Universitas Bung Hatta

Menuju Perguruan Tinggi Berkelas Dunia

Bg Universitas Bung Hatta


Selasa, 04 Maret 2008


Keteknikan

Mengendalikan Korosi

[html]Dilihat dari aspek elektrokimia, korosi merupakan proses terjadinya transfer elektron dari logam ke lingkungannya. Logam berlaku sebagai sel yang memberikan elektron (anoda) dan lingkungannya sebagai penerima elektron (katoda).


ÂÂ


q
   ÂÂ





Pengendalian Korosi Sumuran dan Korosi Celah





ÂÂ


Pengendalian korosi sumuran dan korosi celah dilakukan dengan metoda yang sama. Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah:

(1) Pemilihan material yang tahan korosi menjadi cara utama pengendalian korosi ini.

Paduan yang tahan terhadap korosi sumuran juga tahan korosi celah. Peningkatan krom, nikel dan molybdenum akan meningkatkan ketahanan terhadap korosi sumuran dan korosi celah untuk baja tahan karat. Paduan nikel dengan kandungan krom dan molybdenum yang sama akan memiliki ketahanan yang lebih baik (dan lebih mahal) dari baja tahan karat.

Unsur ikutan atau pengotor seperti karbon dan sulfur biasanya menurunkan ketahanan paduan tahan karat ’fe and nickel based alloys’. Paduan titanium memiliki ketahanan terhadap korosi sumuran di lingkungan yang agresif tetapi rentan terhadap korosi celah dilingkungan yang mengandung klorida dan larutan halida lainnya pada temperatur diatas 70
oC.

(two) Agresifitas larutan dapat dikurangi dengan menurunkan kandungan klorida, keasaman dan atau temperaturnya, menghambat aliran proses pembentukan deposit, mengeliminasi terakumulasinya hidrolisa produk korosi, serta menurunkan pH.

(3) Memberi unsur penghambat di larutan (inhibitors), juga dapat dilakukan untuk pengendalian korosi sumuran dan korosi celah, tetapi penerapan cara ini harus diperhitungkan dengan baik, karena apabila kandungan inhibitor yang terdapat dilarutan tidak cukup, maka pada beberapa bagian peralatan dapat terjadi kerusakan berupa lubang kecil yang dalam.

(iv) Protekasi katodik juga dapat mengendalikan korosi sumuran dan korosi celah untuk peralatan yang digunakan dilingkungan laut, tetapi cara ini tidak selalu menjadi pilihan yang memungkinkan untuk aliran proses kimia yang agresif.

Baca :   Bagaimana Penyusunan Proposal Dengan Struktur Dan Logika Yang Jelas

(v) Korosi celah dapat dikontrol melalui perencanaan dengan cara menghindari adanya celah-celah. Peralatan harus direncanakan lengkap dengan saluran pembuangan dan menghindarkan daerah yang menyebabkan tertahannya atau mengendapnya larutan. Sambungan las temu (butt-joint) pada struktur akan lebih baik diaplikasikan dibanding sambungan paku keling atau sambungan ulir.

(6) Membersihkan permukaan logam apabila memungkinkan, akan menurunkan terjadinya korosi sumuran dan korosi celah. Menghilangkan partikel padat yang dilakukan untuk meminimalkan pembentukan deposit (endapan).





ÂÂ




ÂÂ




ÂÂ




ÂÂ




ÂÂ




ÂÂ



q
   ÂÂ




Pengendalian Korosi Galvanik



ÂÂ

Pengendalian korosi galvanik dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu : (1) Menghindarkan terjadinya hubungan galvanik logam. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memilih fabric yang memiliki potensial yang tidak jauh berbeda (berdekatan pada Galvanic Series) pada saat perencanaan. (2) Mengontrol Anoda. Apabila hubungan galvanik tidak dapat dihindarkan, maka logam yang menjadi daerah anoda hendaknya diperluas atau dibuat lebih tebal. Secara ekonomis, akan lebih baik lagi dilakukan dengan membuat anoda menjadi bagian yang mudah diganti. (3) Pemasangan sekat antara dua bagian logam yang berhubungan biasanya salah satu cara yang dilakukan untuk menghindari terjadinya hubungan galvanik. (4) Menghindarkan terjadinya cacat lapisan. Pada pelapisan logam hubungan galvanik akan terjadi apabila lapisannya pecah, oleh karena itu pada saat proses pelapisan dilakukan harus dihindarkan terjadinya cacat pelapisan yang dapat menjadi anoda yang sangat kecil sekalipun.




ÂÂ


q
   ÂÂ




Pengendalian Korosi Retak Tegang




ÂÂ


Pengendalian korosi retak tegang dapat dilakukan dengan mengeliminasi salah satu dari tiga faktor berikut, yaitu : tegangan tarik, lingkungan kritis dan paduan yang rentan terhadap korosi. (1) Mengeliminasi tegangan tarik yang terjadi pada bagian kritis komponen atau peralatan dapat dilakukan dengan re-disain. Selain itu penurunan tegangan tarik sisa pada logam dapat dilakukan dengan perlakuan panas anil. (2)ÂÂ
Pengontrolan lingkungan dapat dilakukan dengan cara menurunkan
agent
oksidasi (yang membuat oksigen terlarut), menghindarkan adanya unsur-unsur kritis yang terdapat pada larutan, serta memberi unsur penghambat di larutan (inhibitors). Pelapisan (coating) juga merupakan salah satu cara untuk membatasi interaksi logam yang dilindungi dengan lingkungannya, namun cara ini kurang efektif karena tidak dapat menahan zat kimia yang agresif. (3) Memilih paduan yang memiliki ketahanan korosi terhadap lingkungan tertentu merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan. Selain itu merubah proporsi elemen pemadu pada paduan logam, sehingga memiliki kekuatan yang lebih tinggi atau merubah struktur metalurginya dapat meningkatkan ketahanan logam tersebut terhadap korosi retak tegang. (4) Penerapan proteksi katodik juga dapat dilakukan untuk pengendalian korosi retak tegang, namun cara ini dapat mempercepat terjadinya
hydrogen induced peachy. Oleh karena itu penerapan proteksi katodik hanya efektif dilakukan pada paduan yang memilki tegangan tinggi dan mengalami retak oleh mekanisme anodik.


ÂÂ


ÂÂ


q
   ÂÂ




Pengendalian Korosi Retak Fatik



ÂÂ

Korosi retak fatik (corrosion fatique smashing) dapat dikendalikan dengan beberapa cara, yaitu : (1) Menurunkan laju korosinya, dengan cara mengganti peralatan yang digunakan dengan paduan logam yang memiliki ketahanan korosi yang baik sehingga laju korosinya menjadi lebih lambat. (2) Membatasi interaksi logam dengan lingkungannya. Cara ini dilakukan dengan memberi unsur penghambat di larutan (inhibitors), atau membuat lapisan pelindung yang membatasi larutan korosif dengan permukaan logam. Pelapisan anoda tumbal seng (galvanis) untuk melindungi baja (yang bersifat katodik) dapat melindungi baja tersebut dari korosi retak fatik. (3) Melakukan re-disain terhadap peralatan yang digunakan untuk menurunkan atau menghindarkan terjadinya tegangan berulang pada peralatan tersebut. (4) Melakukan proteksi katodik adalah cara lain pengendalian korosi retak fatik yang dapat dilakukan, namun sebelum cara ini dilakukan harus dipastikan tidak mengakibatkan terjadinya
hydrogen induced slap-up, karena pada kasus tertentu penerapan proteksi katodik biasanya dapat menimbulkan
hydrogen induced cracking. (5) Mereduksi oksidator, dan (6) meningkatkan pH larutan.


ÂÂ


q
   ÂÂ





Pengendalian Retak yang Disebabkan oleh Hidrogen





ÂÂ


Mengeliminasi terjadinya keretakan yang disebabkan oleh hidrogen (hydrogen induced cracking) pada logam dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain : (1) Menghilangkan sumber hidrogen atau membatasi interaksi hidrogen dengan logam. Cara ini dapat dilakukan dengan tidak menerapkan pegendalian korosi proteksi katodik atau melakukan proses pelapisan galvanis, karena kedua hal tersebut dapat menimbulkan pembentukan hidrogen di permukaan logam. Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan pemberian unsur penghambat pada larutan (inhibitors) atau membuat lapisan inert pada logam, sehingga tidak terjadi interaksi antara logam dan hidrogen yang terdapat dilingkungannya. Khusus untuk baja karbon atau baja paduan rendah pengendalian terhadap terjadinya keretakan yang disebabkan oleh hidrogen dapat dilakukan dengan meningkatkan pH larutan, karena hal ini akan
menurunkan laju korosi dan derajat produksi hidrogen pada permukaan logam tersebut. (2) Menurunkan tegangan tarik. Penurunan tegangan tarik logam ini dapat dilakukan dengan memberikan perlakuan panas anil atau pembakaran (baking), karena proses tersebut dapat menghilangkan tegangan tarik sisa pada logam. Selain itu pada saat pemanasan akan terjadi peningkatan mobilitas hidrogen sehingga dapat
melepaskan hidrogen terlarut pada logam. (3) Menurunkan level tegangan. Penurunan level tegangan yang terjadi pada peralatan dapat dilakukan dengan merencanakan kembali peralatan yang digunakan sesuai dengan kondisi lingkungannya. Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan pemaduan kembali atau memberi perlakuan panas pada logam yang digunakan, sehingga logam menjadi lebih kuat dan kemampuannya terhadap tegangan yang terjadi relatif lebih baik. (4) Memilih paduan yang memiliki ketahanan yang lebih baik, seperti penggunaan paduan yang memiliki sel satuan
face centered cubic
(paduan nikel) sebagai pengganti baja ferritik, karena paduan nikel lebih tahan korosi dan
hydrogen induced cracking.

[/html]

Baca :   Penyebab Bab Berdarah Pada Anak 2 Tahun