Daerah Yang Terkenal Dengan Ukiran Atau Pahatannya

Daerah Yang Terkenal Dengan Ukiran Atau Pahatannya



3
menit

Indonesia memiliki banyak motif ukiran kayu yang cantik. Ukiran-ukiran asal Indonesia ini banyak diburu di mancanegara. Apa saja jenis ukiran tersebut?

Ukiran kayu tradisional merupakan salah satu produk khas Indonesia.

Selain memiliki kualitas yang bagus, ukiran yang berasal dari berbagai daerah di Republic of indonesia ini sangat beragam.

Pasalnya, tiap daerah di Indonesia memiliki keunikan dan ciri khas ukirannya masing-masing.

Kenali ukiran-ukiran asal Indonesia berikut ini, yuk!

6 Motif Ukiran Tradisional Khas Indonesia

one. Motif Ukiran Jepara

sumber: seputarfurniture.com

Jepara dinobatkan sebagai Kota Ukir Dunia atau The World Carving Heart.

Hal ini bukan tanpa alasan, Jepara memang terkenal dengan ukirannya yang khas dan mendominasi produk furnitur dan perabotan rumah tangga.

Jepara sendiri menjadi salah satu kota pengolah berbagai kayu hutan, seperti jati dan mahoni.

Salah satu desa di Jepara yang terkenal sebagai pusat ukiran dan pembuatan patung adalah Desa Mulyoharjo.

Motif yang paling khas dari ukiran Jepara adalah bentuk tumbuhan menjalar dengan tangkai kecil memanjang, daunnya lebar dan ujung daun yang runcing.

2. Motif Ukiran Bali

sumber: prelo

Ukiran Bali merupakan peninggalan kerajaan zaman dahulu dan telah mengalami kemajuan.

Ciri khas ukiran ini memiliki daun, bunga, dan buah yang berbentuk cembung dan cekung.

Umumnya diaplikasikan pada kayu jati, mojang gaung, dan cempaka.

Para seniman asal Bali juga menggunakan bahan batu padas sebagai media pahat untuk membangun tempat suci.

three. Ukiran Dayak

sumber: steller.co

Selain seni lukis tubuh, Suku Dayak juga memiliki seni pahat kayu yang disebut ukiran Dayak.

Ukiran tersebut biasanya diaplikasikan pada rumah betang, properti rumah tangga hingga perangkat kesenian.

Ukiran khas ini menggunakan motif alam, seperti tumbuhan dan satwa sebagai simbol kepercayaan.

Seni pahat Dayak ini memiliki peminatnya tersendiri baik di Indonesia maupun mancanegara, karena memiliki ciri khas dan bernilai etnik tinggi.

4. Motif Ukiran Asmat

sumber: detik travel

Selanjutnya ada ukiran khas suku Asmat yang merupakan salah satu seni rupa ikonik.

Ukiran ini menjadi media penghubung antara kehidupan dunia dan arwah nenek moyangnya.

Karya seni ini biasanya digunakan untuk kebutuhan ritual suku Asmat.

Mereka menamai hasil ukirannya dengan nama sesuai dengan orang yang baru meninggal.

Motif yang biasa digunakan antara lain:

  • Dayung
  • Perisai
  • Tifa
  • Busur
  • Dan masih banyak lagi

five. Ukiran Toraja

sumber: detik travel

Suku Toraja di Sulawesi kerap menggunakan ukiran pada seluruh rumah dan juga furnitur.

Motif ukirannya memiliki arti kalau setiap rakyat dari tanah Toraja harus saling membantu sesama, baik itu keluarga atau bukan.

Ciri khas ukiran ini dapat dilihat dari warna dasar yang kemerahan dan hitam yang melambangkan tanah Toraja, sedangkan untuk motif secara keseluruhan terdapat 67 jenis.

Salah satnya ukiran Pa’tedong yang berbentuk seperti seekor kerbau.

six. Motif Ukiran Aceh

sumber: dimasseptiyanto.wordpress.com

Ukiran Aceh juga sangat terkenal dan banyak ditemukan sebagai hiasan dinding.

Baik pada tiang-tiang maupun dekorasi di rumah.

Ciri utamanya adalah menggunakan motif flora dan tidak menggunakan motif fauna.

Ada dua jenis motif ukiran yakni tembus atau berlubang dan motif tidak tembus (pada permukaannya kayu saja).

Meski demikian, tidak ada makna khusus di balik ukiran asal Aceh ini.

***

Semoga informasi ini bermanfaat untuk Sahabat 99!

Jangan lupa membaca artikel menarik lainnya di Berita Properti 99.co Indonesia.

Ingin miliki properti masa depan di Bali, Yogayakarta, Surabaya atau kota lainnya?

Temukan hunian impianmu hanya di situs properti 99.co/id.


Merdeka.com –

Kota Jepara terkenal dengan kerajinan ukiran kayu. Kerajinan ukiran kayu di daerah itu memiliki sejarah yang panjang. Konon, kerajinan ukiran kayu di Jepara sudah ada sejak tempat itu masih menjadi bagian dari Kerajaan Kalinyamat.

Zaman berganti, salah satu tokoh perempuan Indonesia, Raden Ajeng Kartini, juga punya andil besar dalam pengembangan seni ukir di kota kelahirannya itu. Pada waktu itu, Kartini juga ikut mempromosikan kerajinan ukir kayu ke kota-kota besar di Tanah Air dan ke luar negeri agar para pengrajinnya terlepas dari jerat
kemiskinan.

Walaupun sempat mengalami pasang surut, kini kerajinan ukir kayu di Jepara terus bergeliat. Pada 2015, hasil dari kerajinan ukir kayu di sana diekspor ke 113 negara. Bahkan kini Jepara dijuluki “The World Carving Center” atau Kota Ukir Dunia. Berikut selengkapnya:

2 dari 6 halaman

©2020 Merdeka.com

Legenda tentang asal usul kerajinan ukiran kayu di Jepara terjadi di zaman Kerajaan Majapahit dan diceritakan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat. Alkisah dulunya ada seorang ahli lukis dan ahli ukir bernama Prabangkara.

Ia dipanggil oleh Raja Brawijaya untuk melukiskan istrinya dalam keadaan tanpa busana sebagai wujud cinta sang raja kepada permaisurinya. Namun Prabangkara harus melukis berdasarkan imajinasinya karena ia tak boleh melihat sang istri dalam keadaan tanpa busana.

Prabangkara berhasil menyelesaikan tugasnya dengan sempurna sampai seekor cicak jatuh di lukisan itu sehingga dalam lukisan itu sang istri raja memiliki tahi lalat. Saat melihat keberadaan tahi lalat pada lukisan itu, marahlah sang raja karena letak tahi lalat yang jatuh pada lukisan itu sesuai dengan kenyataan sebenarnya.

Dia kemudian diterbangkan dengan diikatkan pada layang-layang dan jatuh di daerah Belakang Gunung yang letaknya tak jauh dari pusat Kota Jepara. Di sanalah Prabangkara mengajarkan ilmu ukir kepada warga dan keahlian seni ukir masyarakat Jepara bertahan hingga kini.

3 dari six halaman

©kemenag.get.id

Pada zaman Kerajaan Kalinyamat, seni ukir di Jepara berkembang pesat. Waktu itu di daerah Belakang Gunung terdapat sekelompok pengukir yang bertugas melayani kebutuhan perkakas ukiran kayu untuk keluarga kerajaan.

Dilansir dari Republic of indonesia.go.id, semakin hari kelompok itu berkembang semakin banyak karena desa-desa di sekitar mereka juga belajar mengukir. Namun sepeninggal Ratu Kalinyamat, perkembangan mereka terhenti. Baru berkembang lagi saat era Kartini, seorang pahlawan nasional kelahiran Jepara.

4 dari vi halaman

©2020 Merdeka.com

Raden Ajeng Kartini turut berjasa dalam mengembangkan kerajinan ukiran kayu di kota kelahirannya. Melihat kehidupan para pengrajin ukir kayu yang tidak beranjak dari kemiskinan, Kartini memanggil beberapa pengrajin di Belakang Gunung untuk bersama-sama membuat ukiran seperti peti jahitan, meja kecil, figura, tempat perhiasan, dan aneka cinderamata lainnya.

Barang-barang ukiran itu selanjutnya dijualnya ke Semarang dan Batavia. Tak hanya itu, dia juga menawarkan kerajinan itu kepada teman-temannya di luar negeri.

Uang dari seluruh hasil penjualan ini diserahkan secara utuh kepada pengrajin untuk meningkatkan taraf hidup mereka.

five dari 6 halaman

©Jepara.get.id

Ukiran kayu di Jepara terdiri dari jenis yang bervariasi. Banyak masyarakat Jepara yang bisa mengukir untuk benda yang beragam seperti pada patung, pada pintu rumah, lemari, genteng, dan bisa pula mengukir relief.

Dengan beragam hasil karya itu, para pengrajin memiliki jiwa seni ditambah keahlian dan ketelatenan tinggi sehingga menghasilkan karya ukiran yang menarik dan enak dipandang mata. Selain itu mereka juga selalu mengikuti tren zaman sehingga motifnya tidak monoton sejak dari dulu.

Dilansir dari Wikipedia.org, bila dulunya ukiran-ukiran di sana banyak yang bermotif rumit (klasik), pada zaman modern ini para pengukir di sana lebih menonjolkan kesan minimalis sesuai dengan model yang digemari saat ini.

six dari 6 halaman

©Jepara.go.id

Meski sempat mengalami pasang surut, namun semakin ke sini kerajinan ukiran kayu di Jepara semakin mendunia. Karena itulah kota itu sampai dijuluki “The Earth Carving Center” atau Kota Ukir Dunia.

Pada 2011, terdapat 3.995 unit of measurement usaha di bidang kerajinan mebel dan patung ukir yang tersebar di 15 dari sixteen kecamatan. Usaha itu bisa sampai menyerap 52.443 tenaga kerja di sana.

Bahkan pada 2015, tercatat ada 113 negara tujuan ekspor ukiran kayu di Jepara dengan Amerika Serikat sebagai tujuan ekspor utama. Hal itulah yang semakin melekatkan Jepara sebagai Kota Ukir Dunia.

Daerah Yang Terkenal Dengan Ukiran Atau Pahatannya

Source: https://sepuluhteratas.com/sebutkan-nama-lima-daerah-di-indonesia-yang-terkenal-akan-kerajinan-ukiran-dan-pahatannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *