Jalan Pegangsaan Timur No 56 Jakarta

Jalan Pegangsaan Timur No 56 Jakarta

Menelisik Siapa Pemilik Rumah Proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur No 56?

Menelisik Siapa Pemilik Rumah Proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur No 56?

info gambar utama

Proklamasi Kemerdekaan © Wikipedia


Belakangan ramai ceramah Ustaz Adi Hidayat yang menyinggung mengenai pemilik rumah Proklamasi sesungguhnya yang digunakan oleh Soekarno-Hatta untuk membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan pada 77 tahun yang lalu.

Ustaz asal Pandeglang, Banten menyebut bahwa rumah di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 tersebut ternyata milik seorang pengusaha Muslim keturunan Yaman yang mencintai Indonesia bernama Faradj bin Martak.

Dimuat dari
Panjimasyarakat.com, penulis Nabiel A. Karim Hayaze menyatakan bahwa Martak adalah pengusaha Arab yang memang memiliki beberapa gedung di Indonesia, salah satunya adalah gedung di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 ini.

Masih menurut Nabiel, ada sebuah bukti otentik berupa surat resmi yang ditandatangani menteri negara untuk NV Marba yang kemudian bertuliskan bahwa gedung tersebut dihibahkan kepada negara.

Kisah Para Bandit yang Tampil Melawan dalam Masa Revolusi Kemerdekaan

Dari momen itulah gedung tersebut memiliki beberapa riwayat kegunaan hingga akhirnya dipakai Soekarno dan tokoh lainnya untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945.

Pada dokumen kedua ada tulisan tangan Soekarno yang berterima kasih kepada Martak yang telah mengirimkan madu Arab untuk mengobati sakitnya. Nabiel yakin itu bukti otentik, karena NV Marba tidak mungkin berani memalsukan surat resmi negara.

Bahkan karena jasa saudagar tersebut, disebut oleh Nabiel, pemerintah Republik Indonesia kemudian memberikan ucapan terima kasih dan penghargaan secara tertulis pada tanggal xiv Agustus 1950 silam

Diragukan sejarawan

Namun sejarawan BRIN Asvi Warman Adam menilai narasi ini tidak cukup bukti untuk sampai pada kesimpulan tersebut. Dirinya bahkan meragukan rumah di Pegangsaan Timur itu hibah dari Martak.

Sementara itu terkait ucapan terima kasih Kementerian Pekerjaan Umum kepada Martak atas hibah rumah di Pegangsaan Timur 56 kepada pemerintah, baginya bukan menjadi bukti dari kepemilikan rumah.

Dirinya menduga rumah di Pegangsaan Timur 56 ini bisa saja kosong setelah Bung Karno pergi ke Yogyakarta pada 1946 sampai Desember 1949, kemudian dihuni oleh Marta. Lalu pada tahun 1950, dirinya menyerahkan kepada pemerintah.

Asvi malah menjelaskan versi lain bahwa rumah tersebut memang telah disiapkan Jepang untuk Bung Karno. Dalam versinya, Chairul Basri yang bekerja pada kantor propaganda Jepang, ketika itu diperintahkan mencari rumah yang berhalaman luas.

Kisah Para Bandit yang Tampil Melawan dalam Masa Revolusi Kemerdekaan

“Rumah Pegangsaan Timur 56 milik orang Belanda ditukar dengan rumah lain di Jalan Lembang. Jadi rumah itu memang disiapkan Jepang untuk Bung Karno,” ujarnya yang dimuat
Detik.

Sedangkan terkait dengan madu, Asvi mengakui bahwa Hurl Karno mengalami demam jelang membacakan teks proklamasi, namun dirinya tidak mengetahui apakah Martak memberikan madu kepada Soekarno saat itu.

Yudi Latif dalam buku
Mata Air Keteladanan
malah mencatat ketika itu Soekarno memang sedang demam menjelang proklamasi. Kemudian diberikan obat oleh dokter pribadinya yakni Dr Soeharto.

Rumah yang roboh

Pendapat dari sejarawan ini pun senada dengan wartawan senior Alwi Shahab yang menuturkan bahwa gedung tersebut merupakan bekas kediaman warga Belanda sebagai landhuis atau semacam
land house
pada abad ke 19.

“Rumah itu memiliki 12 kamar, sebuah garasi, serambi belakang, ruang depan, tengah, dan ruang makan,” tulisnya yang dimuat
Republika.

Ketika penjajah Jepang tiba pada Maret 1942, rumah itu salah satu yang mereka sita karena seluruh warga Belanda kala itu ditahan atau dipulangkan ke Eropa. Rumah itu kemudian ditempati oleh Bung Karno bersama istri dan putra sulungnya, Guntur.

Di tempat inilah, Presiden Soekarno melantik kabinet pertama RI, pada 4 September 1945. Kemudian rumah ini menjadi kosong saat Bung Karno dan keluarganya hijriah ke Yogyakarta saat Jakarta dikepung oleh NICA.

Alex dan Franz Mendur: Mencari Foto Proklamasi yang Masih Tercecer

Tempat itu juga pada Oktober 1946 menjadi saksi perundingan Linggarjati antara Indonesia-Belanda. Ketika Bung Karno hijriah, rumah ini jadi tempat kediaman Perdana Menteri Sutan Sjahrir hingga 1948.

Pada 1961 datanglah nasib akhir dari rumah tersebut. Kala itu Presiden Soekarno tiba-tiba memerintahkan pembongkaran gedung tersebut. Bung Karno pun punya alasan mengapa rumah tersebut dirobohkan.

“Saya lebih mengutamakan tempatnya bukan gedungnya. Sebab, saya taksir gedung Pegangsaan Timur itu paling lama hanya tahan 100 tahun, mungkin tidak sampai. Itu sebabnya saya suruh bongkar.” jelas Abah Alwi berdasarkan pengakuan Solichin Salam penulis biografi Bung Karno yang berjudul
Putera Fajar.

Grega Article Single

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Jalan Pegangsaan Timur No 56 Jakarta

Source: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2022/08/20/menelisik-siapa-pemilik-rumah-proklamasi-di-jalan-pegangsaan-timur-no-56

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *