, pematangan dilakukan dengan cara kontak pribadi atau melalui kurir, seperti dengan Soediro yang menjadi Ketua Asosiasi Muda Magelang.

Kemudian pada tanggal 19 April 1930, berkumpullah wakil dari VIJ (Sjamsoedin, mahasiswa RHS), BIVB –
Bandoengsche Indonesische Voetbal Bond
(Gatot), PSM –
Persatuan sepak bola Mataram
Yogyakarta (Daslam Hadiwasito, A. Hamid, dan Yard. Amir Notopratomo), VVB –
Vortenlandsche Voetbal Bond
Solo (Soekarno), MVB –
Madioensche Voetbal Bond
Madiun (Kartodarmoedjo), IVBM –
Indonesische Voetbal Bond Magelang
(E.A. Mangindaan), dan SIVB –
Soerabajasche Indonesische Voetbal BondSurabaya(Pamoedji). Dari pertemuan tersebut, diambillah keputusan untuk mendirikan PSSI, singkatan dari
Persatoean
Southwardepak Raga
Southeloeroeh
Indonesia. Nama PSSI lalu diubah dalam kongres PSSI di Solo pada tahun 1930 menjadi
Persatuan sepak bola Seluruh Indonesia
sekaligus menetapkan Ir. Soeratin sebagai ketua umumnya.

Kontroversi

PSSI pada masa kepemimpinan Nurdin Halid memiliki beberapa hal yang dianggap kontroversi, antara lain mudahnya Nurdin Halid memberikan ampunan atas pelanggaran, kukuhnya Nurdin Halid sebagai Ketua Umum meski dia dipenjara, isu tidak sedap yang beredar pada masa pemilihan Ketua Umum tahun 2010, dan reaksi penolakan atas diselenggarakannya Liga Primer Republic of indonesia.

Kasus Hukum Nurdin Halid

Pada 13 Agustus 2007, Ketua Umum Nurdin Halid divonis two tahun penjara akibat kasus pengadaan minyak goreng.[10]
Berdasarkan standar statuta FIFA, seorang pelaku kriminal tidak boleh menjabat sebagai ketua umum sebuah asosiasi sepak bola nasional.[11]
[12]
Karena alasan tersebut, Nurdin didesak untuk mundur dari berbagai pihak;[xiii]
[14]
[fifteen]
Jusuf Kalla (Wakil Presiden RI saat itu),[xvi]
Ketua KONI,[17]
dan FIFA[12]
[16]
[eighteen]
menekan Nurdin untuk mundur. FIFA mengancam untuk menjatuhkan sanksi kepada PSSI jika tidak diselenggarakan pemilihan ulang ketua umum.[19]
Akan tetapi Nurdin bersikeras untuk tidak mundur dari jabatannya sebagai ketua PSSI, dan tetap menjalankan kepemimpinan PSSI dari balik jeruji penjara.[sixteen]
[17]
[20]
[21]
Kontroversi berlanjut setelah statuta mengenai ketua umum yang sebelumnya berbunyi “harus tidak pernah terlibat dalam kasus kriminal” (bahasa Inggris:

“They…, must non have been previously found guilty of a criminal criminal offence….”
) diubah dengan menghapuskan kata “pernah” (bahasa Inggris:

“have been previously”
) sehingga artinya menjadi “harus tidak sedang dinyatakan bersalah atas suatu tindakan kriminal” (bahasa Inggris:

“… must not found guilty of a criminal offense…”
).[22]
[23]
Setelah masa tahanannya selesai, Nurdin kembali menjabat sebagai ketua PSSI.[21]
[24]

Reaksi atas Liga Primer Republic of indonesia

Pada Oktober 2010, Liga Primer Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas sepak bola Indonesia dideklarasikan di Semarang oleh Konsorsium dan 17 perwakilan klub.[25]
Kompetisi ini tidak direstui oleh PSSI dan dianggap ilegal.[26]
Meski PSSI memaparkan secara panjang lebar alasan mengapa LPI melawan hukum,[26]
organisasi ini tidak pernah menjelaskan alasan mengapa mereka tidak merestui LPI, kecuali menyebut LPI sebagai “kompetisi ecek-ecek”[27],”tarkam”,[28]
dan “banci”.[29]
LPI akhirnya mendapatkan izin dari pemerintah melalui Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng.[30]

Klub anggota yang keluar dari kompetisi PSSI dan mengikuti Liga Primer Indonesia dikenakan sanksi degradasi[31]
dan tidak diundang dalam Munas PSSI.[32]
Padahal klub-klub tersebut hanya mengundurkan diri dari Liga Super Republic of indonesia dan bukan dari keanggotaan PSSI, sehingga masih memiliki hak suara dalam kongres.[33]
Selain itu, menurut Statuta PSSI, penghapusan keanggotaan klub dari PSSI tidak dapat ditentukan hanya oleh petinggi PSSI, harus melalui kongres dan disetujui minimal 3/4 anggota yang hadir.[33]
[34]

Kisruh dan pembentukan komite normalisasi

Kisruh di PSSI semakin menjadi-jadi semenjak munculnya LPI. Ketua Umum Nurdin Halid melarang segala aktivitas yang dilakukan oleh LPI. Pada Kongres PSSI tanggal 26 Maret 2011 di Pekanbaru, Riau, masalah kekisruhan di tubuh PSSI seperti disengaja disembunyikan dari publik dengan cara mengadakan kongres secara tertutup. Kongres tersebut pada akhirnya tidak berhasil diselenggarakan karena terjadi kekisruhan mengenai hak suara.[35]

Pada ane April 2011, Komite Darurat FIFA memutuskan untuk membentuk Komite Normalisasi yang akan mengambil alih kepemimpinan PSSI dari komite eksekutif di bawah pimpinan Nurdin Halid.[36]
Komite Darurat FIFA menganggap bahwa kepemimpinan PSSI saat ini tidak dapat mengendalikan sepak bola di Indonesia, terbukti dengan kegagalannya mengendalikan LPI dan menyelenggarakan kongres. FIFA juga menyatakan bahwa 4 orang calon Ketua Umum PSSI yaitu Nurdin Halid, Nirwan Bakrie, Arifin Panigoro, dan George Toisutta tidak dapat mencalonkan diri sebagai ketua umum sesuai dengan keputusan Komite Banding PSSI tanggal 28 Februari 2011. Selanjutnya, FIFA mengangkat Agum Gumelar sebagai Ketua Komite Normalisasi PSSI.

Setelah melalui serangkaian kegagalan, termasuk kembali gagalnya penyelengaraan Kongres tanggal xx Mei 2011 di Dki jakarta, akhirnya dalam Kongres Luar Biasa tanggal 9 Juli 2011 di Kota Surakarta, Djohar Arifin Husin terpilih sebagai Ketua Umum PSSI periode 2011-2015.

Pemecatan Alfred Riedl

Pemecatan dan penunggakan gaji Alfred Riedl menimbulkan hal yang kontroversial karena pihak PSSI mengaku bahwa Alfred Riedl dikontrak oleh Mantan Wakil Ketua Umum PSSI Nirwan Bakrie secara pribadi dan bukan oleh PSSI akan tetapi Alfred Riedl membantah hal tersebut dan membawa persoalan ini ke FIFA.[37]

Kisruh Indonesian Premier League

Setelah berganti kepengurusan Ketua umum PSSI dari Nurdin Halid ke Djohar Arifin Husin dimulai era kompetisi baru. Dalam pembentukan IPL, beberapa masalah yang terjadi karena aturan-aturan yang ditetapkan oleh PSSI. Pembentukan IPL mendapat tekanan dari 12 klub sepak bola atau kelompok 14 karena kompetisi berjumlah 24 klub dan half dozen klub di antaranya langsung menjadi klub IPL. Namun, PSSI meyakinkan bahwa untuk memenuhi standar kompetisi profesional AFC, klasemen musim sebelumnya (musim 2010/2011) dihapuskan. Sebagai gantinya, yang dilihat adalah poin tertinggi dalam verifikasi tentang profesionalisme klub Indonesia. Akan tetapi, dengan adanya IPL, Indonesia terhindar dari sanksi AFC.[37]


Konflik PSSI dengan Pemerintah, Pembekuan PSSI dan Sanksi FIFA

Berawal dari ikut sertanya Arema Indonesia dan Persebaya Surabaya dalam ajang QNB League yang telah dilarang ikut serta oleh Badan Olahraga Profesional Indonesia, Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia memberikan surat peringatan kepada PSSI. Surat peringatan I diberikan pada 8 Apr 2015 yang menyatakan bahwa PSSI telah mengabaikan rekomendasi BOPI atas larangan ikut sertanya Arema dan Persebaya.[38]
Selain itu, Kemenpora meminta kedua klub untuk mengikuti rekomendasi BOPI. Selang seminggu kemudian, Kemenpora kembali mengeluarkan surat peringatan II karena PSSI serta Arema dan Persebaya tidak juga mematuhi perintah BOPI sebelumnya. Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin menilai ini hanya kesalahpahaman antara PSSI dengan Kemenpora dan BOPI. Ia pun yakin masalah ini dapat selesai jika PSSI serta Kemenpora dan BOPI duduk bersama. Sebelumnya pada 10 April, FIFA mengirim surat kepada Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi agar pemerintah tidak mengintervensi PSSI. Apabila intervensi berlanjut, maka FIFA akan memberikan sanksi kepada PSSI.[39]
Pada xvi Apr, Kemenpora kembali mengirimkan surat peringatan Three kepada PSSI. Kemenpora menilai PSSI mengabaikan surat peringatan I dan Two sebelumnya. PSSI juga kembali diminta patuh kepada rekomendasi BOPI sebelumnya. Akhirnya, pada 17 April 2015, Menpora Imam Nahrawi membekukan PSSI. Menpora juga tidak mengakui penyelenggaraan Kongres Luar Biasa PSSI yang tengah berlangsung di Kota Surabaya, yang berakhir dengan terpilihnya La Nyalla Mahmud Mattalitti sebagai ketua umum periode 2015-2019. Dalam keputusan menteri tersebut, Menpora menerangkan pemerintah akan membentuk Tim Transisi yang mengambil alih hak dan kewenangan PSSI sampai dengan terbentuknya kepengurusaan PSSI yang kompeten sesuai dengan mekanisme organisasi dan statuta FIFA. Sedangkan soal Timnas Indonesia untuk Bounding main Games dan penyelenggaraan QNB League akan diambil alih oleh KONI dan KOI.[40]
Tim Transisi tersebut adalah FX Hadi Rudyatmo, Lodewijk Freidrich Paulus, Ridwan Kamil, Boil Rumpoko, Ricky Yakobi, Bibit Samad Riyanto, Darmin Nasution, Cheppy T. Wartono, Tommy Kurniawan, Iwan Lukminto, Francis Wanandi, Saut H. Sirait, Andrew Darwis, Fahri Husaini, Zuhairi Misrawi, Diaz Faisal Malik Hendropriyono, Velix F. Wanggai.[41]
Dari 17 nama tersebut, Velix F. Wanggai, Darmin Nasution, Farid Husain dan Ridwan Kamil mengundurkan diri sebelum Tim bekerja.[42]
[43]

Pada 25 Mei 2015, Pemerintah melalui Wakil Presiden Jusuf Kalla, menganjurkan untuk mencabut pembekuan PSSI pimpinan La Nyalla Mattalitti. Hal ini dilakukan setelah adanya pertemuan tertutup dengan Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, Wakil Ketua Umum PSSI Hinca Panjaitan, Ketua Komite Olimpiade Indonesia Rita Subowo dan mantan Ketua Umum PSSI Agum Gumelar di Istana Wapres.[44]
Alasan pencabutan ini dilakukan agar Indonesia terhindar dari sanksi FIFA.[45]
Walaupun demikian, Presiden Joko Widodo menginginkan adanya pembenahan total terhadap persepak bolaan Indonesia sebagai jalan untuk memperbaiki prestasi sepak bola Republic of indonesia dan tetap mendukung dan menyerahkan pembenahan tersebut kepada Kementrian Pemuda dan Olahraga.[46]

Pada 30 Mei 2015, FIFA resmi menjatuhkan sanksi kepada PSSI dan berlaku hingga PSSI mampu memenuhi kewajiban pada pasal 13 dan 17 statuta FIFA. Akibat sanksi ini, timnas Indonesia dan semua klub di Republic of indonesia dilarang berpartisipasi di pentas Internasional di bawah FIFA atau AFC, kecuali SEA Games di Singapura hingga turnamen berakhir.[47]
Sanksi berupa pembekuan keanggotaan (suspensi) tersebut akhirnya dicabut hampir setahun kemudian, 13 Mei 2016, dalam Kongres FIFA ke-66 di Kota Meksiko.

Kasus Match Fixing Yang Melibatkan Anggota Komite Eksekutif PSSI

Kasus pengaturan skor di sepak bola Indonesia pernah menjerat sejumlah pengurus PSSI. Mereka diciduk Satgas Anti Mafia Bola karena terlibat praktik match fixing.

Pengurus PSSI yang terciduk Satgas Anti Mafia Bola ini juga telah ditetapkan sebagai tersangka setelah diperiksa oleh pihak kepolisian.

Nama-nama pengurus PSSI ini terungkap sekitar medio 2018 di programme Mata Najwa yang membahas soal praktik pengaturan skor di kompetisi sepak bola Republic of indonesia.

Dari daftar yang ada, beberapa pengurus PSSI ini memang menduduki jabatan strategis dalam upaya mengatur sebuah pertandingan terdiri dari:

1. Johar Lin Eng

Johar Lin Eng, mantan anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI juga pernah ditetapkan sebagai tersangka kasus pengaturan skor pada 2018.

Saat itu, Johar juga berstatus sebagai Ketua Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Jawa Tengah. Namanya pertama kali muncul dalam acara Mata Najwa pada 19 Desember 2018. Saat itu, Johar Lin Eng disebut-sebut terlibat skandal pengaturan skor allonym match-fixing pada pertandingan kompetisi Liga iii. Keterlibatannya diungkap oleh kesaksian Bupati Banjarnegara, Budhi Sarwono, serta manajer Persibara Banjarnegara, Lasmi Indrayanti, yang juga berstatus sebagai anak Budhi.

2. Dwi Irianto

Dwi Irianto atau yang akrab disapa Mbah Putih juga menjadi salah satu pengurus PSSI yang pernah ditangkap oleh Satgas Anti Mafia Bola. Mbah Putih merupakan anggota Asosiasi Provinsi (PSSI) DiY yang juga menjadi anggota Komisi Disiplin (Komdis) PSSI. Kasus pengaturan skor yang melibatkan Mbah Putih berawal ketika Lasmi Indaryani, manajer Persibara Banjarnegara, dalam program acara Mata Najwa pada nineteen Desember 2018. Mbah Putih disebut terlibat dalam upaya memudahkan langkah Persibara di kompetisi Liga three 2018. Saat itu, ia menerima sejumlah uang dari Lasmi Indaryani. Saat itu, Satgas Anti mafia Bola menemukan keterlibatan Mbah Putih sebagai penerima dana suap untuk mengatur skor pertandingan di Liga 2 dan Liga three musim 2018.

3. Priyanto

Selain itu, mantan anggota Komisi Wasit (Komwas) PSSI, Priyanto, juga pernah ditetapkan sebagai tersangka kasus pengaturan skor.

Priyanto menjadi satu di antara enam tersangka dugaan pengaturan skor pada perjalanan Persibara Banjarnegara di Liga 3 2018.

Saat itu, Priyanto berperan sebagai makelar wasit dan klub, serta menjadi penghubung kepada Ketua Asprov PSSI Jawa Tengah, Johar Lin Eng.

Dalam sebuah persidangan, Priyanto sempat mengungkapkan fakta mengenai jumlah uang yang diberikan kepada wasit.

Dia menyebut, untuk Liga 3 Jawa Tengah, uang yang disetor kepada wasit sebesar Rp ten juta, Rp thirty juta, hingga Rp fifty juta per pertandingan. Biasanya, besaran uang ini tergantung dari bobot pertandingan.

4. Joko Driyono

Salah satu pucuk pimpinan PSSI, Joko Driyono, juga pernah diciduk Satgas Antimafia Bola terkait kasus pengaturan skor.

Saat itu, Joko Driyono berstatus sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum PSSI. Dia menduduki posisi itu setelah Ketua Umum sebelumnya, Edy Rahmayadi, mundur dari jabatannya.

Jokdri, sapaan akrabnya, ditetapkan sebagai tersangka tindak pidana pencurian dengan pemberatan dan/atau memasuki dengan cara membongkar, merusak, atau menghancurkan barang bukti.

Lelaki asal Ngawi itu dituduh menjadi dalang perusakan sejumlah dokumen yang berkaitan dengan pengaturan skor sepak bola nasional.

5. ML

Pengurus PSSI lainnya yang juga pernah terjerat kasus pengaturan skor ialah  ML (nama inisial), staf Direktur Penugasan Wasit PSSI.

ML diketahui bertugas menjadwalkan siapa wasit yang akan memimpin pertandingan, baik di Liga 1, Liga two, ataupun Liga 3.

Dari keterangan pihak kepolisian, ML diduga mengatur pemilihan wasit yang bisa diajak bekerja sama untuk memenangkan tim tertentu.

Miskomunikasi Sewa Lapangan Latihan

Pada 26 Mei 2022, pelatih kepala timnas Republic of indonesia, Shin Tae-yong, menyatakan bahwa mereka batal melakukan latihan di Stadion Madya Gelora Hurl Karno karena tempat tersebut belum dipesan.[48]
“Sedikit memalukan saya rasa alasannya. Kami memang mau melakukan latihan di lapangan setelah latihan beban, tapi tadi ada info kalau lapangan sedang dipakai, belum ter-booking. Jadi kami memutuskan untuk mengganti latihan dengan jogging,” ungkap Shin Tae-yong.[49]
Sebagai gantinya, Shin Tae-yong mengganti jadwal latihan dengan
jogging
di sekitar GBK.[49]
Seorang komite eksekutif (Executive Committee atau disingkat
Exco) PSSI yang saat itu dipimpin oleh Mochamad Iriawan, Yunus Nusi, menampik pemberitaan itu dengan merilis
statement
bahwa telah terjadi miskomunikasi penjadwalan sewa lapangan, bahwa sebenarnya lapangan telah disewa namun berbeda waktu seperti yang dipahami Shin Tae-yong.[50]
Keesokan harinya, tim nasional melanjutkan latihan di Bandung untuk berlatih di Stadion Sidolig.[51]
Tim nasional Indonesia dijadwalkan menggelar latihan untuk persiapan menghadapi Bangladesh pada FIFA Matchday tanggal 1 Juni 2022 di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung.

Referensi


  1. ^


    AFF didirikan
    Diarsipkan 2010-08-25 di Wayback Machine.. Website resmi AFF. Diakses tanggal 2/11/2019

  2. ^


    Iwan Bule
    resmi terpilih sebagai ketua PSSI. Kompas.com. ii November 2019. Diakses tanggal two/11/2019

  3. ^


    Meta Rahma Melati (two November 2019). “Resmi, Iwan Budianto dan Cucu Soemantri Terpilih Jadi Wakil Ketua Umum PSSI”. Bolasport.com.




  4. ^


    “Sejarah PSSI”.
    PSSI – Football Association of Indonesia
    . Diakses tanggal
    2019-02-27
    .





  5. ^


    “Sejarah PSSI”.
    PSSI – Football Association of Indonesia
    . Diakses tanggal
    2019-02-27
    .





  6. ^

    Menang Mutlak, Iwan Bule Ketua Umum PSSI 2019–2023
    sport.detik.com.
    Diakses tanggal 2021-09-24.

  7. ^


    Rina Widyastuti, ed. (2019-11-02). “Iwan Bule Ketua Umum PSSI, Ini Susunan Exco PSSI 2019-2023”.
    bola.tempo.co. Tempo. Diakses tanggal
    2019-11-03
    .





  8. ^


    “Daftar Ketua PSSI”.
    PSSI – Football Association of Indonesia
    . Diakses tanggal
    2017-12-sixteen
    .





  9. ^


    Voetbal’ di Batavia”.
    Kompas. Kompas.com. 16 Juli 2010. Diakses tanggal
    25 Oktober
    2015
    .





  10. ^


    “Nurdin Halid Divonis Dua Tahun Penjara”. Antara. 14 September 2007. Diakses tanggal
    ix Desember
    2010
    .





  11. ^


    “Article 32. Composition”.
    Standard Statutes
    (PDF). FIFA. hlm. 29. Diarsipkan dari versi asli
    (PDF)
    tanggal 2011-03-04. Diakses tanggal
    2010-12-09
    .

    The members of the Executive Committee shall be no older than … [age to exist completed by the Association] and no younger than … [age to be completed by the Association]. They shall have already been active in football game, must not accept been previously establish guilty of a law-breaking and have residency within the territory of Ten.





  12. ^


    a




    b




    “PSSI Harus Harus Hindari Munaslub”. Okezone. 2 Nov 2007. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-01-12. Diakses tanggal
    2011-01-05
    .





  13. ^


    “Praktisi Olahraga: Nurdin Halid Harus Mundur Dari PSSI”. Kapanlagi.com. 19 September 2007. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-01-xiii. Diakses tanggal
    2011-01-05
    .





  14. ^


    “Nurdin Harus Segera Dicopot”. Kompas. 26 Maret 2008.




  15. ^


    “Pengda PSSI DKI Setuju Desak Nurdin Mundur”. Goal.com. 8 Mei 2008.



  16. ^


    a




    b




    c




    “Nurdin Halid Menolak Mundur dari PSSI”. Antara. 2 Nov 2007.



  17. ^


    a




    b




    “Ketua KONI: PSSI Harus Pilih Ketua Baru”. Tempo. two November 2007. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2009-08-17. Diakses tanggal
    2011-01-05
    .





  18. ^


    “Menegpora Minta KONI Desak FIFA Soal Status Ketua Umum PSSI”. Okezone. 1 Nov 2007. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-01-12. Diakses tanggal
    2011-01-05
    .





  19. ^


    “FIFA Ancam Jatuhkan Sanksi Kepada PSSI”. Tempo. 2 Nov 2007. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-01-03. Diakses tanggal
    2011-01-05
    .





  20. ^


    “Nurdin Halid Menolak Mundur dari PSSI”. Tempo. ii November 2007. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-01-27. Diakses tanggal
    2011-01-05
    .




  21. ^


    a




    b




    “Lindungi Indonesia dari Godaan Nurdin yang Terkutuk”. Tribun News. 5 Desember 2010. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2010-12-07. Diakses tanggal
    2010-12-10
    .





  22. ^


    “Soal Statuta FIFA, Nurdin Punya Kartu Truf”. Okezone. 31 Maret 2010.




  23. ^


    “Inilah Rapor Merah Nurdin Halid”. Goal.com. vii Maret 2010.




  24. ^


    “Nurdin Langsung Aktif sebagai Ketua PSSI”. Okezone. 27 November 2008.




  25. ^


    bola/liga-republic of indonesia/10/10/24/142170-sebanyak-17-klub-ikuti-deklarasi-liga-primer-republic of indonesia “Sebanyak 17 Klub Ikuti Deklarasi Liga Primer Republic of indonesia”.
    republika.co.id
    . Diakses tanggal
    2011-01-20
    .




  26. ^


    a




    b




    “Kompetisi Di Luar Regulasi PSSI : Ilegal!”. PSSI. 2011-01-03. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-03-08. Diakses tanggal
    2011-01-07
    .





  27. ^


    “PSSI Sebut LPI Kompetisi Ecek-Ecek”. Tempointeraktif. 2010-10-24. Diakses tanggal
    2011-01-07
    .





  28. ^


    “PSSI: “LPI Sama dengan Tarkam“. Yahoo! Indonesia. 2010-10-01. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2010-10-05. Diakses tanggal
    2011-01-07
    .





  29. ^


    “Nugraha: LPI Kompetisi Banci!”. Kompas. 2010-12-30. Diakses tanggal
    2011-01-07
    .





  30. ^


    Andreas Nugroho (2011-01-06). “Pemerintah izinkan Liga Primer”. BBC Republic of indonesia. Diakses tanggal
    2011-01-07
    .





  31. ^


    “Ikut LPI, Tiga Klub Superliga Didegradasi”. Goal.com. 2010-12-xxx. Diakses tanggal
    2011-01-07
    .





  32. ^


    “Tempointeraktif.Com – Tiga Klub LPI Tak Diundang ke Kongres PSSI”.
    tempointeraktif.com. Diarsipkan dari bola/2011/01/19/brk,20110119-307301,id.html versi asli tanggal 2014-01-16. Diakses tanggal
    2011-01-20
    .




  33. ^


    a




    b




    “PSM Tetap Ke Kongres PSSI – Goal.com”.
    goal.com
    . Diakses tanggal
    2011-01-20
    .





  34. ^


    “KOMPAS bola – Bojonegoro, Persema, PSM, dan BOPI”.
    bola.kompas.com
    . Diakses tanggal
    20 Jan
    2011
    .
    Dalam Statuta PSSI, Pasal 17 mengenai pemecatan disebutkan: 1. Kongres dapat memecat anggota jika: a. Anggota tidak memenuhi kewajiban keuangannya kepada PSSI; b. Anggota secara serius telah melanggar Pedoman Dasar, peraturan-peraturan, instruksi atau keputusan-keputusan FIFA, AFC, dan PSSI. 2. Pemecatan menjadi sah apabila kongres dihadiri oleh suara terbanyak mutlak (50 % + 1) dari anggota yang mempunyai hak suara dan 3/4 (tiga per empat) dari yang hadir menyetujui pemecatan tersebut.






  35. ^

    Kongres PSSI Pekanbaru Kembali Ricuh

  36. ^

    Normalisation Commission in Indonesia Diarsipkan 2011-04-09 di Wayback Machine., FIFA.com, iv Apr 2011. Diakses pada 12 April 2011.
  37. ^


    a




    b




    “Salinan arsip”. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-01-26. Diakses tanggal
    2011-x-17
    .





  38. ^


    beritabolasaya, official (2020-07-25). “UPT Stadion Maguwoharjo Jadi Stadion Untuk Beberapa Klub Sepakbola”.
    Berita Bola Saya
    (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal
    2022-04-01
    .





  39. ^

    http://bola.kompas.com/read/2015/04/11/17560288/Surat.Teguran.FIFA.kepada.Menpora.

  40. ^

    http://bola.kompas.com/read/2015/04/18/16091208/Ini.Isi.Lengkap.Surat.Pembekuan.PSSI

  41. ^

    Artikel:”Inilah Susunan Tim Transisi PSSI” di Kompas.com

  42. ^

    Artikel:”iii Anggota Tim Transisi Mundur, Ini Reaksi Kemenpora” di Kompas.com

  43. ^

    Artikel:”Ridwan Kamil Mundur dari Tim Transisi!” di Kompas.com

  44. ^


    “Artikel:”Resmi! Pemerintah Cabut Pembekuan PSSI” di jpnn.com”. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-05-25. Diakses tanggal
    2015-05-25
    .





  45. ^

    Artikel:”Wapres Minta Surat Pembekuan PSSI Dicabut” di bola.kompas.com

  46. ^

    http://sport.detik.com/sepak
    [
    pranala nonaktif permanen
    ]


    bola/read/2015/05/30/172254/2929602/76/tak-persoalkan-pembekuan-pssi-jokowi-sepak bola-harus-direformasi-full

  47. ^

    http://www.bola.net/republic of indonesia/resmi-fifa-jatuhkan-sanksi-kepada-indonesia-0209ae.html

  48. ^


    “Kata Shin Tae-yong Usai Timnas Indonesia Gagal Latihan karena Stadion Belum Dipesan: Saya Malu…” Kompas.com. 27 Mei 2022.



  49. ^


    a




    b




    “Klarifikasi PSSI Soal Polemik Booking Tempat Latihan Timnas Indonesia”.
    Bola.com. 27 Mei 2022.





  50. ^


    “PSSI Selalu Akomodir Keinginan Pelatih Timnas Indonesia”.
    PSSI. 27 Mei 2022. Diakses tanggal
    31 Mei
    2022
    .





  51. ^


    “Skuad Garuda Jalani Latihan Perdana di Bandung”.
    PSSI. 27 Mei 2022.




Pranala luar

  • (Indonesia)
    (Inggris)

    Situs web resmi
  • (Inggris)
    Republic of indonesia pada situs web resmi FIFA.
  • (Inggris)
    Indonesia pada situs spider web resmi AFC.



Nama Induk Organisasi Sepak Bola Indonesia

Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Persatuan_Sepak_Bola_Seluruh_Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *